
"Saya sudah pesan makanan, sebentar lagi diantar ke sini," ucap Nicho setelah Alina berada di hadapanya.
"Hmm," balas Alina singkat, karena masih badmood.
"Tunggu saya selesai, kita makan bersama," ucap Nicho sebelum Alina berlalu dari hadapnya.
"Iyaaa." Alina dengan kesal menatap Nicho.
Hal itu membuat Nicho gemash, hingga mencubit pipi Alina dengan pelan, lalu meninggalkan Alina yang shok dibuatnya.
"Pak Nicho!" Alina dengan kesal meneriaki nama Dosenya, yang kini tertawa dengan puas setelah membuat perasaan istrinya acak-acakan sambil berlalu ke kamar mandi.
*******
Di sisi lain, seorang wanita cantik tengah bermain dengan seorang anak kecil dengan bahagianya di sebuah taman rumah sakit.
Senyum seolah tak pernah luntur dari wanita cantik dan anak kecil itu, dengan saling melempar canda tawa. Walaupun dengan wajah pucat dan keadaan duduk di kursi roda, itu tak menyurutkan kebahagiaan pada anak kecil itu sama sekali. Pun dengan wanita itu, yang tak lelah dan sabar menghibur anak itu. Memberinya semangat, untuk melawan rasa sakitnya.
"Nah, kalau gini 'kan Aira jadi cantik," puji Neta, setelah memasangkan sebuah jepitan rambut berwarna merah muda dengan hiasan bunga yang terlihat semakin cantik saat dipakai oleh anak kecil itu.
Aira, gadis kecil itu sangat bahagia mendapat pujian dari Neta. Sejak pertama kali mengenalnya, Aira sudah menyukai sikap Neta yang lembut dan keibuan.
__ADS_1
Bahkan, Aira pernah meminta ayahnya untuk menjadikan Neta ibu barunya. Sayangnya, jawaban dari ayahnya itu mengecewakan. Marvel, ayahnya mengatakan bahwa wanita yang telah dianggap seperti ibu kandungnya sendiri itu, telah memiliki suami. Jadi, ayahnya tak bisa menjadikan dia ibunya.
Berkali-kali ayahnya mengingatkan, agar tak terlalu dekat dengan Neta, tapi Aira tak mau mendengarkanya. Aira sangat menyayangi Neta, layaknya ibunya sendiri. Maklum, sejak lahir Aira tak mendapatkan kasih sayang seorang ibu, walaupun dirinya memiliki ayah yang berusaha selalu ada setiap saat.
Apa lagi, sejak dirinya dinyatakan sakit parah, yang membuatnya keluar masuk rumah sakit, itu membuat Aira semakin tergantung dengan adanya Neta, karena itu membuat Aira tak merasakan kesepian, juga mendapat perhatian dari seorang wanita yang dianggapnya sebagai ibu kandungnya itu.
"Beneran? Makasih Tante." Aira dengan bahagia mengatakanya, lalu menatap layar ponsel yang memantulkan bayanganya, untuk melihat rambutnya yang semakin cantik dengan hiasan jepitan rambut yang diberikan oleh wanita dihadapanya itu.
Sedangkan dari jauh, tampak seorang pria yang berjalan dengan gagahnya mendekati kedua wanita itu, sambil tak sedikitpun melepaskan pandanganya.
"Ekehm," dehemnya yang mengganggu Neta dan Aira yang tengah bermain bersama.
"Papah!'
Aira dan Neta kompak kaget dengan kedatangan pria itu. Terlebih, Neta yang sekarang jadi canggung, karena sebelumnya dirinya pernah ditegur untuk tak terlalu mendekati Aira, karena takut putrinya itu tak akan bisa lepas denganya nanti.
Apa lagi, ketidak adanya hubungan diantara keduanya, yang semakin membuat potensi keduanya berpisah semakin besar.
"Aira, kembali ke kamarmu," titah Marvel dengan tegas.
"T-tapi, Pah," rengek Aira dengan memohon, karena merasa belum puas bermain dengan karyawan ayahnya itu.
__ADS_1
"Papah tidak menerima bantahan, Aira," tegas Marvel tak ingin dibantah.
"Suster, bawa putri saya ke kamarnya," titah Marvel pada suster pribadi yang mejaga putrinya.
Suster itu yang sedari tadi bertugas mengawasi Neta dan Aira, langsung mendekat dan mendorong kursi roda Aira.
Neta tak bisa membantah perintah Marvel, karena dia adalah atasanya di kantor. Jadi jelas, Neta tak bisa berbuat apa-apa.
******
"Ingat ucapan saya. Jangan membuat putri saya bergantung dengan kamu." Marvel menatap Neta dengan serius.
"Saya tahu, kamu berada di sini bukan atas ijin suami kamu. Dan saya, tidak ingin dianggap merusak rumah tangga kamu, dengan alasan putri saya," ucap Marvel.
Neta mendengarkan setiap kalimat yang Marvel ucapkan dengan baik. Namun, jujur hatinya terluka mendengar itu, karena sebenarnya Neta telah terlajur sayang dan jatuh cinta dengan putri dari atasanya itu.
Merawat Aira layaknya anak kandungnya sendiri, mampu mengobati luka dihatinya akibat kehilangan calon anaknya dulu, dan membuatnya berdamai dengan keadaan yang menyatakan dirinya tak akan memiliki keturunan selamanya.
"Maafkan saya, Pak. Saya akan berusaha mengingat dan menuruti ucapan Bapak. Tapi, saya mohon jangan paksa Aira untuk menjauh, karena saya takut kesehatanya akan memburuk jika terlalu ditekan," balas Neta dengan tulus.
Fokus dengan lawan bicaranya, keduanya sampai tak menyadari adanya seseorang yang tengah mengintai keduanya, dan juga memotret serta merekamnya untuk dijadikan laporan yang akan diberikan pada atasanya.
__ADS_1
"Ini sudah cukup, untuk laporan sama Tuan Nicho. Kasihan sekali, Nyonya. Pasti nanti mendapat amarah dari Tuan Nicho," gumamnya sambil menatap gambar istri majikanya bersama pria lain di layar handponenya.
Bersambung ...