Istri Simpanan Dosen

Istri Simpanan Dosen
35.


__ADS_3

Tak terasa, hari yang ditunggu Nicho dan Alina telah sampai. Hari ini, adalah hari spesial untuk kedua pasangan itu. Hari ini, adalah hari pernikahan Nicho dan Alina. Walaupun tak diadakan di sebuah gedung mewah, tak menggunakan gaun pengantin yang super mewah, tidak dihadiri keluarga mempelai pria, dan tak dihadiri beribu tamu undangan, tapi tetap saja acara pernikahan itu tetaplah menjadi hari yang sangat sakral dan spesial untuk keduanya.


Di depan penghulu, Nicho menjabatkan tanganya untuk yang kedua kalinya, untuk mengucapkan ijab qabul, dan disaksikan oleh kedua orang tua mempelai wanita, dan dua orang saksi yang telah Nicho sewa, yang tak lain ialah bawahan Nicho.


Walaupun ijab qabul ini bukanlah yang pertama, tapi tetap saja Nicho merasakan apa yang dulu rasakan, ketika pertama kalinya mengucapkan ijab qabul untuk menikahi Neta, walau tak separah dulu.


Jantung berdebar, berkeringat dingin, cemas dan bahagia bercampur aduk menjadi satu di dalam diri Nicho. Begitu juga Alina. Ini adalah kali pertamanya, tentu saja Alina merasakan hal yang lebih parah dari Nicho. Apa lagi, dengan usia yang berada cukup jauh dibawah Nicho, yang tentu saja masih mempengaruhi pola pikirnya yang belum benar-benar dewasa.


"Bagaimana para saksi, sah?" Penghulu menatap para saksi .


"Sah!" seru semuanya, dengan rasa haru dan bahagia membelenggu dalam hati.


'Ya Allah, ini memang salah. Tapi, hamba akan selalu berdoa yang terbaik untuk pernikahan ini. Hamba tahu, ini dosa besar, dan karena itu ampuni hamba ya Allah. Kau adalah yang paling maha tahu, dan hamba pasrahkan semuanya padamu.' Alina berdoa dalam hatinya, dengan setitik air mata jatuh dari pelupuk matanya.


Semua terharu, begitu juga dengan Tasya. Satu-satunya sahabat Alina yang hadir di pernikahan Alina. Yang Tasya sayangkan, status Alina hanya simpanan, karena tak dipublikasikan oleh Nicho. Dan dunia masih menganggap Neta, adalah satu-satunya istri seorang Nicho Alejandro.


Alina mencium tangan Nicho, yang baru saja berstatus menjadi suaminya. Setelahnya, Nicho mencium kening Alina dengan penuh ketulusan dan rasa haru dalam hatinya.


Nicho mengamati wajah istri keduanya itu, dan menghapus setitik air mata yang membekas di pipi mulus Alina menggunakan kedua ibu jarinya.


"Kenapa?" tanya Nicho, setelah menghapus air mata Alina.

__ADS_1


"Nggak tahu hiks," sahut Alina, yang justru kembali menitihkan air mata, ketika bersitatap langsung dengan Nicho.


"Senyum sayang, nanti make upnya luntur," ucap Nicho dengan sangat lembut, berbeda dari biasanya yang berkata dengan datar dan dingin.


Alina menuruti ucapan Nicho, untuk tersenyum. Wajahnya yang berbalut make up, membuat aura kecantikan Alina semakin terpancar.


Setelahnya, pasutri itu menyalami kedua orang tua Alina, dengan Alina yang memeluk Ayahnya dengan ragu, karena masih mengingat betapa marahnya sang ayah sebelummya. Tapi, sebelum Alina memeluknya, sang ayah telah lebih dulu memeluknya.


Bahkan, Bisma sampai berkaca-kaca matanya, setelah menyaksikan putrinya sendiri menikah. Putri yang dulu sering menangis ketika ditinggal kerja, dan putri yang selalu marah padanya dan sang ibu, karena kesibukan keduanya sebagai seorang Dokter, membuatnya jarang berada di rumah, kini telah memiliki suami, bahkan akan memiliki buah hati.


"Maafin Alina, Pah. Alina tidak bisa menjadi putri yang Papa harapkan," ucap Alina sesegukan.


"Jangan bicara seperti itu, seperti apapun kamu, Alina tetaplah putri papah." Bisma menatap Alina sembari tersenyum.


"Mah." Alina memeluk ibunya.


"Mama doakan yang terbaik untuk putri mama selalu. Jadilah istri yang baik ya Sayang," ucap Dewi sambil mengusap kepala putrinya yang terbalut hijab.


"Iya, Ma," balas Alina.


Nicho berada di hadapan Bisma, dan melakukan apa yang seperti Alina lakukan, tentu saja kecuali memeluknya.

__ADS_1


"Jaga putriku. Kembalikan dia pada kami, orang tuanya, kalau kamu sudah tak mencintainya nanti. Jangan sakiti putriku, baik fisik maupun mentalnya. Jangan pernah rusak kepercayaan saya, karena sekali saja kamu merusaknya, tidak ada kepercayaan lagi yang bisa saya berikan untukmu," ucap Bisma dengan lirih, tepat di telinga Nicho.


Nicho dengan mantap menjawab bahwa dirinya berjanji, akan mengikuti semua yang Bisma ucapkan.


Selanjutnya, Nicho menyalami ibu dari sang istri. Dan tak lupa, Dewi memberikan nasihat dan pesan untuk Nicho, agar selalu sabar menghadapi Alina, dan mampu membimbingnya menjadi lebih baik.


******


Acara pernikahan Nicho dan Alina telah selesai, dan keduanya kini berada di sebuah kamar hotel yang telah Nicho sewa. Kamar hotel yang begitu mewah dan dihias layaknya kamar untuk malam pertama.


Alina kini telah menghapus riasanya, dan melepas kebaya yang digunakanya tadi. Sekarang, yang berada di kamar mandi adalah Nicho. Sedangkan Alina, dia duduk di tepian ranjang, setelah menyiapkan pakian yang akan digunakan oleh sang suami.


Alina menatap pintu kamar mandi dengan hati berdebar. Ingatan tentang sakitnya saat dirinya pertama kali melakukan hubungan suami istri dengan Nicho, kembali terngiang-ngiang.


Saking cemasnya karena takut melakukan hubungan itu, Alina sampai tak sadar bahwa suaminya itu telah selesai melakukan ritual mandinya.


"Alina?" Nicho memanggil Alina.


Seketika, Alina tersadar karena suara Nicho yang memanggilnya. Dengan gugup, Alina menatap Nicho yang hanya memakai bathrobe berada tepat di depanya.


"Pak Ni-icho?"

__ADS_1


Bersambung ...


__ADS_2