Istri Simpanan Dosen

Istri Simpanan Dosen
38.


__ADS_3

Bahkan, setelah Tasya tahu kehamilan Alina, Tasya belum tahu detail kejadian yang membuat Alina seperti itu.


Nicho pun sama, tak tahu penyebabnya. Yang Nicho tahu, dirinya meminum minuman yang telah dicampur obat perangsang, saat acara ulang tahun adik tiri Alan, sahabatnya.


Nicho sudah mencari pelakunya, tapi Kalula bermain bersih, hingga tak meninggalkan jejak, karena Kalula telah merencanakan dengan matang rencana itu, tapi ternyata Tuhan tetap tak berkehendak melancarkan rencananya. Oleh karena itu, Nicho belum mengetahuinya hingga saat ini.


Hanya Alina dan Kalula yang tahu, dan keduanya masih menyimpan rapat rahasia itu, entah dengan alasan apa. Yang jelas, hubungan sahabat keduanya telah renggang, dan mungkin putus, mungkin.


"Maaf," liirh Nicho dengan rasa bersalah.


******


Alina luluh, mendengar permintaan maaf Nicho yang terdengar tulus ditelinganya, dan dengan tulus pula memaafkan Nicho.


"Ya sudah, saya mau tidur. Pak Nicho jangan ganggu," ucap Alina.


"Ah iya. Emm, Pak Nicho nggak pulang? Takutnya istri Bapak khawatir." Alina tampak cemas, karena kalau sampai istri pertama suaminya tahu, bisa-bisa ada perang ketiga nanti.


Alina baru sadar, kalau Nicho bersamanya sejak pagi mengurusi pernikahanya yang dilaksanakan siang hari, dan kini sudah malam. Tentu, sebagai seorang istri pasti akan mencari suaminya, kalau sampai malam-malam begini belum pulang.


"Kamu nggak usah pikirin itu. Yang penting, kamu tidur. Istirahat, anak kita pasti lelah," jawab Nicho sembari membenarkan anak rambut yang menutupi wajah cantik istrinya.


Alina menganggukan kepalanya, menyerahkan masalah itu pada Nicho, suaminya. Alina tahu, pasti sang suami telah melakukan sesuatu, agar tak dicurigai Neta, kemana perginya hingga tak pulang.

__ADS_1


Asa rasa salah, terbesit dalam hati Alina. Membayangkan jika dirinya berada di posisi Neta, pasti merasa sangat marah dan kecewa andaikan mengetahui kelakuan suaminya yang mengkhianatinya. Tapi, entahlah. rasanya sungguh dilema, ada rasa tak ingin menyakiti sesama seorang perempuan, tapi bagaimana nasibnya nanti jika dirinya mementingkan orang lain, dan mengabaikan dirinya sendiri serta anaknya.


Alina menuruti apa yang Nicho perintahkan, untuk segera tidur. Lagian, tubuhnya pun terasa lelah, apa lagi dalam kondisi lagi hamil, yang membuat Alina cepat lelah dan mengantuk.


Alina memejamkan matanya, mencoba menyelami mimpi. Tapi, pasti kebiasaanya yang tak bisa tidur di tempat baru kembali mengganggunya. Bukan takut, tapi memang sangat sulit untuk tidur di tempat asing. Dan itulah yang menjadi masalah Alina, ketika bepergian kemana-mana kalau sampai menginap.


Nicho yang berada di samping Alina, langsung bisa mengarungi mimpi untuk mengistirahatkan hati dan pikiranya yang lelah.


"Aishh, nggak bisa tidur lagi," gumam Alina lirih, setelah lima belas menit berlalu tapi tak kunjung bisa tidur.


Alina membalikan tubuhnya, setelah sebelumnya tidur membelakangi suaminya. Alina tersenyum, mengamati wajah damai suaminya yang dalam keadaan terpejam.


'Ganteng banget, suami gue ya Allah,' batin Alina senyum-senyum.


Sungguh, Alina merasa sangat frustasi karena tubuh sudah lelah, mata sudah mengantuk, tapi masih saja belum bisa mengarungi mimpi. Yang Alina lakukan, hanya membolak-balikan tubuhnya mencari posisi ternyaman.


Sepulas-pulasnya Nicho tidur, dirinya tetap merasakan bahwa wanita di sampingnya masih belingsatan kesana kemari.


"Kenapa belum tidur? Sudah malem," ucap Nicho dengan tubuh menghadap Alina.


Ditatap sedemikian dekat, tentu membuat Alina grogi. Tapi, Alina harus bisa menahanya agar Nicho tak menydaranyinya.


"Nggak bisa tidur," cicit Alina dengan mata yang tak berani membalas tatapan Nicho.

__ADS_1


Nicho menghela napasnya pelan, dan langsung membawa Alina masuk ke dalam pelukanya.


"Pak? Lepas. Sesak ini," rengek Alina, yang sekarang jantungnya serasa mau copot.


"Diem. Tidur sekarang." Nicho melonggarkan pelukanya, tapi tetap menahan Alina agar tetap berada di dalam pelukanya.


Kicep, Alina tak bisa berkutik, mendengar perintah Nicho yang sepertinya tak ingin dibantah. Nicho memeluknya dengan erat, dan sialnya itu sangat nyaman baginya.


'OMG! Nyaman banget sih, pelukan Pak Nicho.' jerit Alina dalam hati.


Bukan hanya Alina yang merasa nyaman, tapi Nicho. Dengan adanya Alina yang kini berada dalam pelukanya, mampu membuat Nicho merasa tenang dan nyaman.


*******


Disisi lain, seorang gadis tengah berjalan-jalan menyusuri rak mini market yang buka selama 24 jam, dan berada tak jauh dari rumahnya.


Seperti biasa, perutnya suka sekali makan saat waktu sudah malam-malam begini. Dan kalau tidak makan, bisa sampai pagi nggak bisa tidur.


Tasya, gadis dengan kebiasaan tidak bisa tidur sebelum makan malam diatas jam 09.00 WIB malam, merasa cukup repot dibuatnya.


Seperti sekarang ini, yang dilakukan Tasya. Membeli mie instan, sekalian minuman kesukaaanya agar perutnya tak lagi berbunyi, dan juga nantinya bisa tidur dengan tenang.


Tapi, saat tanganya mengambil minuman di lemari pendingin, Tasya tak menyadari ada juga tangan kekar yang ikut mengambil minuman yang hendak diambilnya. Reflek, Tasya menjauhkan tanganya dan menatap si pemilik tangan yang kekar dan, seksi itu.

__ADS_1


"Lo?"


Bersambung ...


__ADS_2