
"Dari mana?" tanya Neta dengan wajahnya yang terlihat tak seperti biasanya.
"Siapa?" tanya balik Nicho heran.
"Aku tanya, kamu dari mana?" tanya Neta kembali yang kini mengatakanya dengan nada dingin.
Nicho heran, dengan pertanyaan istrinya itu. Karena sebelum pergi, Nicho sudah mengatakan jika dirinya ada urusan di luar kampus hati ini.
"Aku sudah bilang tadi pagi, aku sda urusan di luar kampus," jawab Nicho.
"Ouhh. Bukan ketemu selingkuhan?" Neta mengatakanya dengan wajah yang sudah menahan amarah.
"Apa?!" Nicho kaget mendengarnya.
*******
"Selingkuhan? Siapa yang selingkuh?" tanya Nicho sembari menatap istrinya dengan serius.
"Kamu nggak usah bohong, aku tahu kamu tadi jalan sama wanita 'kan?" Neta dengan berani mengatakanya.
Nicho diam, dan mencoba mencerna. Seketika, pikiranya langsung tertuju dengan Alina. Nicho menebak-nebak, apakah istrinya itu melihatnya bersama dengan Alina, tapi dimana, itulah yang Nicho pikirkan.
"Kamu salah paham. Aku nggak selingkuh," elak Nicho tapi masih bisa mengkondisikan wajahnya, agar tak terlihat gelisah.
__ADS_1
"Bohong!" seru Neta.
Neta dengan segera membuka handphonenya, dan menunjukan sebuah foto yang dikirimkan sahabatnya tadi.
"Ini. Ini apa kalau bukan selingkuh?" tanya Neta yang kini sudah emosi.
"Kamu dapat dari mana foto itu? Kamu lebih percaya sama dia ketimbang suami kamu ini?!" tanya Nicho dengan keras.
Neta tampak terdiam dan berpikir, tapi kemudian Neta tetap kekeh dengan asumsinya yang mengatakan jika suaminya sudah bermain belakang dengan wanita lain.
"Ya! Tentu aku lebih percaya dia. Karena apa?, karena ada bukti." Neta menjawab suaminya dengan nada yang mulai turun tak seperti tadi.
"Kamu salah paham. Itu tidak seperti yang kamu pikirkan, dia bukan selingkuhanku." Nicho masih mengelak dengan apa yang istrinya tuduhkan.
Nicho memang berencana untuk tak memberitahu istrinya, perihal dirinya yang telah menghamili wanita lain, dan berencana untuk menikahinya dalam waktu dekat ini.
Terdengar egois dan kejam, tapi apalah daya Nicho, yang hanya manusia biasa, tentu bisa berbuat salah dan memiliki sikap egois.
Dulu, ketika istrinya dinyatakan tidak bisa hamil karena rahimnya diangkat, Nicho masih bisa menekan keinginanya untuk memiliki seorang anak.
Nicho mencintai istrinya, untuk itu Nicho tak masalah jikalau seumur hidup tak memiliki anak. Atau mungkin saja, dirinya bisa mengadopsi anak di panti asuhan.
Masalahnya, itu tidak mungkin Nicho lakukan lagi. Nicho harus mempertimbangkan banyak hal, dan berusaha agar tidak ada yang tersakiti. Walaupun, tidak dapat terelakkan nantinya, jika kedua wanitanya pasti akan merasakan lukanya sendiri-sendiri karenanya
__ADS_1
"Aku bisa jelaskan, Neta," ucap Nicho berusaha meredam emosi istrinya, dengan merendahkan nada suaranya yang sempat naik.
"Apa? Apa yang bisa kamu jelaskan?" tanya Neta.
*******
"Kamu ingat, mahasiswa perempuan yang nabrak kita malam kemarin?" Nicho menatap istrinya yang kini berada di sampingnya.
"Perempuan itu dia. Aku nggak sengaja ketemu di mall. Nggak mungkin 'kan, dia lihat Dosenya nggak nyapa." Nicho menjelaskan sesuatu yang sebenarnya tidak terjadi.
Nicho mengarang cerita sedemikian rupa. Memang ada rasa bersalah dalam hatinya, tapi bagaimana lagi, karena tidak mungkin untuk dirinya menceritakan yang sebenarnya.
"Kebetulan, urusanku sudah selesai. Dia juga sendiri, jadi kita makan bareng sambil bahas tugas dia," jelas Nicho.
Neta yang sedari tadi mendengar penjelasan suaminya, seketika emosinya redam. Hatinya lega, karena segala prasangka buruknya pada suaminya ternyata salah.
"Beneran?" tanya Neta meyakinkan.
"Pernah, aku bohong sama kamu?" tanya Nicho.
"Untuk sekarang aku percaya. Tapi, kalau sampai aku tahu kamu selingkuh, aku nggak akan segan buat bunuh wanita itu," ancam Neta dengan serius.
'Itu tidak akan terjadi, Neta. Maafin aku, tapi janin itu darah dagingku sendiri. Dan wanita itu, ibu dari anaku. Kewajibanku untuk melindunginya.' Nicho bertekad dalam hati, untuk selalu melindungi Alina dan anaknya.
__ADS_1
'Aku memang salah. Tapi, aku tak bisa mengelak kalau aku sayang denganya,' ucap Nicho dalam hatinya, sambil memeluk istrinya itu sebagai tanda perdamaianya.
Bersambung ...