
Yuna semakin tak terima, karena ancaman yang biasanya membuat Ciko takut, kini sudah tak mempan, hanya karena seorang gadis di depanya ini.
"Heh lo. Nggak usah genit deh, Ciko punya gue," ketus Yuna dengan menatap tajam Tasya.
"Gue atau lo yang genit?" tanya Tasya dengan nada meremehkan.
"Mending ngaca dulu deh, sebelum bilang gue genit. Atau, lo nggak punya kaca? Gue ada kaca nih." Tasya dengan berani mengatakanya.
Ciko yang sedari tadi diam, memang sengaja. Karena ingin melihat seberapa galak Tasya, saat menghadapi Yuna. Dan semoga, Yuna tak lagi mengganggunya.
"Kurang ajar lo yah!" bentak Yuna tak terima.
Yuna tak mau mengalah, dan Alina berusaha menenangkan sahabatnya agar tak terpancing emosi, dan memancing perhatian mahasiswa lainya. Tapi, itu sia-sia. Karena seseorang berjalan mendekati sumber kekeributan itu dengan wajahnya yang datar dan dingin.
"Ekhem!"
"Pak Nicho?!"
******
"Kalian tidak tahu, ini di mana?" tanya Nicho dengan gayanya yang sangat berwibawa.
"Maaf, Pak," ucap semuanya, tak terkecuali Yuna, yang langsung kicep saat kedatangan Nicho.
Aura Nicho yang menyeramkan, ditambah dengan jabatanya sebagai Dosen di kampus ini, membuatnya ditakuti dan dihormati semua mahasiswa dan rekan Dosenya.
"Bubar," perintah Nicho mutlak tak ingin dibantah.
__ADS_1
"Baik, Pak," jawab Yuna, Ciko dan Tasya serentak.
Terpaksa, Yuna mengalah dan meninggalkan semuanya, untuk saat ini karena tidak mungkin jika dirinya tetap ngotot dan melawan, bisa-bisa nilainya terancam karena itu. Yuna pergi dengan ekspresi wajah marah dan sambil mengomel, tentunya setelah agak jauh dari posisi Dosenya sekarang.
Bukan cuma Yuna, tapi Ciko dan Tasya dengan segera memasuki mobil, dengan Ciko yang berada di kursi kemudi, karena Ciko meminta kunci mobil Tasya, dan langsung memasuki mobil Tasya.
Kini, tersisa Alina yang berdiri di hadapan Nicho. Alina memang tidak pergi, karena dari awal rencananya memang Alina dan Dosenya itu langsung berangkat ke kediaman orang tua Alina.
"Kita berangkat sekarang," ucap Nicho langsung mengajak Alina.
"Iya, Pak," sahut Alina menurut, dan mengikuti langkah Nicho yang berada di depanya.
******
"Gila. Pak Nicho auranya serem banget," ucap Tasya membuka percakapan setelah mobilnya berjalan cukup jauh dari parkiran kampus.
"Kayak mau makan orang aja," tambah Tasya melebih-lebihkan.
"Pak Nicho 'kan emang gitu. Serem." Ciko membenarkan ucapan Tasya, mengenai Dosennya itu yang memang bertampang galak, serem dan dingin. Apa lagi, kalau berada di dalam kelas, lebih parah.
Tasya tertawa mendengarnya, karena bukan hanya dirinya saja yang menilai jika Nicho adalah Dosen yang pelit nilai, tegas, dan disiplin, tapi selalu jelas dan mudah dimengerti para masiswanya, saat sedang mengajar.
"Ehmm, mau nongkrong dulu?" tanya Ciko menawarkan.
Senang, sangat senang perasaan Tasya sekarang. Bisa pulang bareng, dan sekarang diajak nongkrong.
'Selamatkan jantung ini ya Tuhan, rasanya kayak mau pingsan. Huh huh, tenang-tenang Tasya. Stay kalem, jangan sampai Ciko ilfil sama sikap lo,' sorak Tasya dalam hati.
__ADS_1
"Boleh. Kebetulan, tadi gue juga mau nongkrong sama Alina, tapi dianya nggak bisa," balas Tasya.
*******
"Assalamualaikum," ucap Alina sambil mengetuk pintu rumahnya.
Tak lama, ibu Alina keluar. Ekspresi wajahnya terlihat terkejut, karena kedatangan putrinya ini.
"Alina, kamu pulang dulu ya. Papa masih marah, dan mama nggak mau kamu kena marah lagi," ucap Dewi, yang sudah tak semarah kemarin.
Dewi berusaha memaafkan kesalahan putrinya. Lagian, putrinya itu sudah menjelaskan kalau itu bukan disengaja. Walaupun sakit hatinya belum sembuh sepenuhnya, tapi Dewi akan selalu berusaha yang terbaik untuk anak-anaknya, dan tidak mengandalkan emosi.
"Nggak. Alina mau selesaikan masalah ini sekarang. Alina butuh kepastian, cucu Mama butuh status. Tanpa restu Papa, Alina nggak bisa," tolak Alina dengan kekeh.
"Alina mohon, Ma. Demi cucu Mama, dia nggak berdosa. Alina nggak mau, anak Alina tidak punya orang tua yang jelas," ucap Alina memohon pada ibunya.
Dewi tampak bimbang untuk mengambil keputusan, apakah tetap melarang putrinya bertemu ayahnya, atau membiarkan putrinya bertemu dengan ayahnya, agar bisa mencoba membujuknya, mau merestui hubungan Nicho dan Alina.
Dewi sudah berusaha sejak Alina meninggalkan rumahnya kemarin, membujuk suaminya agar mau memaafkan dan berdamai dengan putrinya. Alina memang salah, tapi dalam keadaan seperti ini, putrinya membutuhkan dukungan dari keluarga, terutama orang tua. Itu yang dipikirkan Dewi sejak kemarin.
Apa lagi, wanita hamil tidak boleh stress. Dan karena masalahnya dengan orang tuanya, Alina bisa stress karena memikirkan itu.
"T-tapi, Alina. Baiklah, ayo masuk." Dewi akhirnya membiarkan putrinya bertemu ayahnya.
******
"Mau apa lagi kalian?" tanya Bisma tak ramah.
__ADS_1
"Papah ...."
Bersambung ...