
Evan dan Nova sama sama gugupnya. Apalagi kini mereka tengah berada dalam kamar pengantin berdua saja dan juga mereka telah sah sebagai suami istri di mata agama, hukum dan juga Tuhan .
" Nova.. " Evan pun akhirnya mengeluarkan suara nya memecah kebisuan mereka.
" I..iya Kak...?" jawab Nova gugup.
" Kemarilah.. " ucap Evan meminta Nova untuk mendekat.
.
.
Ah..tidak...bagaimana ini... Aku gugup sekali...aku juga tidak tahu harus bagaimana dengan Kak Evan...
Tapi kami sekarang sudah sah sebagai suami istri....
Mau tidak mau ...siap tidak siap ... aku harus melayani nya... Ini malam pertama pernikahan kami...
Ya Tuhan... Kuatkan aku....
.
.
Nova yang begitu gugup dengan debaran jantung yang begitu kacau memberanikan diri untuk berbalik dan naik ke ranjang. Ia sesaat melihat Evan yang duduk di sisi ranjang itu sambil melihatnya. Nova yang tak berani menatap Evan , perlahan naik ke ranjang dengan wajah tertunduk.
" Nova.." suara Evan terdengar lagi. Evan nampak begitu dekat. Evan kini duduk di hadapannya.
" Nova...aku tahu...kau terpaksa menikah denganku... Tapi kita sekarang sudah sah sebagai suami istri..." ucap Evan
.
.
Aku tahu....jawab Nova dalam hati.
.
.
" Aku juga sama seperti mu... Situasi kita sama... Aku tahu kau masih mencintai mantan suami mu Krisna itu... Dan asal kau tahu...aku sebenarnya juga masih mencintai Dinda meskipun dia sudah menikah dengan orang lain...Pernikahan kita ini terlalu mendadak ... Tapi karena kita sudah menikah...kita harus menjalani nya mulai sekarang..."
Nova hanya bisa mengangguk pelan. Semua sudah terjadi , nasi sudah menjadi bubur... Tak ada pilihan lain selain menerima dan menjalani.
" Nova.. " Evan menyentuh kedua bahu Nova. Nova sudah pasrah dengan nasib nya. Ia tak mungkin menolak Evan jika Evan ingin menyentuh nya.
Sungguh Dosa besar dan akan di laknat para malaikat pula jika ia menolak ajakan Evan suaminya jika ingin berhubungan intim . Ia sungguh tidak menginginkan pernikahannya kali ini juga berjalan buruk .
" Nova..."
" I..iya.." Nova mempersiapkan hatinya. Ia berusaha iklhas menerima takdirnya.
" Pernikahan kita... "
" Ya?"
" Di atas kertas saja " lanjut Evan kemudian.
Nova langsung menengadah dan menatap Evan dengan pandangan tak percaya. Ia sampai membelalakkan matanya lebar lebar. Evan pun nampak serius dengan perkataannya. Ia menatap Nova yang kini menatapnya pula.
Evan menghela nafas panjang. Sebelum ia kemudian berbicara kembali. " Pernikahan kita cuma formalitas saja... Aku tidak ingin memaksa mu... Tapi tolong di depan Mama dan semua orang bersikaplah sebagai istri ku..."
Nova tak menjawab .Namun dengan cepat tubuhnya memberikan reaksi jujur . Ia mengangguk. Menyetujui ucapan Evan.
Evan tersenyum. Ia tahu Nova pasti lega dengan keputusannya. " Jangan terlalu senang ...aku bisa sakit hati.." canda Evan.
" M..maaf Kak..."
" Sekarang kau ganti baju sana dan tidur lah.. Tapi kau tetap harus tidur di sini ..."
Nova mengangguk. Ia pun kemudian segera beranjak menuju ke kamar mandi untuk berganti baju dengan piyama tidur yang sudah di siapkannya. Begitu juga dengan Evan.
.
.
__ADS_1
Begini lebih baik...Hati kami masih mencintai orang lain... Tak mungkin memaksakan diri bukan..
.
.
Evan yang telah berganti baju dengan piyama lengan panjang dan celana panjangnya kini tiduran di ranjang. Sementara Nova yang juga sudah berganti baju dengan baju tidurnya dress tipis dan agak transparan berwarna biru tua.
.
.
Ah...aku hampir lupa... Nova itu sangat cantik..dan juga punya daya tarik tersendiri... Dan lagi karena sudah jadi mahram ku..dia pasti tidur di sampingku tanpa hijab...
