
Memang serakah, itu yang Alina rasakan saat ini. Semakin dekat hubunganya dengan Dosenya itu, Alina merasa semakin tak ingin melepaskannya. Bahkan, Alina merasa sangat berdosa dengan istri Nicho, yang pasti sangat sakit hati jika sampai mengetahuinya. Tapi, lagi-lagi Alina hanyalah manusia biasa, yang kerap sekali khilaf dan punya rasa egois, layaknya manusia lain.
Apa lagi, semakin kesini Nicho bersiap sangag manis denganya, dan membuatnya semakin jatuh dalam pesona laki-laki itu.
"Cukup!" Bisma menatap tajam Nicho.
"Kamu ...."
*****
Sudah merasa cukup lama di kafe, Tasya dan Ciko memutuskan untuk pulang, dengan Tasya mengantarkan Ciko terlebih dahulu.
"Thanks, buat tadi," ucap Ciko sambil tersenyum sangat manis, yang lagi-lagi membuat Tasya meleleh.
"Ya. Gue juga seneng kok," balas Tasya sambil membalas senyuman Ciko dengan senyumanya yang paling manis, menurutnya.
"Kapan-kapan, boleh kayak gini lagi?" tanya Ciko spontan.
Gugup, itu yang Tasya rasakan. Dalam hatinya, tentu Tasya berteriak boleh. Tapi, demi menjaga imagenya, Tasya harus tetap terlihat kalem.
__ADS_1
"Kayak gini?" tanya Tasya memperjelas, agar tak salah mengartikan apa yang maksud Ciko. Sekaligus, pura-pura tak mengerti.
"Ehmm, Iya gini. Jalan bareng?" Ciko menatap Tasya ragu-ragu.
Rasanya, Tasya ingin teriak sekaligus guling-guling di lantai, untuk melampiaskan rasa senangnya.
"Boleh kok, kabari aja kalau mau," balas Tasya dengan bahagia.
Ciko menutupi rasa senangnya, dengan tetap bersikap cool. Dan tak ingin menghilangkan image cowok cool di mata para gadis.
"Ya sudah, gue masuk dulu ya?" Ciko menatap Tasya sambil menggaruk tengkuknya yang tak gatal.
*******
"Kamu, saya kasih kesempatan," ucap Bisma, sambil berdoa dalam hati, bahwa keputusanya tidak salah.
"Papah?" Alina berkaca-kaca mendengarnya.
"Terima kasih. Lusa, saya akan menikahi Alina. Tapi maaf, pernikahanya akan sangat tertutup. Orang tua saya pun, terpaksa tak saya beri tahu," balas Nicho.
__ADS_1
Bisa dan Dewi, merasa hatinya sangat sakit mendengar itu. Bagaimana mungkin, putrinya itu akan bernasib seperti ini. Putrinya, tidak akan diakui dunia sebagai istri seorang Nicholas Alejandro.
Apa lagi, Bisma. Sebagai kepala keluarga, Bisma merasa gagal untuk menjadi pemimpin keluarga. Bisma pun merasa, gagal sebagai seorang Ayah, yang harusnya bisa melindungi putrinya.
'Ya Allah, malang sekali nasib putriku. Dosa apa yang hamba perbuat, hingga putrinya bernasib seperti ini. Ya Allah, berilah kemudahan disetiap langkah putriku,' batin Dewi, seraya menatap Putrinya yang juga tengah menahan tangis. Entah itu tangisan bahagia atau apa, tentu Dewi tak tahu.
Bukan hanya Bisma dan Dewi yang sedih mendengar itu, tapi Alina. Dia pun merasakan sakit hati yang dalam, karena itu. Tapi, bagaimanapun dirinya harus kuat demi masa depan janinya, itu yang selalu Alina ucapkan dalam hati, untuk menguatkannya.
'Ya Allah, kuat. Aku pasti kuat, kau tak mungkin memberikan cobaan yang jelas hambanya tak mampu. Aku pasti bisa." Alina bertekad dalam hati.
Tanpa bertanya alasan Nicho tak melibatkan orang tuanya, semuanya sudah paham. Untuk itu, tak ada yang bertanya, atau hatinya akan semakin sakit.
"Tapi, akan ada orang kepercayaan saya yang menjadi pendamping saya nanti," lanjut Nicho.
Sebenarnya, Nicho pun merasa bersalah karena menikahi seorang perempuan tapi tak dapat mengaukinya pada dunia. Alina, hanya akan menjadi simpanan, dan Nicho tahu itu sangat menyakitkan. Namun, bukan hanya Alina yang akan sakit, Neta sang istri pun akan merasakan sakit yang sama besarnya jika tahu.
"Maafkan saya, Om, Tante. Saya benar-benar minta maaf atas masalah ini. Tapi, saya berjanji, akan melindungi dan menyayangi Alina selayaknya seorang istri dan ibu dari anak saya. Saya akan membuktikanya. Om dan Tante, saya ikhlas nantinya, jika suatu saat saya tidak menepati janji saya ini, Om dan Tante berhak mengambil Alina dan anak kami." Nicho menatap calon mertuanya, dengan tatapan yang dalam dan meyakinkan.
Alina meneteskan air matanya mendengar itu. Entah tangisan apa, yang jelas hanya Alina yang tahu.
__ADS_1
Bersambung ...