
Bruk...
"Aarrghh....," jeritan pria itu yang di banting oleh Viyone.
Buk..
"Aarrghh..." jeritan pria asing itu yang mendapat pukulan keras dari Mulfis.
"Hahaha...aku sudah mengalahkan lima orang. putriku, sisanya untukmu," ucap Mulfis yang berhenti bertarung setelah mengalahkan lima orang.
"Papa durhaka, masa membiarkan aku melawan mereka sendirian," ketus Viyone yang sedang melayangkan pukulan ke wajah mereka dan membanting lawannya sehingga tidak sadarkan diri.
Bruk...
"Aaarrghh....," jeritan lawannya yang kesakitan
"Pukulan yang bagus dan tendangan yang kuat," teriak Mulfis yang berada di tepi jalan sambil melihat putrinya yang sedang bertarung.
"Hiaaaaak," teriakan Viyone yang meninju hidung lawannya.
Buk..
"Aaarrghh....," jeritan pria itu yang langsung tumbang.
"Hajar terussss....tendang ke kanan!" teriak Mulfis.
"Hiak...." teriak Viyone yang menendang lawannya di sebelah kanan.
Bruk..
"Aarrghh...." jeritan lawannya yang kesakitan.
"Serang belakang!" teriak Mulfis pada putrinya
"Rasakan pukulan ayam," seru Viyone yang melayangkan pukulan ke kepala lawannya sehingga membuat lawannya langsung tumbang dan tidak sadarkan diri.
Buk.
"Pukul ke kiri!" teriak Mulfis lagi.
"Rasakan pukulan babi," teriakan Viyone yang langsung memukul wajah lawannya.
Buk...
"Aarrrghh...." jeritan lawannya yang langsung tergeletak.
"Serang depan!" teriak Mulfis.
"Rasakan pukulan monyet," teriak Viyone yang menyerang lawannya.
Bruk....
"Aarrghh....," jeritan lawannya yang kesakitan dan akhirnya tidak sadarkan diri.
"Bagus...bagus..." teriak Mulfis.
"Papa, kenapa tidak membantuku?" tanya Viyone dengan kesal.
__ADS_1
"Papa sedang memberimu kesempatan menunjukan kehebatanmu."
"Papa hanya malas," ketus Viyone.
"Viyone, bukankah kau sudah berhasil? lihatlah mereka seperti ikan tanpa air! tidak berdaya sama sekali. lagi pula mereka bukan tandinganmu."
"Papa, sebenarnya mereka siapa?"
"Tidak tahu," jawab Mulfis sambil mengeleng kepalanya.
"Apa papa perk*sa anak gadisnya?"
"Jangan sembarangan bicara! mana mungkin papa melakukan hal yang tidak bermoral."
"Lalu, apa papa mengoda istri orang?"
"Tidak ada, jangan menebak sembarangan!" jawab Mulfis yang melangkah pergi
"Papa, kenapa mereka sepertinya mengenalmu? siapa mereka sebenarnya?" tanya Viyone yang mengejar langkah ayahnya itu.
"Sudah papa katakan tidak mengenal mereka, mungkin mereka hanya salah sasaran saja."
"Tidak mungkin, karena papa tidak bertanya mereka. jadi, papa pasti sudah mengenal mereka."
"Jangan bertanya lagi! biarkan saja. mari kita pulang!"
"Sore nanti papa akan mengajarmu jurus harimau mencakar mangsa," kata Mulfis yang merangkul pundak putrinya.
"Benarkah?" tanya Viyone dengan girang.
"Kalau begitu aku bisa mencakar setiap orang yang mencari masalah denganku."
"Sekian lama akhirnya mereka muncul, hal yang paling ku khawatirkan akhirnya kembali terjadi," batin Mulfis.
Malam hari.
"Mulfis, apakah kau terluka?" tanya Nerlin yang bersama dengan suaminya di halaman.
"Tidak, aku masih bisa melawan karena ada Viyone. sudah tua dan tidak kuat lagi seperti dulu."
"Delapan belas tahun akhirnya mereka mengetahui kita di kota ini," ucap Nerlin dengan khawatir.
"Walau Viyone bisa bertarung akan tetapi jika berhadapan dengan yang ahli ilmu bela diri, aku masih mencemaskan dia," kata Mulfis.
"Orang itu masih tetap mencari keberadaan kita walau sudah begitu lama," ucap Nerlin.
"Tujuannya ingin membunuh kita dan membawa pergi Viyone."
"Bagaimana kalau kita pindah ke tempat lain!" ajak Nerlin.
"Tidak sempat, mereka sudah ada di kota ini, jumlah mereka pasti tidak sedikit," jawab Mulfis dengan mengerut dahi.
