
Nicho yang masih merasa cemas dengan Alina, memutuskan untuk menyusul Alina ke rumah sakit, walaupun anak buahnya mengatakan bahwa kandungan Alina selamat.
Melihat istrinya yang sudah tertidur lelap, Nicho dengan hati-hati turun dari ranjang, melangkahkan kakinya untuk ke kamar mandi, memnilas tubuhnya untuk membersihkan sisa-sisa percintaan dirinya dengan sang istri, lalu bersiap untuk menemui Alina.
Namun, baru menutup pintu lemari, Nicho dikejutkan dengan suara istrinya yang memanggilnya.
"Sayang ...."
******
"Sayang ...."
Sontak, Nicho membalikan tubuhnya menghadap kearah istrinya. Seketika, otaknya langsung menyiapkan berbagai jawaban yang akan disiapkan untuk menjawab pertanyaan istrinya.
"Iya?" Nicho menatap istrinya yang ternyata hanya mengigau. Seketika itu, rasa lega menguasai hati.
Namun, karena itu Nicho justru menghampiri istrinya. Hanya untuk kecupan singkat, dan ucapan selamat malam, Nicho berikan pada istrinya sebelum menemui Alina.
"Sweet dream, Sayang. Good night," ucap Nicho lirih setelah mengecup kening Netan, lalu segera melangkah keluar kamar untuk menemui Alina.
******
Sebelumnya, Nicho telah menghubungi anak buahnya, yang selama dua puluh empat jam mengawasi Alina, untuk memberikan informasi lokasi Alina sekarang.
Oleh karena itu, sesuai yang anak buahnya informasikan, bahwa Alina sedang menebus obat di apotik rumah sakit bersama sahabatnya, Nicho langsung menyusulnya.
Tepat sekali, dari jarak 10 meter kurang lebih, Nicho telah melihat Alina yang tengah berjalan dengan tangan yang digandeng sahabatnya, seolah sedang menuntunya agar tak jatuh.
Tanpa ragu, Nicho menghampiri Alina.
__ADS_1
"Alina," panggil Nicho.
"Pak Nicho?" Alina dan Tasya terkejut dengan keberadaan Nicho di rumah sakit.
Seketika itu juga, Alina dan Tasya mengedarkan ke sekelilingnya untuk melihat, apakah Nicho bersama istrinya atau sendiri.
"Bapak di sini juga? Sama siapa?" tanya Alina setelah tidak mendapati Neta, istri Nicho di sekitar.
"Atau, jangan-jangan Bapak ngikutin kita ya?" tebak Tasya dengan berani, seolah tidak mengingat bahwa Nicho adalah Dosennya sendiri.
"Tidak," elak Nicho tanpa raut gelisah di wajahnya.
"Lalu?" tanya Alina penasaran.
Bagaimana tidak penasaran, kalau tidak hanya sekali bertemu Dosennya itu. Seolah, itu adalah disengaja. Bukan salah Alina dan Tasya 'kan, kalau keduanya curiga bahwa Nicho mengikutinya.
"Ini tempat umum, kalau kalian lupa," jawab Nicho dengan santai, tapi tetap dengan wajah yang minim ekspresi.
"Ini juga sudah sangat malam," timpal Tasya menguatkan kecurigaan Alina.
Nicho tidak habis pikir, kalau Alina dan Tasya masih saja bertanya. "Itu tidak penting.
"Siapa yang sakit? Kenapa jam segini di rumah sakit?" tanya Nicho pura-pura tak tahu.
Mendengar pertanyaan Nicho, seketika Alina dan Tasya gelagapan. Mau berbohong, tapi ucapan adalah doa. Tapi, kalau mau jujur, itu sama saja membongkar aib sendiri.
"Saya!" seru Alina dan Tasya serentak.
Alina dan Tasya langsung langsung saling tatap, saat menyadari seruanya yang justru semakin memperjelaa bahwa keduanya gelisah.
__ADS_1
"Jadi? Siapa yang sakit sebenarnya. Kamu, atau Alina" tanya Nicho mendesak.
Rasanya senang sekali, melihat wajah panik mahasiswanya, terutama Alina. Kentara sekali, dari wajah keduanya ada sesuatu yang ditutup-tutupi.
"Saya, Pak. Tadi jatuh, jadi lecet," sahut Alina jujur.
Tasya yang mendengar, langasung mengkode Alina, bahwa dirinya tidak setuju Alina berbicara jujur dengan Dosennya.
Tasya Khawatir, Dosenya itu akan curiga. Sedangkan Tasya tahu, kalau Alina masih belum siap jujur soal kehamilanya pada Nicho, yang notabanenya ayah biologis janin Alina.
"Jatuh dari mana, sampai sampai dibawa ke rumah sakit?" Nicho seolah tak cukup sampai di situ, membuat Tasya dan Alina kelimpungan dengan pertanyaanya.
"Kesandung," jawab Alina yang masih terus jujur.
"Cuma kesandung, sampai ke rumah sakit?" tanya Nicho memasang wajah tak percaya.
Tasya yang sudah tak tahan, langsung memutar otak agar Dosenya tak lagi bertanya.
"Sama sekali tidak mengurangi rasa hormat kami, tapi yang Pak Nicho tanyakan itu privasi. Kami permisi," ucap Tasya yang langsung mengajak Alina menyingkir dari hadapan Nicho.
"Tunggu," ucap Nicho menghentikan.
Mematuhi ucapan Nicho, Tasya dan Alina menghentikan langkahnya. Membalikan tubuhnya, dan menunggu apa yang ingin Dosenya itu katakan.
"Ada apa lagi?" tanya Tasya yang semakin tak ramah.
"Biar saya yang mengantar Alina. Kamu pulang saja, taksi kamu sudah sampai," jawab Nicho.
"Tapi, Pak."
__ADS_1
Bersambung ...