Istri Ke Lima Untuk Pemuas

Istri Ke Lima Untuk Pemuas
Sekelompok Asing


__ADS_3

Mereka berempat melangkah masuk ke kamar yang di mana tempat Mulfis dirawat..


Klek..


Saat membuka pintu mereka langsung menodong pistol ke arah Mulfis dan Nerlin.


Mulfis dan Nerlin yang melihat mereka merasa terkejut dan saling memandang.


"Kolonel Mulfis, Letnan kolonel Nexa, tidak ku sangka kita bertemu lagi," ucap salah satu pria bersenjata itu.


"Hebat sekali, begitu cepat kalian bisa menemukan kami," kata Mulfis dengan berbaring di atas ranjang.


"Kolonel Mulfis, bos kami mengatakan kalian sangat hebat semasa muda dulu. oh iya...aku masih ingat, kalian bertiga adalah pahlawan negara yang sehidup semati, akan tetapi kalian masih hidup, walau teman kalian itu sudah meninggal."


"Sehebat apa pun itu sudah berlalu, karena mereka sudah tua, dan tidak mampu lagi melawan kita, bukan?"


"Kalian hanya berani mengunakan senjata untuk berhadapan dengan kami," ketus Nerlin.


"Letnan kolonel Nexa, kalian yang sudah tua ini seharusnya menikmati hidup di masa tua, tapi sekarang apa? kalian malah memilih hidup bahaya demi melindungi anak itu. bos kami juga tahu kalau anak itu memiliki rahasia yang kami inginkan. serahkan anak itu sekarang juga!"


"Anak itu sudah meninggal saat ledakan yang terjadi di tahun itu, apa pun yang kalian lakukan hanya sia-sia saja. dia sudah tidak ada," jawab Nerlin dengan tegas.


"Letnan kolonel Nexa, jangan sampai kami mendapatkan dia dulu, kalau tidak, kami pasti akan mengunakan cara yang kejam agar bisa mendapatkan rahasia itu."


"Apa kau sudah gila? orang yang kalian cari sudah meninggal saat ledakan itu. banyak jatuh korban di tahun itu termasuk anak ini dan rahasia yang kau sebutkan itu juga sudah ikut lenyap," ketus Mulfis.

__ADS_1


"Hingga kini kalian masih saja bersikap keras kepala," bentak salah satu pria bersenjata yang menodong ke arah Mulfis


"Walau kalian membunuh kami, juga tidak berguna. karena kami tidak memiliki orang kalian yang cari," ketus Nerlin dengan tegas.


"Tidak ingin mengakuinya juga tidak apa-apa, kalian akan berhadapan langsung dengan bos kami," bentak pria bersenjata itu.


Mereka melepaskan jarum infus yang ditangan Mulfis dengan berniat membawa mereka pergi dari rumah sakit itu.


"Apa yang kalian lakukan?" bentak Nerlin yang melihat mereka ingin mendorong ranjang suaminya.


"Jangan melawan Letnan kolonel Nexa, salah satu dari kalian kalau berani melawan kami, maka kami juga akan menembak salah satu dari kalian," bentak pria itu yang mendekatkan pistolnya ke kepala. Nerlin.


"Walau kalian menangkap kami kalian juga tidak akan mendapatkan apa-apa," ujar Mulfis.


"Kolonel Mulfis, jangan salahkan kami tidak memberi kalian kesempatan, selama ini kalian selalu saja suka melawan. dan kali ini kalian akan berhadapan dengan bos kami."


"Bawa mereka pergi!" perintah salah satu dari pria senjata itu.


Pria bersenjata itu mendorong ranjang Mulfis dan sambil menodong pistol ke arah mantan kolonel itu.


Mulfis dan Nerlin hanya bisa pasrah mengikut mereka pergi. saat baru keluar dari kamar, mereka menghentikan langkahnya. karena sekelompok pria berjas hitam sedang menodong senjata ke arah mereka. tidak tahu berasal dari mana pria berjas hitam itu. jumlah mereka lebih dari lima belas orang.


"Siapa lagi kalian?" tanya Nerlin yang menatap heran pada mereka.


"Istriku, kita ini sudah tua, dan tidak ku sangka nyawa kita menjadi rebutan ," ucap Mulfis.

__ADS_1


"Tidak tahu dari mana mereka berasal dan mungkin saja kita akan tewas di sini," ucap Nerlin yang berdiri di samping ranjang suaminya .


"Siapa kalian?" tanya mereka yang sedang menahan Mulfis dan Nerlin.


Tidak lama kemudian datanglah seorang pria yang tanpa jari telunjuk ditangan kirinya dan berpenampilan rapi dengan berkata, "kalian tidak berhak bertanya siapa kami."


"Maju!" perintahnya sambil memberi kode tangan.


Beberapa orang yang bersenjata muncul tiba-tiba dari belakang empat pria yang sedang menahan Nerlin dan Mulfis. mereka menodong senjata ke kepala empat pria itu.


"Bawa mereka pergi dan lenyapkan!" perintah pria yang tanpa jari telunjuk itu.


"Baik, Tuan San," jawab mereka yang membawa empat pria yang tadinya sedang menahan Nerlin dan Mulfis.


"Tuan San? siapa kalian dan dari mana lagi? apakah kalian juga sama seperti mereka yang ingin membawa kami pergi?" tanya Mulfis.


"Iya, seseorang ingin bertemu dengan Anda berdua,"jawabnya.


"Apa kami boleh tahu siapa kalian?" tanya Nerlin.


"Letnan kolonel Nexa, Kolonel Mulfis, kami sudah lama mencari Anda berdua. silakan ikut kami pergi dan bertemu dengan orang yang harus kalian jumpai!"


"Istriku, kita ikut saja mereka! lagi pula dengan kondisi ku sekarang kita juga bukan lawan mereka," ujar Mulfis.


"Baiklah, kita tidak ada pilihan juga," jawab Nerlin.

__ADS_1


"Silakan!" ucap tuan San yang mempersilakan mereka dengan sopan.


__ADS_2