Istri Simpanan Dosen

Istri Simpanan Dosen
19.


__ADS_3

Melihat kesungguhan pria yang berada di samping putrinya, hati Bisma sedikit luluh karena itu.


"Yakin kamu mau bertanggung jawab? Yakin bisa menghidupi putri saya melebihi kami sebagai orang tua?" tanya Bisma.


"Sangat yakin. Tapi, ada satu hal yang ingin saya katakan," sahut Nicho.


Bisma menaikan sebelah alisnya, mendengar jawaban Nicho.


"Saya sudah memilik istri."


*******


"Apa?!" bentak Bisma yang kaget, seakan jantungnya mau copot dari tempatnya.


Alina semakin tak berani menatap kedua orang tuanya. Hatinya takut sekali, bakal dianggap pelakor.


Pelakor pelakor dan pelakor, itu yang selalu Alina takutkan jika sampai dirinya benar-benar menjadi istri Dosenya yang tak lagi lajang itu.


"Alina. Papah nggak habis pikir, bagaimana mungkin kamu menjalin hubungan dengan pria beristri seperti Nicho." Bisma menggeleng-gelengkan kepalanya dan berusaha menenangkan dirinya, agar tak terkena serangan jantung.


"Kami, hiks hiks n-nggak sengaja Pah," elak Alina dengan berderai air mata.


"Mah. Mamah percaya 'kan sama Alina? Putri Mamah ini nggak mungkin, menjadi duri dirumah tangga orang lain." Alina menatap ibunya dengan tatapan berharap.


Dewi enggan untuk menatap putrinya. Wajahnya ia palingkan dari putrinya, sembari menahan hatinya agar tak luluh dengan tangisan putrinya yang pilu.


"Hiks hiks, Mah ...." Alina semakin tak kuasa menahan tangis, karena harapan satu-satunya agar bisa menolongnya dari kemarahan ayahnya pun tak sudi, hanya untuk sekedar menatapnya saja.


Alina merasa, harapan restu dari orang tuanya semakin kecil dan sulit didapat, karena status Dosenya yang sudah beristri.


"Pergi," usir Bisma pada putrinya juga Nicho.


"Pah," mohon Alina.


"Alina tidak menjadi pelakor dihubungan saya dan istri saya. Bukanya saya sudah bilang, ini tidak sengaja. Saya dan Alina, sama sekali tidak ada hubungan apapun sebelumnya," jelas Nicho yang sudah tak tahan dengan Alina yang dituduh pelakor.

__ADS_1


"Pergi!" bentak Bisma yang tetap tak mau mendengar penjelasan Nicho.


Alina berdiri dari posisinya, dan langsung kembali bersimpuh di kaki ayahnya sambil menangis histeris.


"Pah hiks hiks maafin Alina. Hiks hiks, Alina mohon." Alina memeluk kaki ayahnya.


Nicho yang tak tega dengan Alina, langsung melangkah mendekati Alina, dan membawanya berdiri.


"Kita pergi," bisik Nicho lembut.


"T-tapi, Pak hiks hiks." Alina dengan sesegukan menjawab Dosenya itu.


"Kita bisa ke sini lagi, besok. Masalah nggak akan selesai, kalau orang tua kamu emosi seperti itu," bujuk Nicho, agar Alina mau diajak pergi dari rumahnya itu.


Alina dengan terpaksa mau menerima ajakan Nicho, untuk meninggalkan rumahnya sementara.


"Mah, Pah. Alina pamit. Besok Alina ke sini lagi," ucap Alina pada orang tuanya, tapi tak mendapat tanggapan apapun.


*******


Dalam perjalanan pulang, Alina masih menangis, walaupun tidak mengeluarkan suara, dan hanya air mata yang keluar membasahi pipinya. Dan entah kenapa, itu membuat Nicho merasa sesak melihatnya. Dan itu membuat Nicho berpikir untuk menghibur Alina, dengan cara apapun.


"Iya. Nanti saya tunggu di mobil," sahut Alina sambil menghapus air matanya.


"Tidak," tolak Nicho singkat.


"Pak Nicho. Saya capek, saya ingin istirahat," kekeh Alina menolak.


Nicho bergeming, dan tetap melajukan mobilnya menuju salah satu mall besar di kawasan jakarta.


"Pak Nicho," panggil Alina, tapi diabaikan oleh Dosennya itu.


******


"Bapak mau apa sih ke mall?" tanya Alina pasrah, karena Dosenya itu tetap kekeh untuk mampir ke mall.

__ADS_1


"Nonton. Kamu ada rekomendasi?" tanya Nicho sembari melangkah memasuki mall dengan Alina di sampingnya.


Alina tampak berpikir, film apa yang ingin ditonton. Dan sesampainya di bioskop, Alina masih belum memutuskan film apa yang ingin ditonton.


"Yang horor, Pak," usul Alina tanpa memberitahu judul filmnya.


"Yakin?" tanya Nicho pada Alina.


"Yakin. Jangan bilang, Pak Nicho takut?" Alina dengan mantap menjawab pertanyaan Nicho.


"Tidak," sahut Nicho datar dan singkat.


'Dasar Dosen pelit suara. Udah pelit suara, minim ekspresi lagi. Astaga, kayak apa anak gue nanti. Eh, ish apaan sih kok mikir sampai anak sih," batin Alina yang kini merasa geli, saat menyinggung tentang kenyataan janinya yang memang milik Dosenya itu.


******


"Pak? Bapak nggak takut?" tanya Alina pada Nicho, karena sejak tadi Dosenya itu hanya berekspresi biasa saja, tidak seperti dirinya yang berkali-kali teriak, setiap hantu dalam film muncul.


"Tidak. Bukanya saya sudah bilang tadi?" Nicho menjawab dengan pertanyaan, dan kini sembari menatap kedua mata Alina sangat dalam.


"Alina," panggil Nicho lembut.


Alina yang mendengar namanya dipanggil Nicho dengan sangat lembut, seketika hatinya meleleh.


"Boleh saya pegang dan usap perut kamu?" Nicho meminta ijin untuk memegang dan mengusap perut Alina, karena entah kenapa Nicho merasa ingin sekali.


Grogi, itu yang Alina rasakan sekarang. Apa lagi, Dosenya itu masih menatap matanya begitu dalam. Alina bahkan sampai mengagumi betapa tampanya makhluk ciptaan Tuhan dihadapanya itu


"I-iya," jawab Alina, yang justru kini sudah tak lagi fokus dengan layar bioskop.


"Terima kasih," ucap Nicho sangat tulus.


Perlahan, tangan Nicho mendarat di perut Alina. Mengusapnya pelan, dan meresapi rasa hangat yang tiba-tiba menyusup di hati keduanya.


Alina berusaha fokus melanjutkan menonton filmnya. Tapi, usapan di perutnya yang sangat lembut itu, sangat mengganggu karena mampu membuat jantung Alina berdetak sangat cepat dan keras.

__ADS_1


"I love you," bisik Nicho.


Bersambung ...


__ADS_2