Aduh...bagaimana ini... Melihat dia seperti itu saja syahwat ku sudah timbul.. Apalagi dia tidur di sampingku...
Ya Allah....Semoga aku kuat...
Semoga aku sanggup menjaga ucapanku sendiri tadi...
.
.
.
Evan mulai kacau melihat Nova tanpa hijab dengan baju tidur seksinya. Dres berlengan pendek. Sedikit transparan meskipun warnanya gelap.
" K..kak Evan...aku pinjam piyama mu ya.." ucap Nova yang menyadari Pandangan takjub Evan melihatnya. Nova tak membawa baju ganti lain karena bajunya ada di kamar sebelah.
" Ya.."
Nova dengan cepat menuju ke lemari baju Evan dan mengambil piyamanya. Ia memakainya dobel dengan dress tidurnya. Dan setelah itu , Nova pun kembali ke tempat tidur di mana Evan terbaring dan tidur membelakanginya. Entah sudah tidur atau cuma pura pura tidur.
Nova kemudian segera tidur di sampingnya . Dan bersembunyi di balik selimut pula. Ia pun juga membelakangi Evan . Tak lupa Nova mematikan lampu tidur yang ada di atas nakas di samping tempat tidur. Dan ia segera memejamkan matanya .Berusaha untuk cepat tidur.
.
.
.
Keesokan paginya Evan membangunkan Nova dan mengajaknya beribadah bersama. Sesudah mandi , mereka pun sholat subuh berjamaah dalam kamar Evan .
Setelah selesai Evan mengulurkan tangan nya. Nova tahu ia harus menjabat tangan suaminya itu dan mencium nya sebagai tanda ketaatan kepada suaminya.
" Nanti setelah ini jangan keluar kamar dulu. Kita tidur lagi...."
" Pengantin baru .. Harus lebih banyak di kamar ..." ucap Evan sambil mengedipkan sebelah matanya.
" Ooo.." Nova tahu maksud Evan juga akhirnya. Agar mereka tidak di curigai Heppy tentunya.
" Nanti agak siang saja keluarnya..." Nova mengangguk.
Nova mengambil hp nya dan kemudian tiduran lagi di ranjang Evan.
" Kita sambil cerita yuk Nov..." Evan pun turut tiduran di sampingnya meski berjauhan .
" Cerita apa Kak ? " tanya Nova.
" Ceritakan apa saja... Aku ingin tahu semua tentang mu...keluargamu... Sekolahmu..atau apa saja...Jadi saat orang lain tanya tentangmu aku bisa menjawabnya...Aku sebagai suami mu kan harus tau semua tentang mu... Nanti aku pun juga akan cerita semuanya tentang ku padamu...agar sandiwara kita sempurna..."
Nova mengangguk. Dan ia pun kemudian mulai bercerita pada Evan tentang dirinya dan kisahnya. Tentang Keluarganya, tentang Krisna , dan istri istrinya dulu juga tentang Devon . Evan mendengarkan dengan baik.
" Maaf ya... Jadi kamu harus mengalami 2x pernikahan yang terpaksa...Satu karena orang tuamu..Satu karena Mama ku..." sesal Evan.
" Mungkin memang sudah takdir ku Kak..." Nova berusaha tegar.
" Tapi kamu sungguh terlalu berani Nova... Menikah dengan Ayahnya , pacaran dengan anaknya.." kata Evan
" Habis waktu itu... Om mas memberiku kebebasan sampai aku lulus sekolah..3 tahun...tapi ternyata cuma setahun ...setelah itu pernikahan ku berakhir..."
" Jadi pernikahan kalian waktu itu juga cuma di atas kertas?..." tanya Evan penasaran. " Dia tidak pernah menyentuh mu ?"
__ADS_1
Nova nampak enggan bercerita lagi. Karena hal itu terlalu privasi. Evan nampak ingin tahu apa ia dan Krisna sudah pernah berhubungan intim atau belum .
" Awalnya begitu...tapi.."
" Jangan cerita lagi " ucap Evan sambil menutup mulut Nova dengan jarinya. Evan tahu itu adalah rahasia rumah tangga Nova dulu yang tak boleh di ceritakan karena itu sama saja dengan mengumbar aib mantan suaminya.
" Giliran aku yang cerita ya.. " ucap Evan. Nova mengangguk. Ia melihat Evan termasuk orang yang sabar dan lembut hatinya. Dan ia orang yang sangat pengertian . Evan nampak seperti figur suami idaman setiap wanita.
