
"Jurus jepit kepala," teriak Viyone yang menjepit kepala lawannya dengan ke dua kakinya lalu memutarnya.
Krek...
"Aarrghh...," jeritan lawannya yang patah tulang leher dan kemudian tewas di tempat.
"Gadis ini memang putrinya, gerakan yang lincah, tenaganya melebihi seorang pria," batin pria itu.
Delapan pria asing itu telah tumbang di kalahkan oleh Viyone, ada yang patah tulang, dan ada yang tewas.
Pria yang sedang memerhatikan setiap gerakan Viyone, ia kemudian ikut menyerang gadis itu.
Serangan tangan ke arah Viyone, Viyone mengelak sambil menahan serangan lawannya yang memiliki tenaga yang melebihi dirinya.
Mereka berdua beradu tangan dan kaki, tentu saja sangat sulit bagi Viyone yang kalah tenaga dari pria itu.
Saat Viyone berusaha menangkis setiap serangan lawannya, ia harus menahan sakit pada tangan dan kakinya yang sedang beradu dengan pria itu.
Setelah bertarung selama beberapa menit pria itu dan Viyone saling mengeluarkan jurus telapak tangan.
Buk...
"Aauuhkkk...," jerit Viyone yang memundurkan langkahnya dan merasa kesakitan.
"Selama hidupku baru kali ini bertemu dengan lawan berat, aku harus mencari cara agar bisa lolos darinya," batin Viyone.
"Viyone Alexander, lebih baik kau menurut saja padaku. ikut aku pergi kau akan tetap hidup dan orang tua mu juga tidak akan dalam bahaya."
"Aku bukan anak kecil lagi, kau tidak perlu berbohong padaku. setelah aku ikut denganmu maka kau akan menggunakan ku untuk mengancam orang tuaku," ketus Viyone.
"Ha-ha-ha-ha...gadis kecil, mana mungkin aku melakukan itu. aku mengenal orang tuamu juga. kami adalah teman."
"Teman kepalamu, kalau teman kenapa mengunakan cara ini untuk menjemputku. dasar tua tidak punya akal," ketus Viyone.
"Keluarkan saja semua jurusmu? apa kau juga akan mengunakan pistol untuk mengancamku? keluarkan saja!"
"Melawanmu tidak perlu mengunakan pistol sama sekali."
"Mari sini aku tidak takut!" tantang Viyone yang tanpa merasa gemetar.
"Hiaaak...," teriak pria itu yang menyerang ke arah Viyone.
Viyone yang tanpa ragu juga menyerang pria itu dengan melompat tinggi dan ingin melayangkan pukulan ke arah kepala lawannya itu. saat di serang pria itu langsung membalas pukulan ke arah Viyone yang ingin menyerangnya.
Bruk...
"Aargrhh...," jeritan Viyone terkena pukulan keras sehingga dirinya terlempar jauh. saat ia terlempar seseorang menyambutnya sehingga ia tidak terhempas ke jalan.
"Sakit sekali," rintihan Viyone yang tanpa melihat ke arah orang yang menyelamatkan dia.
"Apa kau terluka?" tanya pria yang menyelamatkan dirinya.
"Hah....Tuan Kambing, kenapa dirimu ada di sini?" tanya Viyone yang merasa penasaran.
"Aku hanya lewat sini," jawabnya dengan alasan sambil menurunkan gadis itu.
__ADS_1
"Siapa dia?" tanya Richard yang melepaskan kancing lengan bajunya.
"Tidak tahu juga, dia ingin membawaku dengan paksa," jawab Viyone sambil memegang perutnya yang masih sakit.
"Kau berasal dari mana, anak muda?" tanya pria itu.
"Kau tidak berhak untuk bertanya," ketus Richard yang melipat ujung lengannya.
"Kelihatannya kau ingin ikut campur, aku akan menghajarmu dan kemudian membawa dia pergi," ujar pria itu yang melayangkan pukulannya ke arah Richard, Richard melawan serangan pria itu. serangan demi serangan dari pria itu yang nekad ingin mengalahkan Richard yang mampu menahan serangannya.
Sementara Viyone yang masih harus bertarung dengan yang lain sambil menahan sakit.
Dia berusaha menendang dan membanting lawan-lawannya satu-persatu.
Bruk...
"Aarrggh...," jeritan mereka yang kesakitan.
Pertarungan sengit di antara Richard dengan lawannya, mereka sama-sama bergerak cepat dan lincah, Richard mampu membalas setiap serangan cepat dari lawannya itu.
