Istri Simpanan Dosen

Istri Simpanan Dosen
1.


__ADS_3

Kedua matanya menatap kosong alat tes kehamilan di tanganya. Hingga tak lama, air matanya ikut menetes mengiringi setiap isakan yang semakin jelas terdengar. Jangan berpikir jika itu tangisan bahagia, karena itu adalah tangisan kesedihan yang mendalam. Tangisan yang mewakili hancurnya perasaan sekaligus masa depanya.


Hingga, dengan sekejap alat tes kehamilan itu pun terjatuh di lantai kamar mandi kostanya, dan disusul dengan merosotnya tubuh ringkih itu. Kedua tanganya meremas kasar perutnya sendiri, dengan dibarengi tangisan yang meraung-raung tanpa menghiraukan dinginya lantai kamar mandi ataupun jika suaranya terdengar orang lain.


Garis dua, itulah yang tertera di alat tes kehamilan itu. Garis yang menunjukan betapa hancurnya dia sekarang. Rasa marah, menyesal, benci, dan sedih semuanya bercampur menjadi satu hingga membuatnya sulit untui menjabarkanya.


"Hiks hiks, kenapa harus aku ya Tuhan," isak pilu gadis itu disertai rasa sedihnya.


Bingung, itu yang dia rasakan. Meminta pertanggung jawaban pada pria yang menghamilinya, tapi itu tidak mungkin. Apa lagi, pria itu telah beristri. Dia tidak mau menjadi duri dalam rumah tangga orang lain, dan mendapat cap sebagai pelakor disepanjang hidupnya.


Sekarang, yang bisa dilakukanya hanyalah menyembunyikan kehamilanya dari siapapun, baik orang tua mauapun pria yang sudah menghamilinya.Tapi, pengecualian bagi sahabatnya, mungkin. Sebab, dia membutuhkan teman cerita dan tempat mencari solusi.


"Hiks ampuni Lina Tuhan. Kuat kan Lina, menghadapi cobaanmu." Kepalanya mengadah keatas, guna berdoa pada sang pecipta.


Yaps, dia adalah Lina. Alina Dewangga, anak kedua dari tiga bersaudara. Mempunyai kakak laki-laki dan adik perempuan. Mempunyai orang tua yang berprofesi sebagai sesama


Dokter, dan berasal dari keluarga yang berada. Dan Lina adalah mahasiswa semester akhir, yang tidak lama lagi akan segera wusuda.


Menyudahi kesedihanya, dan bersiap ke kampusnya sebelum terpambat. Sebab, waktu sudah menunjukan pukul 08.30, yang berarti 30 menit lagi kelas akan dimulai.


*******


Tanpa menoleh, Alina berjalan sembari menundukan kepalanya. Kedua matanya masih terlihat sembab walau sudah dipoles make up, dan hidungnyapun masih terlihat merah akibat terlalu lama menangis.


Keadaan yang tidak fokus dan kepala menunduk, membuat Alina menabrak orang di depanya, walau tidak keras.


"Akhs m-maaf," lirih Alina lalu menatap orang yang telah ditabraknya.

__ADS_1


Bukannya menjawab, justru ia memerhatikan wajah Alina dengan tajam dan intens. Sedangkan Alina, dia sontak panik saat mengetahui siapa orang yang ditabraknya. Dengan segera, Alina meninggalkannya tanpa sepatah kata.


Begitu juga dengannya, melihat orang yang menabraknya pergi, tak ada niatan untuk menahannya. Justru, dia langsung melanjutkan jalanya yang sempat terhenti.


******


"Gue harus menghindar dari dia, jangan sampai dia tahu dengan keadaan gue," monolog Alina sembari mengatur napasnya yang seolah akan lepas karena berjalan setengah berlari.


Setelah napasnya stabil, Alina langsung memasuki kelasnya yang tingga beberapa langkah lagi dari tempatnya berdiri sekarang.


Tanpa kata, Alina langsung duduk di salah satu bangku di kelasnya. Tapi, karena Alina berangkat akhir, terpaksa Alina duduk di barisan paling depan. Kursi yang memang selalu dihindari para mahasiswa, sehingga hanya diisi oleh mahasiswa yang berangkat paling akhir.


"Apes banget sih gue, duduk di depan lagi," monolog Alina lalu meletakan tasnya di meja dengan sangat malas.


Tak lama, dari arah belakang, seorang mahasiswa perempuan datang sembari menenteng tasnya dan meletakanya di samping bangku Alina. Siapa lagi, kalau bukan sahabat Alina.


"Lesu banget 'tu muka, masih pagi padahal," celetuk Tasya yang kini duduk menghadap Alina.


"Nana?"


"Hmm. Kepala gue sakit, Na," adu Alina pada Tasya.


Mendengar aduan sahabatnya, sontak Tasya panik. Dengan segera, Tasya meletakan punggung telapak tanganya di dahi Alina, guna mengecek suhu tubuh sahabatnya.


"Agak panas Lin, dari kapan?" tanya Tasya dengan lembut.


"Nggak tahu," jawab Alina sembari menggelengkan kepalanya.

__ADS_1


Tasya hanya menghela napasnya kasar. Sahabatnya itu memang susah kalau mendeskripsikan apa yang dirasakanya, apa lagi kalau sakit begini. Jika ditanya, pasti jawabanya nggak tahu, bingung dan sejenisnya. Sehingga, jalan satu-satunya adalah membawanya ke Dokter.


"Ya sudah, ke UKS aja gimana?" tanya Tasya menawarkan.


"Nggak deh, Na," sahut Alina lalu menelungkupkan wajahnya di lipatan tanganya.


Pasrah, itu yang dilakukan Tasya. Bukanya tidak mau memaksa, tapi Alina adalah sosok yang keras, dan jika dipaksa yang ada malah marah dan meninggalkanya sendiri. Apa lagi, melihat kondisinya yang lemah, membuatnya semakin tak tega.


Cukup lama menunggu Dosen, akhirnya seorang Dosen tampan dengan usia masih cukup muda masuk ke kelas dengan sangat berwibawa. Wajahnya yang datar, dan sikapnya yang dingin, membuat para mahasiswa segan denganya.


Kelas yang semula cukup ramai, sekarang hening. Dan dengan keadaan itu Alina menyadari bahwa sang Dosen pasti sudah masuk kelas.


Mengangkat kepalanya perlahan, Alina menatap Dosenya. Dan seketika, kedua matanya melotot saat melihat orang yang dihindarinya justru kini tengah membalas menatapnya dengan mata tajamnya.


Mengalihkan tatapanya, Alina kembali mengingat apa saja jadwalnya hari ini. Merasa tak salah ingat, Alina menatap sahabatnya dengan tatapan bertanya.


"Lihat grup kelas," ucap Tasya yang mengerti arti tatapan sahabatnya.


Alina dengan segera mengambil handphonenya, dan membuka grup kelasnya. Karena ketiduran tadi malam, dan paginya ia gunakan untuk menangisi nasib masa depanya, membuat Alina lupa membaca pesan penting di ponselnya.


"Alina."


Deg


Bersambung ...


Baca juga ceritaku yang lain. Yang berjudul ~ Pengganti sang Kembaran Juga Tentara dan Perawat Cantik ~

__ADS_1


__ADS_2