
"Siap, Paman,"jawab Viyone dengan girang.
Sore itu Viyone langsung bekerja mengangkat semen. tenaga yang dia miliki telah melebih tenaga pria, ia melakukan dengan cepat. pekerja lainnya menaikkan ke pundak kiri dan kanan Viyone, kemudian dengan langkah cepat ia mengantar ke tempat pekerja yang sedang mengaduk semen. mereka bekerja hingga malam tanpa berhenti karena mengejar waktu.
Saat malam tiba waktu istirahat makan Viyone di beri sekotak nasi yang di beli oleh pengawas untuk para pekerja.
"Viyone, ambil kotak nasi ini dan air mineral. istirahat makan sebentar. nanti baru lanjutkan lagi!" kata pengawas itu yang memberikan nasi dan minuman botol kepada Viyone.
"Terima kasih, Paman," ucap Viyone.
Viyone lalu duduk di bebatuan dan sudah merasa lapar, lalu ia membuka kotak nasi itu ia melihat ada ayam goreng dan sayur. saat ingin makan ia pun teringat ibunya yang sedang menjaga ayahnya di rumah sakit.
"Mama pasti belum makan," batin Viyone yang melihat nasi kotak itu.
Viyone yang ingin makan akhirnya tidak jadi dan menutup kembali kotak nasi itu. kemudian ia menghabiskan air mineral untuk mengisi perutnya.
"Paman, apa aku bisa permisi sebentar? untuk mengantar nasi ini untuk mamaku!"
"Viyone, apa kamu tidak makan?" tanya pengawas itu.
"Paman, mamaku pasti belum makan. soalnya mama sedang menjaga papaku. jadi, aku ingin mengantar makanan ini untuk mamaku," jawab Viyone.
"Baik, pergilah!" jawab pengawas yang merasa iba terhadap gadis itu.
"Terima kasih, Paman. aku akan segera kembali setelah mengantarnya," ucap Viyona dengan menunduk.
Viyone langsung berlari dengan cepat menuju ke rumah sakit demi mengantar nasi untuk ibunya, ia rela menahan lapar dan tidak makan agar bisa hemat uang untuk biaya ayahnya itu. penampilan Viyone yang dipenuhi pasir dan semen yang menempel seluruh rambut dan wajahnya tidak membuat dia merasa malu walau dilihat oleh semua orang yang di jalan itu.
Setelah lima belas menit Viyone sampai ke rumah sakit dan langsung menemui ibunya di kamar ayahnya itu
Klek.
__ADS_1
"Ma," panggil Viyone yang dengan suara pelan.
"Viyone, kamu dari mana saja? dan kenapa kamu bisa begitu kotor? banyak pasir di bajumu dan lihatlah wajah dan rambutmu ini!" tanya Nerlin yang khawatir.
"Mama, aku sudah mendapatkan kerja, dan aku harus lembur. dan sekarang aku mengantar nasi untuk mama. mama pasti sudah lapar, kan? cepat makan!" kata Viyone yang menyerahkan makanan itu kepada Nerlin.
"Viyone, apa kamu sudah makan?"
"Mama, paman sana sangat baik padaku, dia memberikan dua kotak nasi untukku karena tenagaku kuat, dan aku sudah makan. mama cepat makan. aku pergi dulu ya!" pamit Viyone yang melangkah keluar dari kamar itu.
Viyone lagi-lagi berlari menuju ke tempat kerjanya. masa istirahat makan hanya setengah jam saja. ia sama sekali tidak memiliki waktu untuk istirahat.
"Mulfis, kau harus bertahan! putri kita sangat berbakti pada kita. jangan sia-siakan usaha dia! aku bisa menebak di mana dia bekerja. dia rela bekerja kasar demi biaya operasi. kau harus bertahan demi putri kita," ucap Nerlin pada suaminya.
Setelah kembali dari rumah sakit Viyone melanjutkan pekerjaannya tanpa istirahat, walau merasa kelelahan karena berlari pulang pergi memakan waktu selama setengah jam, akan tetapi dia tetap bertahan.
Malam itu mereka semua bekerja sepanjang malam, sebagian pekerja menganti shift, sementara Viyone bekerja tanpa berhenti dengan berharap mendapat upah lebih.
