
Acara pernikahan Nicho dan Alina telah selesai, dan keduanya kini berada di sebuah kamar hotel yang telah Nicho sewa. Kamar hotel yang begitu mewah dan dihias layaknya kamar untuk malam pertama.
Alina kini telah menghapus riasanya, dan melepas kebaya yang digunakanya tadi. Sekarang, yang berada di kamar mandi adalah Nicho. Sedangkan Alina, dia duduk di tepian ranjang, setelah menyiapkan pakian yang akan digunakan oleh sang suami.
Alina menatap pintu kamar mandi dengan hati berdebar. Ingatan tentang sakitnya saat dirinya pertama kali melakukan hubungan suami istri dengan Nicho, kembali terngiang-ngiang.
Saking cemasnya karena takut melakukan hubungan itu, Alina sampai tak sadar bahwa suaminya itu telah selesai melakukan ritual mandinya.
"Alina?" Nicho memanggil Alina.
Seketika, Alina tersadar karena suara Nicho yang memanggilnya. Dengan gugup, Alina menatap Nicho yang hanya memakai bathrobe berada tepat di depanya.
"Pak Ni-icho?"
*******
Nicho mengerutkan keningnya, tak mengerti dengan Alina. Saat keluar dari kamar mandi, Nicho melihat bahwa istri keduanya itu seperti melamun. Dan sekarang, istrinya itu terlihat kaget dengan kedatanganya dan juga, gugup.
"Kamu melamun?" tanya Nicho menebak.
Tentu saja, Alina tak mau mengaku kalau tebakan Nicho itu benar adanya. Alina mentralkan rasa gugupnya, saat berhadapan langsung dengan Nicho dengan statusnya yang baru, yaitu pasangan suami istri.
"Nggak."
__ADS_1
"Ah iya, ini pakaian kamu," ucap Alina, lalu berdiri dari duduknya hendak pergi, karena tahu suaminya itu hendak memakai baju.
Nicho menatap Alina bingung, karena melihat sang istri seperti hendak keluar dari kamar. Reflek, Nicho mencekal pergelangan tangan Alina.
"Mau kemana?" tanya Nicho heran.
Alina tak menjawab pertanyaan Nicho, tapu justru tatapanya tertuju pada tanganya yang dicekal suaminya.
"Alina," panggil Nicho, yang mengembalikan kesadaran Alina.
"Ah itu, mau keluar. Bapak 'kan mau ganti baju," jawab Aliba dengan polosnya.
Maklum saja, di rumahnya memang saat ganti baju itu di kamar, atau di kamar mandi. Apa lagi, di kostanya, yang memang berukuran cukup sempit.
"Apa?!" Alina menatap Nicho dengan malu, merasa dirinya itu kampungan.
Alina menepuk keningnya pelan, merutuki dirinya tak tahu menahu adanya walk in closet di kamar hotelnya.
"Ah i-iya ya." Alina menggaruk tengkuknya yang tak gatal untuk menutupi rasa malunya.
Nicho menggelengkan kepalanya, lalu melangkah menuju walk in closet sambil membawa bajunya, yang tadi hanya diletakan di ranjang oleh Alina.
"Ish Alina, bikin malu aja sih lo," gerutu Alina, setelah Nicho memasuki walk in closet.
__ADS_1
*******
Hari sudah malam, dan Alina sudah bersiap untuk tidur, dengan selimut yang menutupi sampai batas lehernya. Dengan posisi miring ke kanan, Alina tetap menyadari kedatangan suaminya itu, setelah beberapa saat yang lalu suaminya keluar kamar hanya dengan mengatakan bahwa akan keluar ada urusan.
Tentunya Alina tak bertanya-tanya, urusan apa yang dimaksud. Alina memilih bodoamat dengan yang dilakukan Nicho.
Nicho memasuki kamar hotelnya, dan tatapanya langsung tertuju dengan keberadaan istrinya. Walau tak melihat wajah istrinya, tapi Nicho tahu bahwa Alina belum tidur, hanya dengan melihat punggung istrinya, yang sesaat tampak membenarkan posisinya.
"Saya tahu, kamu belum tidur," ucap Nicho, setelah berada di dekat Alina, lebih tepatnya di seberang ranjang.
"Tidak ingin mengulangi malam itu 'kah?" Nicho menggoda Alina, karena Nicho paham dan peka, kalau istrinya itu sebelumnya melamun sebab memikirkan bahwa ini adalah malam pertama mereka.
Alina yang mendengar itu, meremas selimut dengan keras. Takut dan gugup Alina rasakan saat ini.
"Yakin? Mau melewatkan malam pertama kita ini?" tanya Nicho masih saja belum puas menggoda istrinya itu.
Lucu sekali, Nicho melihat istrinya itu. Kentara sekali, kalau istrinya itu tengah panik saat ini, karena ternyata, Nicho kini bisa melihat wajah alina dari kaca, setelah tanpa sengaja tadi matanya tertuju kaca berukuran cukup besar mengarah ke Alina.
"Saya sih tidak. Sayang sekali, kalau malam pertama ini dilewatkan bukan?" Nicho merangkak ke ranjang, dan mendekati tubuh Alina dengan jarak yang sangat dekat.
Nicho menyentuh pundah Alina, yang sontak langsung membuat Alina terkejut dan reflek membalikan tubuhnya menghadap Nicho.
"Jangan!"
__ADS_1
Bersambung ...