Richard lalu membalikkan badannya dengan cepat dan menendang ke arah pria itu dengan kuat.
Saat menerima tendangan dari Richard, pria itu langsung terhempas jauh ke jalan.
"Hajaaarr lagiiii...," teriakan Viyone dengan semangat.
"Tendangan yang bagus."
"Bukan tendanganku yang bagus, tapi kau yang lemah," ketus Richard.
"Kenapa kau banyak bertanya? kalahkan tuan kambing jika kau hebat," teriak Viyone yang sengaja memanas-manaskan pria itu.
Pria yang masih belum di ketahui identitasnya langsung maju menyerang Richard, Richard yang melihat lawannya menuju ke arahnya ia langsung membungkuk dan meninju ke bagian perut dengan sekuat tenaganya.
Bruuk....
"Auhhkkk," jeritan lawannya yang terlempar jauh.
"Wah...hebat...hebat...," teriak Viyone dengan girang.
"Apa lukamu masih sakit?" tanya Richard yang menoleh ke arah gadis itu
"Tidak sakit lagi, terima kasih karena sudah membantuku," jawab Viyone.
"Anggap saja kita sudah saling tidak berhutang," kata Richard.
"Kita memang saling tidak berhutang, sejak kapan aku berhutang padamu?" tanya Viyone.
"Saat itu kau menyelamatkanku, anggap saja aku sudah membayarnya," kata Richard.
"Ternyata itu, aku juga tidak mengingatnya lagi," ucap Viyone.
"Aku pulang dulu!" pamit Viyone yang ingin melangkah pergi.
"Sebentar!"
__ADS_1
"Ada apa?"
"Apa kau sering keluar dengan penampilan begini?" tanya Richard yang melihat pakaian Viyone.
"Tidak juga, hanya hari ini saja, kenapa?"
Richard memandang penampilan wanita itu dari atas hingga ke bawah.
"Kenapa kau melihat bajuku? jangan mengatakan kau menyukai bajuku," ucap Viyone yang menjauh dari pria itu.
"Apa kau tidak merasa sangat aneh dan kolot jika keluar dengan mengunakan pakaian ini," ujar Richard yang melepaskan jas luaran dan melempar ke arah gadis itu sehingga menutupi kepalanya.
"Untuk apa kau melepaskan jasmu?" tanya Viyone yang menurunkan jas dari kepalanya.
"Pakai jas itu!" ucap Richard yang melangkah pergi.
"Untuk apa aku memakai jas ini? ini kan jas pria, aneh-aneh saja," gerutu Viyone yang melihat jas itu.
"Tunggu! Tuan Kambing, jangan pergiii," teriak Viyone yang mengejar langkah Richard.
"Sebentar! sebentar! ini aku kembalikan padamu, untuk apa aku harus memakai jasmu? kalau ketahuan mama ku, aku pasti akan di kejar lagi oleh pisau sayur," kata Viyone yang memberikan jas itu pada Richard dan kemudian melangkah pergi.
Richard hanya diam menatap gadis itu yang melangkah pergi.
"Dasar ceroboh," gumam Richard.
Tempat tinggal Viyone.
"Mama, aku pulang...," teriak Viyone yang mengema satu rumah.
"Untuk apa kau berteriak? kau kan sudah masuk ke dalam halaman."
"Mama, tadi papa hampir di serang dan saat aku pulang aku juga di serang," ujar Viyone yang menyentuh bagian perutnya.
"Apa kamu terluka? mereka ada menyentuhmu?" tanya Nerlin dengan khawatir.
"Perutku sakit, Ma. pria itu sangat kuat sekali aku bukan tandingannya. dan untung saja ada kambing yang menyelamatkanku," jawab Viyone.
"Ka-kambing?" tanya Nerlin dengan heran.
"Iya, kambing."
"Kambing siapa yang begitu hebat menyelamatkanmu?" tanya Nerlin.
"Aku tidak bertanya dia tinggal di mana," jawab Viyone.
"Lalu apa dia sudah pergi?" tanya Nerlin.
"Sudah, Ma. dia sangat dingin. wajahnya walau tampan tapi tidak ada senyuman sama sekali," jawab Viyone.
Tampan? Viyone, jangan bercanda! kambing mana mungkin bisa senyum dan mana ada kambing yang wajahnya tampan," ujar Nerlin yang tidak nyambung.
"Maksudmu kambing itu adalah jantan?"tanya Nerlin yang merasa penasaran.
"Dia adalah seorang pria,".jawab Viyone.
__ADS_1
"Viyone, kalau kambing adalah jantan, kalau manusia baru pria," kata Nerlin.