"Papa, tunggu aku pulang membawa uang untuk biaya operasi, aku pasti bisa mengumpulkan uang itu. aku pasti bisa," batin Viyone yang sedang memindahkan bata.
"Papa, tunggu aku! aku pasti bisa menyembuhkanmu! papa harus cepat sembuh agar bisa mengajarku jurus-jurus lainnya," gumam Viyone yang memberi semangat pada diri sendiri.
Pagi hari.
Cuaca cerah matahari telah terbit. di sepanjang malam Viyone hanya mengisi perutnya dengan air mineral untuk menahan lapar.
"Viyone, ini upah mu semalam!" kata pengawas yang membayar upah kepada Viyone.
"Terima kasih, Paman," ucap Viyone dengan menunduk.
"Hah..upah yang diberikan paman lebih, apakah karena aku bekerja sepanjang malam? baiklah, aku harus lebih giat lagi. tapi tetap tidak cukup walau pun begitu. aku juga harus cari cara untuk bisa meminjam dengan bos papa. agar bisa mencukupi biaya operasi itu," batin Viyone.
__ADS_1
Viyone mengeluarkan handphone miliknya dan menekan nomor tujuan.
"Hallo, Viyone," sapa seseorang dari seberang sana.
"Paman, papa masuk rumah sakit, dan harus melakukan operasi transplantasi jantung, butuh biaya1,380.000 dollar. Paman, apa aku bisa meminjam dulu? aku akan bekerja dengan giat dari siang sore dan hingga malam untuk melunasi hutang!"
"Viyone, 1,380.000 dollar bukan jumlah yang kecil, paman hanya bisa membantu 500 dollar. kau tidak perlu membayarnya lagi. anggap saja ini adalah bonus untuk mu yang selama ini bekerja di sini."
"Terima kasih, Paman."
Sesaat kemudian mereke memutuskan panggiannya.
"500 dollar + 140 dollar uang kambing kemarin dan tabunganku masih ada 300 dollar + upahku 2.040 dollar. total semua 2.980 dollar. masih kurang 1.377.020 dollar. masih kurang banyak ke mana aku harus mencarinya lagi!" gumam Viyone yang sedang menghitung kekurangan uang itu.
Walau masih banyak kurangnya biaya operasi tidak membuatnya putus saja, ia tetap bekerja terus tanpa berhenti. walau sebenarnya ia merasa sakit pada badannya dan juga lelah akan tetapi semangat dan kegigihannya membuat dia bertahan.
"Papa, tunggu aku pulang! aku pasti akan menyelamatkanmu!" gumam Viyone dengan sambil mengusap air mata, ia mengangkat semen berulang kali dengan memaksa untuk melanjutkan bekerja.
"Patto, lihatlah gadis itu! dia sudah bekerja semalaman hanya demi upah yang tidak seberapa. sebenarnya tidak akan cukup untuk mengumpul biaya dengan bekerja di sini. walau setahun juga tidak akan bisa. apa lagi ini hanya dua hari mana mungkin bisa tercapai," kata salah satu pekerja pada pengawas.
"Dia sangat kasihan, hanya mengandalkan dia mencari uang mana mungkin bisa berhasil. demi hemat uang dan ibunya dia tidak makan dan bekerja terus. aku hanya khawatir dia akan pingsan," ujar pekerja lainnya.
"Patto, bagaimana jika nanti bos besar datang coba sampaikan kesulitan gadis itu, uang segitu seharusnya tidak masalah baginya.".
"Bos besar tidak banyak bicara, setiap dia datang hanya memantau. setelah itu dia pergi. aku tidak tahu bagaimana membuka mulut," jawab Patto.
"Pergorbanan gadis ini sangat berat dan mengharukan, masih muda sudah harus bekerja kasar seperti ini."
Semangat Viyone mengharukan para semua pekerja dan pengawas di sana. mereka merasa iba terhadap Viyone yang bekerja hingga tanpa makan apa-apa, rela menahan lapar dan tidak tidur sama sekali.
"Cepat lanjutkan kerja kalian! bos besar sudah dalam perjalanan ke sini!" perintah Patto.
__ADS_1