
Setelah satu jam kemudian.
Tuan San membawa Mulfis dan Nerlin ke sebuah tempat, tempat itu adalah tempat tinggal yang besar dan luas serta di jaga oleh sejumlah orang yang berdiri di luar.
Saat tiba Mulfis pun memaksakan diri turun dari mobil dengan di papah oleh Nerlin dan tuan San.
"Hati-hati kolenel Mulfis!" ucap tuan San sambil memegang lengan Mulfis dan melangkah masuk ke dalam.
Saat melangkah masuk mereka disambut oleh sejumlah pria berbadan tinggi yang dengan secara hormat menyapa mereka.
"Selamat datang Kolonel dan Letnan Kolonel," ucap mereka yang memberi hormat kepada Mulfis dan Nerlin.
Mulfis dan Nerlin kebinggungan saat melihat suasana di saat itu, bukannya mendapatkan pelayanan buruk akan tetapi mereka malah mendapatkan rasa hormat dari mereka semua.
"Nerlin, siapa mereka?" tanya Mulfis dengan berbisik ditelinga istrinya.
"Tidak tahu juga, banyak yang mengincar kita sehingga tidak bisa membedakan lagi siapa mereka," jawab Nerlin.
"Tuan San, siapa kalian sebenarnya?"tanya Mulfis yang menoleh ke pria itu yang sedang berdiri disampingnya.
Tidak lama kemudian datang seorang pria tua yang cacat di kakinya dan duduk di kursi roda, wajah pria itu ditutupi oleh topeng. sehingga tidak bisa melihat wajah asli pria tersebut.
Mulfis dan Nerlin memperhatikan pria itu dan menatap heran, tentu saja suatu pemandangan yang menyedihkan, karena pria itu telah kehilangan kaki kanannya.
__ADS_1
"An-anda siapa ya? kenapa ingin bertemu dengan kami?" tanya Mulfis dengan heran.
Tuan San yang melihat atasannya di sana ia pun menghampirinya.
"Tuan, mereka hampir dibawa pergi oleh pihak musuh," ujar San dengan sopan.
"Apa kami boleh tahu kalian kelompok dari mana?" tanya Nerlin.
Pria cacat itu kemudian melepaskan topengnya, Mulfis dan Nerlin yang melihat wajah pria itu merasa heran dan juga asing. wajahnya penuh dengan luka bakar sehingga tidak bisa dikenali lagi.
"Tu-tuan, siapa Anda? dan kalau kalian sama dengan mereka yang datang sebelumnya maka kalian salah besar. karena apa yang kalian inginkan kami juga tidak memilikinya," ujar Mulfis dengan tegas.
"Benar, orang yang kalian inginkan sudah meninggal dan tidak akan hidup kembali, mengenai rahasia yang kalian sebut kami juga tidak ada. cepat biarkan kami pergi kalau tidak, maka bunuh saja kami!" ucap Nerlin dengan tegas.
"Jangan membuang waktu lagi! lagi pula cepat atau lambat kami pasti akan mati juga, kan? kalau begitu bunuh saja sekarang," kata Mulfis dengan tegas.
"Kenapa dia tidak ada reaksi? apakah dia mengerti bahasa kita?"tanya Mulfis dengan berbisik di telinga istrinya.
"Mungkin tidak," jawab Nerlin dengan nada kecil.
"Lalu, kita harus mengunakan bahasa apa dengan mereka?"
"Bahasa manusia saja," jawab Nerlin dengan asal-asalanya.
__ADS_1
Prok...prok...prok...prok...
Tepukan tangan pria cacat itu yang sedang menatap mereka berdua.
"Kenapa kamu bertepuk tangan?" tanya Mulfis yang merasa aneh.
"Negara memiliki kalian adalah suatu kebanggaan," ucap pria dengan senyum.
Saat mendengar suara pria itu, Mulfis dan Nerlin langsung terdiam sejenak.
"Kolonel Mulfis, Letnan kolonel Nexa, kita akhirnya bertemu lagi setelah sekian lama kita terpisah," ucap pria itu.
Mata Mulfis dan Nerlin berkaca-kaca saat mendengar suara pria itu yang tidak asing bagi mereka.
"Kau adalah dia....?" tanya Muflis dengan terhenti.
"Akhirnya kamu muncul dan kami mengira dirimu sudah meninggal," ucap Nerlin yang tidak menyangka.
"Demi negara dan anak itu, aku harus bertahan walau harus kehilangan kaki dan wajahku," katanya yang menetes air mata karena mengingat pergorbanannya yang di masa lalu.
"Selamat kembali!" ucap Mulfis dan Nerlin dengan serentak dan memberi hormat, mereka mengeluarkan air mata saat melihat pria yang mereka kenal ternyata masih hidup dan menjadi cacat.
"Senang bertemu dengan kalian, anak itu memilih rahasia yang selama ini tidak diketahui oleh orang lain. jika saja sampai jatuh ke tangan orang lain, maka nyawanya akan terancam, selain itu benda itu juga akan jatuh ke tangan orang lain. demi nyawa anak itu dan benda yang ada pada dirinya, aku harus bertahan hidup walau harus menderita," ucap pria itu yang menetes air mata.
__ADS_1
"Selama ini dirimu telah menderita, dan tidak bisa bebas lagi seperti dulu. hari-harimu penuh dengan penderitaan," kata Mulfis.
"Kita sama, kalian telah melindungi anak itu selama ini, ini sama saja kalian sedang melindungi negera," ujarnya dengan senyum.