
Alina dan Nicho kini duduk di ruang tamu kediaman Alina, dengan ayah dan ibu Alina berada di hadapanya saat in, setelah beberapa saat tadi keduanya makan bersama dengan kedua orang tua Alina. Sedangkan kakak dan asik Alina, tidak berasa di rumah karena kakak Alina yang bekerja, juga adik Alina yang belum pulang sekolah.
"Mah, Pah," panggil Alina dengan gugup.
Nicho yang menyadarinya, langsung menatap Alina dan meyakinkan Alina melalui tatapanya.
"Kenapa Alina? Ada masalah?" tanya Bisma ayah Alina.
Alina menghembuskan napasnya pelan. "Alina hamil."
*****
Semuanya diam, tidak ada yang bersuara setelah Alina mengatakan bahawa dirinya hamil.
"Kamu bercanda Alina?" tanya Bisma, ayah Alina dengan ekspresi wajah masih santai.
"Atau kamu sebenarnya pingin nikah sekarang? Sama Nak Nicho, makanya bilang seperti ini?" Bisma masih berusaha berpikir positif, dan tak menanggapi ucapan anaknya dengan serius.
Dewi yang berada di samping suaminya, menatap anaknya serius dan menanti harapan jika yang dikatanya tadi adalah sebuah candaan semata.
"Mah, Pah. Alina serius," sahut Alina dengan mata yang mulai berkaca-kaca.
"Alina hamil. Maafin Alina, karena telah mengcewakan Mamah sama Papah," ucap Alina yang kini sudah menangis terisak.
__ADS_1
Bisma menatap putrinya tak percaya. Matanya pun mulai berkaca-kaca. Hatinya terasa sakit sekali, menghadapi kenyataan putri yang dijaganya setengah mati dari kecil, justru dirusak oleh pria yang bukan suaminya.
Bisma mendongakan wajahnya, dan menghapus air mata yang sedikit lagi mengalir jika tak segera dihapusnya.
"Alina, k-kamu serius?" tanya Bisma dengan wajahnya yang masih saja berharap yang putrinya katakan hanyalah kebohongan.
Sedangkan Dewi, sudah tak kuasa menahan tangisnya setelah mendengar kepastian dari putrinya yang telah mengaku hamil itu.
Sebagai seorang ibu, Dewi adalah orang yang pertama mendidiknya di rumah. Mengajarkanya untuk menjaga kehormatanya sebagai seorang wanita sedari kecil, dan ternyata, dirinya gagal. Itulah yang ada dalam benak Dewi, ibu kandung Alina.
"Maafin Alina Pah, Mah. Hiks hiks." Alina bersimpuh di kaki orang tuanya bergantian dan menangis di pangkuan orang tuanya.
Mendapati putrinya bersimpuh dan menangis di pangkuanya, Bisma dan Dewi tak menunjukan reaksi apapun. Rasa kecewa yang mendalam, membuatnya enggan untuk menatap putrinya.
"Saya ayahnya. Maaf, tapi semuanya bukan karena disengaja." Bukan Alina, tapi Nicho yang menjawab.
Wajah Bisma sudah merah karena menahan emosinya yang ingin meluap. Sedetik lagi, Bisma pasti akan menghajar Nicho, jika Dewi sang istri tidak menahan suaminya untuk tidak melukai Nicho.
"Sabar, Pah. Mamah nggak mau, darah tinggi Papah naik. Emosi tidak menyelesaikan masalah," ucap Dewi menenangkan suaminya.
Walaupun merasa sangat kecewa dan marah pada putrinya, tapi Dewi masih bisa berpikir jernih, tidak mendahulukan emosi, yang justru bisa memperumit keadaan.
"Bagaimana bisa sabar, Mah. Putri kita, dia dirusak pria yang bukan suaminya. Bahkan, sampai hamil. Hati papah sakit, Mah. Putri yang papah jaga dan papah sayangi sepenuh hati, disakiti pria yang baru dikenal." Bisma mengeluarkan rasa sakit hatinya yang luar biasa di depan keluarganya.
__ADS_1
Dewi masih mengusap-usap lengan suaminya, berharap agar emosi sang suami mereda.
Alina yang melihat ayahnya sekecewa itu, semakin diliputi rasa bersalah. Karena kekecewaan orang tuanya yang bahkan melebihi ekspektasinya, membuat Alina semakin merasa berdosa.
"Maaf. Maaf saya memang tidak bisa mengubah keadaan, tapi saya datang ke sini dengan niat untuk bertanggung jawab," ucap Nicho tanpa ragu.
"Cih. Saya tidak sudi, putri saya dinikahi pria brengsek seperti kamu. Biar saya yang bertanggung jawab atas kehamilan putri saya." Bisma masih menatap Nicho dengan amarah.
"Pah. Papah jangan egois, Alina butuh suami yang selalu ada setiap saat. Papah tahu 'kan, menderitanya orang hamil." Dewi berusaha untuk menyadarkan suaminya yang mulai mermepertahankan egonya.
"Maaf. Om, Tante. Janin itu milik saya, dan saya wajib bertanggung jawab. Saya mohon, jangan halangi saya untuk mempertanggung jawabkan perbuatan saya," mohon Nicho sungguh-sungguh.
Sungguh Alina tidak siap, jika harus memberitahu satu fakta lagi yang mungkin akan menambah amarah orang tuanya, terlebih ayahnya. Tapi, bagaimana mungkin dirinya tak memberitahu fakta itu, pada orang tuanya.
Melihat kesungguhan pria yang berada di samping putrinya, hati Bisma sedikit luluh karena itu.
"Yakin kamu mau bertanggung jawab? Yakin bisa menghidupi putri saya melebihi kami sebagai orang tua?" tanya Bisma.
"Sangat yakin. Tapi, ada satu hal yang ingin saya katakan," sahut Nicho.
Bisma menaikan sebelah alisnya, mendengar jawaban Nicho.
"Saya sudah memilik istri."
__ADS_1
Bersambung ...