Istri Simpanan Dosen

Istri Simpanan Dosen
34.


__ADS_3

Rasanya, Alina terharu saat melihat ketulusan Nicho saat mengatakan itu. Tapi, Alina tetap berusaha menolak, karena merasa bahwa dirinya lebih nyaman di kostan, padahal itu hanya bualan. Yang namanya rumah pribadi, tentu saja lebih nyaman kektimbang kostnya yang sempit ini.


"Saya tidak meminta, tapi ini perintah. Ingat, saya Dosen kamu, dan bisa saja saya memberikan nilai C khusus mapel saya," ancam Nicho.


"Ah Pak Nicho jahat. Dasar Dosen pemaksa," sungut Alina.


"Alina," panggil Nicho dengan lembut dan memohon.


Melihat itu, untuk sesaat Alina terpana. "Iya-iya."


*******


Suara pintu dibuka, mengalihkan atensi Nicho yang tengah duduk di sofa sembari menyelesaikan pekerjaanya yang tertunda karena kesibukanya sejak kemarin mengurus masalah orang tua Alina dan mempersiapkan pernikahanya dengan Alina. Semua dilakukan sendiri, mengingat pernikhanya rahasia, membuatnya cukuo lelah mengurus itu. Bukan fisik yang lelah sebenarnnya, tapi pikiranya yang lelah.


Luarnya saja yang tampak bugar, tadi tidak dengan perasaanya. Mau bagaimanapun, Nicho tetaplah manusia yang mempunyai rasa lelah dalam mengatasi masalah yang datang. Namun, Nicho dituntut keadaan, untuk tetap kuat dan tegar dihadapan semua orang, dan dengan pandai menutupi perasaanya yang sebenarnya


"Nicho?" Neta tampak terkejut, karena biasanya suaminya itu sudah terlelap terlebih dahulu ketika dirinya pulang larut malam.


"Lembur lagi?" tanya Nicho tampak terlihat lelah, menghadapi kebiasaan istrinya yang selalu saja seperti ini, tidak mengurusnya.


Awal-awal pernikahan Nicho dan Neta, sangat harmonis. Apa lagi, setelah kabar bahagia datang, bahwa sang istri tengah mengandung, keharmonisan pasutri itu semakin bahagia.

__ADS_1


Namum, keharmonisan itu musnah sejak musibah itu datang. Pasutri itu kehilangan calon anaknya, dan istrinya pun dinyatakan mandul, karena rahimnya rusak dan terpaksa diangkat demi keselamatanya.


Neta yang frustasi, melampiaskan pada pekerjaan, hingga lupa dengan kwajibanya sebagai seorang istri. Dan karena ketidak adanya seorang anak, keluarga kecil Nicho semakin terasa dingin, tidak seperti saat awal-awal pernikahan dulu.


Bukan hanya Neta saja yang merasakan itu sebenarnya, Tapi Nicho pun tak beda jauh. Hanya saja, Nicho menahan dan mencoba mengikhlaskan semuanya, serta berdamai dengan keadaan.


"Iya, banyak banget kerjaan tadi," sahut Neta, lalu melangkah duduk di samping suaminya.


"Yakin? Tidak ada yang kamu sembunyikan dariku?" Nicho menghentikan kegiatanya, dan memilih fokus dengan istrinya.


Neta mrngernyitkan keningnya, bingung dengan apa yang dimaksud dengan pertanyaan Nicho.


"Maksud kamu?" tanya Neta tak mengerti.


Neta makin tak mengerti, dengan yang Nicho bicarakan. Tapi, Neta mencoba mencerna setip kalimat yang Nicho ucapkan dan Nicho tanyakan apdanya.


"Ya ..., kerjaan. Emang, apa lagi?" Neta menatap Nicho dengan tatapan seolah tak memgerti, atau lebih tepatnya pura-pura tak mengerti.


"Aku yakin, sebenarnya kamu mengerti dengan apa yang aku bicarakan," ucap Nicho sembari menggelengkan kepalanya.


"Maksud kamu apaan sih. Sudahlah, aku mau bersih-bersih duku. Capek, mau tidur," balas Neta mencoba menghindar dari Nicho.

__ADS_1


Nicho semakin yakin ada yang disenbunyikan darinya, oleh sang istri. Karena akhir-akhir ini, ada yang tak beres dengan sang istri, tapi Nicho masih mencoba percaya dengan istrinya itu.


"Tunggu!"


"Siapa Marvel?" tanya Nihco.


Tubuh Neta seketika tegang mendengar nama itu. Bagaimana suaminya itu tahu, dengan pemilik nama itu.


"Marvel? Kamu tahu dari siapa?" Neta dengan bodohnya menanyakan itu pada sang suami, yang justru semakin membuat sang suami curiga, karena tak pernah menceritakan siapa itu Marvel.


"Bukan siapa-siapa," elak Neta.


"Yakin bukan siapa-siapa?" Nicho tak percaya begitu saja dengan Neta.


"Ya. Dia hanya atasanku di kantor," ucap Neta.


"Atasan, tapi sampai kamu selalu menemaninya kemanapun dia pergi, bersama putrinya. Aira," balas Nicho.


"Bahkan, kamu sempat berlibur bertiga denganya, saat kamu bilang ada kerjaan di luar kota," lanjut Nicho, yang semakin membuat Neta terpojok.


Kehabisan kata-kata, Neta bingung ingin mengelak bagaimana. Otaknya tiba-tiba dangkal, karena rasa panik.

__ADS_1


"Kami ...."


Bersambung ...


__ADS_2