
Setelah beberapa menit kemudian sebuah mobil berhenti di depan gedung, pengawas langsung menghampiri mobil mewah tersebut.
Seorang pria yang turun dari mobil dan membukakan pintu belakang untuk atasannya turun dari mobil.
Pria tersebut adalah Richard Valentino bersama asistennya Mike.
"Tuan Valentino," sapa Patto dengan hormat.
"Hm..." jawab Richard dengan cuek dan langsung berjalan memantau situasi gedung yang sedang proses dibangunkan.
Richard ditemani oleh Mike dan Patto mengelilingi semua tempat di sana. sejumlah pekerja yang sedang mengerjakan tugas mereka masing-masing.
"Tuan Valentino, untuk saat ini tidak ada hambatan selama pembangunan," ucap Patto dengan sopan.
"Jika ada hambatan segera lapor!" perintah Richard tegas.
"Baik, Tuan," jawab Patto dengan hormat.
Mike yang memerhatikan sekeliling melihat seorang gadis dari jarak jauh. gadis itu sedang memakai topi kuning bangunan, serta wajahnya yang menempel semen dan pasir sehingga Mike tidak bisa mengenal gadis itu lagi.
"Ke-kenapa ada wanita di sana?" tanya Mike yang melihat gadis itu sedang mengangkat semen sebanyak tiga karung.
"Dia adalah pekerja yang baru masuk semalam, karena dia butuh uang dan kita juga butuh pekerja. oleh sebab itu saya menerimanya," jawab Patto dengan sopan.
Richard memandang ke arah gadis itu yang sedang bolak balik mengangkat semen membuatnya terbayang Viyone.
"Siapa wanita itu? dia sangat kuat," tanya Mike.
"Dia bekerja demi biaya ayahnya yang harus melakukan operasi transplantasi jantung, namanya adalah Viyone," jawab Patto.
"Viyone?" tanya Mike dengan merasa tidak percaya.
"Benar, jika saja gagal mengumpulkan biaya itu, maka pihak rumah sakit akan menolak melakukan operasi transplantasi jantung. gadis ini bekerja semalaman tanpa istirahat dan makan, bahkan nasi saja dia mengantar ke rumah sakit untuk ibunya. dari semalam dia sudah bekerja tanpa berhenti. dia sangat bersemangat dan tidak menyerah. dan hanya minum air mineral untuk mengisi perutnya," lanjut Patto.
Richard berjalan maju selangkah demi selangkah sambil melihat gadis itu yang sedang mengangkat semen. ia melihat Viyone yang biasa berpenampilan sederhana walau tanpa make up wajahnya tetap kelihatan manis, dan kini penampilannya berbeda drastis. seluruh pakaiannya telah dikotori oleh debu, semen dan pasir sehingga tidak bisa dikenali lagi.
Viyone tidak menyadari sama sekali Richard sedang memerhatikannya di jarak yang tidak jauh darinya. ia hanya fokus pada kerja.
"Sakit sekali pundakku, pinggang dan kaki tanganku," gumam Viyone yang sedang menepuk pundak dan pinggangnya. ia melanjutkan kerja sambil menahan sakit, ekspresi wajahnya yang sedang menahan sakit di lihat oleh Richard. Richard yang mengetahui masalah yang dihadapi oleh gadis itu ia menatap sendu ke arah gadis yang dia kenal sangat lincah dan lugu. tentu saja kegigihan Viyone telah membuat hati pria itu tersentuh.
Richard terdiam dan sambil mengepal kepalan tangannya dengan tatapan berkaca-kaca, tidak tahu apa yang ada di dalam pikirannya itu.
"Dokter mana yang menolak melakukan operasi transplantasi jantung tanpa dana?" tanya Richard.
"Dokter yang di rumah sakit dekat gedung pusat perbelanjaan, Tuan," jawab Patto.
"Patto, berikan dia 10.000 dollar!" perintah Richard.
"Baik, Tuan," jawab Patto.
"Mike, bawa dia menemuiku! aku menunggu di mobil!" perintah Richard.
__ADS_1
"Baik, Tuan," jawab Mike.
Patto berjalan menghampiri Viyone yang masih sedang bekerja.
"Viyone, berhentilah dulu!"
"Paman," sahut Viyone.
