Istri Simpanan Dosen

Istri Simpanan Dosen
8.


__ADS_3

Tasya yang sudah terlanjur kesal, meninggalkan Alina sendiri. Sedangkan Alina, tentu tak membiarkan Tasya pergi dengan kekesalan padanya.


Kurang hati-hati dalam langkahnya, juga dalam keadaan terburu-buru, Alina tersandung kakinya sendiri dan membuatnya terjatuh.


"Awhss!" jerut Alina.


"Alina!"


*******


Tasya begitu sangat panik, melihat temannya jatuh terduduk di tanah sembari memegangi perutnya terus. Bibirnya pun tak pernah berhenti meringis kesakitan.


"Alina, apa yang sakit?!" Tasya bertanya dengan cemas, karena wajah Alina kini terlihat pucat.


"Perut gue sakit Na," rintih Alina lirih, dengan tangan tak lepas dari pertunya.


Akhirnya, Tasya membantu Alina untuk berdiri, beralih dengan duduk di sebuah kursi yang berada tak jauh dari posisi mereka tadi.


Saking paniknya, Tasya tak menyadari jika ada darah yang mengalir melewati kaki kanan Alina. Hingga, Alina yang langsung panik menyadari itu, karena merasakan ada sesuatu yang mengalir di kakinya.


"Darah Na. Bantu gue ke rumah sakit sekarang, Na," pinta Alina, sambil menatap" kakinya dengan takut.


'Tuhan, tolong selamatkan bayiku. Sungguh, walau dia hadir karena ketidak sengajaan, aku tak tega jika sampai dia pergi karena kesalahanku,' batin Alina penuh harap.


"Astaga! Alina. Kamu hamil?" tanya Tasya yang sekarang bertambah panik, karena takut dugaanya benar.

__ADS_1


"Awh, sakit banget Na." Tak menjawab, Alina justru semakin meremat perutnya yang terasa semakin sakit.


"Kita ke rumah sakit sekarang," ucap Tasya yang langsung memapah tubuh Alina.


Beruntung, Rumah sakit tak jauh dari posisi mereka. Sehingga, mereka dapat sampai di rumah sakit dengan waktu tak terlalu lama. Selain itu, saat di jalan pun ada seorang penjual yang sangat berbaik hati meminjamkan motornya untuk Tasya dan Alina.


*******


"Gimana Dok, bayi saya nggak papa 'kan?" tanya Alina dengan raut cemasnya.


"Beruntung, bayinya masih dapat diselamatkan. Hanya saja, kandungan Ibu melemah. Untuk seminggu kedepan, sebaiknya Ibu beristirahat total," ucap Dokter.


"Saya juga sudah menuliskan resep vitamin penguat kandungan untuk Ibu. Nanti, ibu bisa menebusnya di apotik," lanjut Dokter.


Sekarang, Alina dapat bernapas lega setelah kandunganya dipastikan telah selamat. Tanganya kini mengusap-usap lembut perutnya, yang terasa agak buncit sedikit.


Sedangkan di luar, Tasya langsung masuk, begitu perawat telah mengijinkannya masuk dan menemui sahabatnya.


"Ada yang gue nggak tau tentang lo?" tanya Tasya begitu dirinya sampai di depan Alina.


"Atau ... lo masih tetap mempertahankan egomu, yang seolah nggak membutuhkan orang lain untuk membantu masalah lo?" tanya Tasya lagi, dengan menekan kata orang lain.


Alina yang dicerca pertanyaan dari sahabatnya, hanya menunduk dalam diamnya.


"Kenapa diam? Jujur saja, gue kecewa sama lo. Gue yang merasa paling dekat sama lo selain keluarga lo sendiri, tapi ternyata gue salah," ucap Tasya pelan.

__ADS_1


"Sebagai sahabat, gue seperti nggak ada gunanya buat lo. Hiks hiks, bahkan saat lo ada masalah besar, gue sama sekali nggak tahu." Pertahanan Tasya akhirnya runtuh.


Tasya merasa hatinya sangat sakit, karena mengetahui sahabatnya hamil tapi sebelum mempunyai suami. Bahkan sekarang, Tasya merasa tak yakin, jika Alina masih menganggapnya sahabat.


Tasya merasa, setiap ada masalah, mulai dari masalah kecil hingga besar, Alina tak akan menceritakan jika bukan dirinya yang memaksa bercerita, ataupun terlanjur tau.


"Maaf," cicit Alina, yang merasa sangat bersalah dengan sahabatnya.


Alina merasa, tanpa sadar dirinya telah bertindak keterlaluan dengan sahabatnya. Dirinya terlalu tertutup, hingga membuat sahabatnya kecwea seperti sekarang.


"Gue takut Na. Takut lo benci dan malu, jika sampai lo tau gue hamil di luar nikah. Gue nggak mau, kalau masalahku justru membebankan kamu, ataupun keluarga gue." Alina menatap mata Tasya.


"Hiks hiks hiks, gue takut keluarga gue marah. Ini aib, pasti mereka kecewa jika tau gue hamil di luar nikah." Alina putus asa, dengan nasibnya.


Tak tega melihat Alina menangis pilu, Tasya membawa Alina ke dalam pelikanya. Berusaha menenangkan sahabatnya.


"Keluarga lo pasti kecewa, tapi lo harus siap mendapat konsekuensinya setelah apa yang lo lakukan," ucap Tasya.


"Gue nggak sengaja, ini bukan keinginan gue," jawab Alina, yang masih dalam posisi di dalam pelukan sahabatnya.


Tasya tak mengerti, dengan ucapan Alina. Bagaimana mungkin melakukan itu tanpa kengininannya sendiri.


"Siapa ayahnya?" tanya Tasya serius.


"Dia ....,"

__ADS_1


Bersambung ...


__ADS_2