
"Hahahahaah...Viyone Alexander, kamu akan mengunakan cara apa untuk menyelamatkan orang tuamu?" tanya mantan jenderal dengan tertawa.
"Paman belum memberitahu siapa paman sebenarnya?" tanya Viyone yang merasa penasaran.
"Paman adalah mantan jenderal, Viktor Kinez."
"Paman Kinez, kenapa menahan papa dan mamaku? dan paman adalah mantan jenderal untuk apa menahan orang tuaku?"
"Kenapa kamu bisa merasa bahwa paman menahan orang tuamu?" tanya Kinez dengan senyum.
"Lihat saja papa dan mamaku sangat menurut denganmu, seakan-akan mereka berhutang dengan paman."
"Papa dan mamamu tidak berhutang pada paman, malah sebaliknya pamanlah yang berhutang padanya."
"Kalau paman berhutang pada mereka maka cepat lunaskan hutang paman, jangan membuang waktu!"
"Viyone, jangan bicara seperti itu dengan kakak," ujar Nerlin.
"Tidak apa-apa,"kata Kinez.
"Kalau tidak ada urusan lagi, kita sudah boleh pulang!" ajak Viyone yang pada orang tuanya.
"Viyone, kita belum bisa pulang, masih ada urusan di sini," kata Nerlin.
__ADS_1
"Urusan apa?" tanya Viyone pada Nerlin.
"Ada yang ingin kami katakan padamu," ujar Nerlin.
"Ada apa, Ma?"
"Sebenarnya kami adalah...," ucap Nerlin yang terhenti karena binggung ingin mengatakannya.
"Mama, kenapa diam?"
"Ehem...Viyone, begini, kami ingin memberitahumu bahwa kami ini bukan orang tua kandungmu," kata Mulfis dengan berterus terang.
"Papa, mari kita ke rumah sakit!" ajak Viyone yang menarik tangan Mulfis.
"Kenapa ke rumah sakit?" tanya Mulfis yang merasa heran.
"Jadi apa hubungannya dengan yang papa katakan tadi?"
"Tentu saja ada hubungannya, karena di saat papa masih terluka papa sudah dibawa pergi, tentu saja saraf otak papa ada yang tergeser," jawab Viyone.
"Viyone, benar kata papamu, kami ini bukan orang tua kandungmu," ujar Nerlin.
"Kalau kalian bukan orang tua kandungku, jadi aku anak siapa?"
__ADS_1
"Paman ini adalah papa kandungmu," jawab Mulfis yang menunjuk ke arah Kinez.
"Pa, Ma, jangan bercanda! itu tidak lucu sama sekali, selama sembilan belas tahun aku hidup bersama kalian, dan kini kalian mengatakan bahwa paman ini adalah papaku, dan besok bisa-bisa muncul papa yang lain."
"Ini bukan bercanda, paman ini adalah papa kandungmu, dirimu adalah putri kandungnya, papamu ini adalah mantan jenderal yang hampir terkorban saat peperangan terjadi,"jelas Mulfis.
"Aku adalah anak paman ini, sementara paman ini adalah jenderal, dan itu berarti aku adalah anak mantan jenderal. lelucon seperti apa ini? sudah lama aku menjadi anak seorang pengawas gudang dan kini tiba-tiba berubah menjadi anak jenderal. apakah besok aku akan menjadi anak *******?" ujar Viyone yang panjang lebar.
"Hahahaha...Viyone, betul kata mereka, dulu saat berperang aku sedang mengendongmu saat itu usiamu baru dua bulan. dan mama kandungmu meninggal karena tertembak. demi negara dan nyawamu aku hanya bisa menyerahkanmu kepada papa dan mamamu yang sekarang. demi keselamatan mu, mereka juga memilih pensiun. dan menjalani hidup biasa. saat itu aku juga menyangka akan mati. dipasukan kami ada musuh dalam selimut. sehingga banyak yang tewas. dan aku masih beruntung karena hanya kehilangan sebelah kakiku dan juga wajahku yang hancur," jelas Kinez.
"Papa dan mamamu yang sekarang adalah mantan kolonel dan letnan kolonel," kata Kinez.
Viyone terdiam saat mengetahui identitas dirinya yang sebenarnya.
"Viyone, maaf. selama ini kami tidak bisa berkata apa pun, karena untuk keselamatan mu. dan kini papa kandung mu sudah kembali oleh karena itu kamu harus tahu asal usulmu," ucap Mulfis.
"Lalu, apa lagi yang aku tidak tahu?" tanya Viyone.
"Musuh kita masih hidup, mereka menginginkan mu," jawab Kinez
"Untuk apa menginginkanku?"
"Karena dirimu memiliki sebuah benda terpenting yang selama ini menjadi incaran mereka," jelas Kinez.
__ADS_1
"Benda terpenting? apa itu? dan di mana benda itu tersimpan? apakah di tanganku, leherku, atau dalam tubuhku?" tanya Viyone yang tanpa berhenti.
"Didalam kepalamu," jawab Kinez, Mulfis dan Nerlin dengan serentak