"Viyone, tadi bos besar datang dan berikan uang ini padamu," kata Patto yang memberikan selembar cek.
"10.000 dollar? banyak sekali."
"Nona Viyone," sapa Mike yang datang menghampirinya
"Eh....Tuan Mike, kenapa kamu bisa ada di sini?"tanya Viyone.
"Proyek ini adalah milik atasanku," jawab Mike.
"Atasanmu? kebetulan sekali," jawab Viyone.
"Tuan Valentino sedang menunggu Anda di dalam mobil," kata Mike dengan sopan.
"Aku masih banyak kerja."
"Tuan Valentino akan membantumu mengenai masalah yang kamu hadapi," ujar Mike.
"Baiklah, kalau begitu aku akan pergi menemuinya, setelah itu aku akan kembali bekerja," jawab Viyone.
Mike membukakan pintu mobil untuk persilakan Viyone masuk ke dalam.
"Nona, Silakan!"
"Tidak perlu! aku di sini saja. seluruh badanku kotor sekali."
"Masuk!" titah Richard.
"Richard, aku bisa berdiri di sini saja!"
"Masuk atau aku yang menarik mu masuk!" perintah Richard dengan tegas.
"Tapi aku masih sedang bekerja."
"Yang kau kerjakan itu adalah proyekku, dan sebagai atasan mu aku memerintah mu masuk sekarang juga!"
"Iya," jawab Viyone dengan menurut dan masuk ke dalam mobil bosnya itu. tidak lama kemudian mereka meninggalkan tempat itu.
"Kita mau ke mana?" tanya Viyone yang duduk di samping pria itu.
"Ke toko pakaian."
"Untuk apa?"
__ADS_1
"Bersihkan dirimu!"
"Apa aku tidak bekerja lagi? apa kamu memecatku?" tanya Viyone dengan cemas.
"Untuk biaya ayahmu aku akan membantumu tapi dengan syarat," jawab Richard.
"Kamu akan meminjamkan uangnya?"
"Bukan meminjam, tapi aku akan membantumu asal kau setuju dengan syaratku," ujar Richard.
"Syaratnya apa?"
"Pergi bersihkan dirimu dulu! setelah itu baru kita bicarakan!"
Tidak lama kemudian mereka tiba di depan toko pakaian.
Richard menarik lengan Viyone melangkah masuk ke dalam toko pakaian yang mewah dan hanya menjual pakaian yang harganya selangit. berbagai model pakaian wanita yang di gantung di dalam sana.
"Selamat datang, Tuan," sapa pelayan toko dengan ramah.
"Bawa nona ini pergi mandi, dan pilih pakaian yang sesuai untuknya!".
"Baik, Tuan."
"Nona, silakan!" ucap salah satu pelayan dengan membawa Viyone menuju ke kamar mandi.
Richard memilih beberapa pakaian wanita dan memberikan kepada pelayan di sana.
Setelah membersihkan dirinya Viyone di bawa Richard menuju ke sebuah restoran mewah, karena Richard mengetahui bahwa gadis itu sama sekali tidak makan dari semalam.
Richard sengaja memesan makanan lezat untuk gadis yang dia pilih sebagai istri ke limanya itu.
"Richard, katakan apa syaratnya!"
"Makan dulu!"
"Besok adalah hari terakhir, aku harus mengumpulkan uang untuk biaya papaku," ujar Viyone.
"Mike akan mengurus soal ini, jangan cemas, makan dulu!"
"Apa aku bisa membawa pulang untuk mamaku? mamaku belum makan siang."
"Kamu makan saja! nanti aku akan memesan pelayan membungkus nasi dan lauk untuk mamamu," kata Richard.
"Baik, terima kasih," ucap Viyone yang sambil melahap makanannya.
Richard makan bersama dengan Viyone yang telah menahan lapar semalaman. dengan begitu lahap dia makan sehingga sebutir nasi yang menempel di wajahnya.
Richard yang melihat butiran nasi serta kuah lauk itu yang menempel wajah Viyone, ia pun mengeluarkan sapu tangannya dan lap wajah gadis itu.
"Makan dengan perlahan! tidak ada yang berebutan denganmu," kata Richard yang lap wajah gadis itu.
__ADS_1