" Aku dulu pacaran dengan Dinda sejak kelas 1 SMA... Kami pacaran lama sekali sampai 3 tahun lamanya... Setelah lulus aku dapat tawaran beasiswa sekolah di luar negeri. Untuk mengikat Dinda, Mama melamar dia sebelum aku berangkat ke luar negeri. Awalnya hubungan kami baik baik saja . Kami melakukan LDR sampai 3 tahun...Jadi itungannya kami sudah pacaran 6 tahun...Waktu yang sangat lama untuk saling mengenal bukan..."
Nova mengangguk membenarkan.
" Sampai setahun sebelum aku lulus itu keluarga sahabat ku melamar dia...Dylan teman kuliah satu kampus dengan Dinda...Dan kemudian mereka menikah. Kata Dinda, Mamanya Tante Lina memaksanya menikah dengan Dylan...kau tau sendiri kan Dylan anak pengusaha kaya...dia anak tunggal pemilik dealer mobil...Dan begitulah....
Tapi bodohnya aku ...meski dia sudah menikah...aku belum bisa melupakan Dinda... Dia terlalu lama tinggal di hati ku...jadi aku juga butuh waktu untuk melupakannya..."
' Tok tok tok...'
Tiba tiba terdengar suara pintu kamar mereka di ketuk dari luar.
" Evan...Nova...sarapan dulu.." suara Heppy terdengar.
" Ya Ma...sebentar.." jawab Evan cepat..
" Yuk kita keluar..."
" Tapi apa tidak apa apa aku pakai baju Kak Evan begini...dan tidak pakai hijab ? " tanya Nova yang cuma memakai celana pendek dan kaos oblong Evan. Karena tidak ada baju ganti lain di kamar Evan .
" Tidak apa apa... Mulai sekarang kalau di rumah kamu lepas hijab juga boleh..." jawab Evan.
Nova mengangguk. Tentu saja bebas karena Evan sekarang adalah mahramnya. Sudah sah sah saja ia melihat aurat Nova.
" Nova, sibakkan rambutmu.." kata Evan. Nova segera melakukan perintah Evan. Ia menyibakkan rambut panjang nya ke atas.
' DEG '
Nova begitu tersentak saat Evan mendekat dan mengecup lehernya. Cukup lama. Nova merasakan geli saat itu, tubuhnya sampai merinding dengan bulu kuduk berdiri. Antara geli geli aneh . Seperti ada sensasi tersendiri . Apalagi Evan tampak seperti menghisapnya.
Tiba tiba nafas Nova menderu merasakan hembusan angin di lehernya dan juga kecupan Evan . Jantungnya berdebar tak karuan.
" Selesai.." ucap Evan setelah ia meninggalkan sebuah tanda merah bekas kecupan di leher Nova.
" K...kak..E..van.." ucap Nova gugup.
" Maaf ya Nov... Aku tidak ingin Mama curiga..." jelas Evan.
Nova terdiam sambil menatap Evan dengan kedua pipi nya yang merona. Jujur ia merasa aneh merasakan sentuhan Evan . Meski ia tahu itu di lakukan untuk melengkapi sandiwara mereka. Namun darah nya berdesir cepat menerima sentuhan yang tentunya memberinya rangsangan di tubuhnya. Dan itu menimbulkan hasratnya.
Jiwa muda, gelora tinggi membuat tubuhnya yang peka bereaksi terhadap sentuhan dari lawan jenisnya. Apalagi Nova sudah sangat lama tidak di sentuh pria.
.
.
Ya ampun...aku hampir saja mengeluarkan suara ku...Rasanya ingin mendesah saat Kak Evan menyentuhku..Aku ini bagaimana... Aku mencintai Om mas tapi tubuhku bereaksi pada sentuhan Kak Evan... Apa aku sudah gila....??
.
.
" Kalau Mama lihat , dia pasti berpikir kita sudah melakukannya..." ucap Evan sambil tersenyum . Nova tersenyum getir. " Yuk keluar..kita harus tampak mesra.." Evan pun meraih tangan Nova dan menggenggamnya. Kemudian ia menggandeng Nova keluar kamar dan segera bergabung dengan Mamanya di ruang makan.
.
.
Kak Evan ini....melakukan semua sekehendak hatinya... Dia cuma ingin sandiwaranya sempurna...
Tapi dia ...tidak sadar...Dia mempermainkan hati ku...
.
__ADS_1
.