"Bagaimana caranya kita menyembunyikan anak itu?" tanya Nerlin dengan khawatir.
"Tidak bisa di sembunyikan lagi, dia sudah dewasa. bila saatnya tiba dia harus mengetahui semuanya," jawab Mulfis.
"Aku merasa tidak tega jika dia mengetahui kebenarannya, aku lebih berharap dia hidup seperti ini. tanpa beban pikiran dan bebas," ujar Nerlin yang merasa khawatir.
__ADS_1
"Aku sependapat denganmu, hanya saja semua ini di luar kendali kita. kita tidak bisa terlalu berharap karena ke mana pun kita pergi tetap saja bisa di temukan. semakin kita bersembunyi di tempat yang sepi akan semakin membahayakan kita," jawab Mulfis.
"Iya, benar katamu."
Seminggu kemudian.
Keluarga besar Valentino.
Richard Valentino telah kembali dari paris setelah menerima perawatan di bagian lukanya, saat dirinya melangkah masuk ke rumah yang serba mewah ia di sambut oleh empat wanita cantik dan elegan dengan begitu ramah. mereka membantu melepaskan sepatu, Jas luaran serta mengambil tas kerja milik pria itu. empat wanita tersebut adalah istri Richard Valentino yang di nikahinya dalam setahun. empat orang istrinya itu memikili sifat yang saling dengki antara satu sama lain. mereka hanya akur saat di depan suami dan mertua mereka.
"Richard, akhirnya kamu pulang. kamu berhasil mendapatkan proyek besar. selamat untukmu," ucap seorang wanita yang berambut putih pendek.
"Apa kabar, Ma," ucap Richard yang memberikan pelukan hangat pada ibu tercintanya.
"Mari duduk!" ajak sang ibunya dengan senyum ramah.
Saat mereka sedang duduk di ruang keluarga empat orang istri Richard juga ikut duduk bersama. hanya saja mereka duduk berhadapan dengan suaminya.
"Setiap keluarga berbisnis kau pasti berhasil mendapatkan keuntungan besar," ujar ibunya yang bernama Loza Jennifer.
"Ma, ambisi ku sangat tinggi, aku ingin bisnis keluarga menjadi yang terbesar di swedia."
"Anakku, kita tidak kekurangan uang. kita hanya kekurangan pewaris."
"Mungkin belum saatnya," kata Richard dengan singkat
"Dalam setahun kamu sudah menikah empat kali kenapa semua istrimu tidak juga hamil?"
"Mungkin saja belum jodoh," jawab Richard dengan wajah datar.
"Mama bukan tidak tahu, jangan terus begini. dirimu adalah pengusaha besar, pemilik King Star Group tidak boleh tanpa pewaris."
"Baiklah, aku akan menikah lagi setelah menemukan wanita yang cocok untuk menjadi menantu Valentino," ujar Richard yang bangkit dari tempat duduknya.
"Setelah kau menikah ke lima kali apakah kau yakin istrimu itu akan hamil?"
"Tergantung!" jawab Richard dengan wajah datar, karena selama ini ia memang jarang tersenyum.
Empat orang istri Richard merasa kesal di dalam hati karena suaminya berniat menikah lagi untuk ke lima kali dalam setahun.
"Dalam setahun kamu menikah lima kali, jika di ketahui oleh orang luar tidak tahu apa yang akan di katakan oleh mereka tentang kita."
"Ini tidak ada masalah sama sekali dan tidak akan ada yang tahu aku sudah menikah, jika ada yang berani mengumbarnya aku akan memotong lidah mereka," kata Richard dengan sengaja mengancam empat istrinya itu.
"Apa kamu sudah memiliki calon?" tanya Loza.
"Sudah, setelah aku menemui dia maka dia akan menjadi menantumu."
"Siapa gadis itu? dari keluarga besar mana?"
"Mama, kita tidak perlu peduli pada latar belakangnya. bukankah yang mama inginkan hanya pewaris? jika dia bisa melahirkan bukankah ini lebih dari cukup?"
"Jika dia bisa melahirkan, mama akan memberikan dia dua puluh persen saham King Star Group dan juga satu rumah mewah atas nama dia," jawab Loza.
Ucapan Loza membuat empat istri Richard semakin cemburu, walau mereka adalah istri sah Richard Valentino akan tetapi mereka tidak memiliki hak untuk bersuara atau membantah ketika suami mereka ingin menikah lagi. Richard menikahi mereka semua tanpa pesta dan tidak ada yang tahu. hanya menangani surat pernikahan, Richard memang tidak suka jika kehidupan pribadinya menjadi topik bagi para media. oleh sebab itu dia menyembunyikan soal pernikahannya.
__ADS_1