
Matahari bersinar begitu terang, hingga memasuki celah-celah gorden yang tak sengaja terbuka di sebuah jendela kamar hotel tempat Nicho dan Alina bermalam. Namun, walau begitu keduanya masih nyaman tidur berpelukan saat ini, tanpa terganggu oleh cahaya matahari.
Hingga, suara dering telepon milik Nicho mengganggu kenyamanan pasutri itu yang ternyata walau mendengar suara dering handphone, masih tetap bergelung dalam selimut.
Namun, ternyata si penelpon masih tak menyerah untuk menghubungi si pemilik handphone. Hingga Alina yang sudah tak tahan, akhirnya melepaskan diri dari pelukan suaminya, dan melihat siapa yang menghubungi suaminya saat masih pagi seperti ini.
"Istriku?" Alina membaca nama yang tertera di layar ponsel Nicho.
Nicho yang sebenarnya sudah bangun dari tidurnya tapi masih enggan membuka mata, seketika langsung mengambil ponselnya yang masih tergeletak di nakas dengan cepat, karena Alina hanya melihat tidak mengambilnya.
"Biasa aja kali, Pak," cibir Alina, melihat tingkah suaminya yang seolah tengah panik.
"Hm?" Nicho menatap Alina canggung, karena spontan langsung mengambil ponselnya terburu-buru.
Tak ingin mengganggu suaminya, Alina langsung beranjak pergi ke kamar mandi, untuk mandi.
*****
__ADS_1
Alina masuk ke dalam kamar mandi, dan segera mengisi bathub dengan air hangat sambil menggerutu, karena mengingat siapa yang menghubungi Nicho tadi.
Entahlah, Alina saja tak tahu kenapa harus kesal. Padahal, yang menghubungi suaminya itu istrinya sendiri. Bahkan, dirinya yang menjadi orang ketiga, dan Alina merasa sangat tidak tahu diri karena itu. Namun, tetap saja Alina tak bisa mengontrol rasa kesalnya yang tiba-tiba menguasai hati.
Alina menarik napasnya dalam, dan menghembuskanya dengan perlahan. Alina berusaha menenangkan diri, agar tak sampai melebihi batasnya. Ini adalah pilihanya, menjadi istri kedua. Suaminya, Nicho bukanlah miliknya sepenuhnya. Jadi, tak ada hak untuk cemburu dengan Neta. Karena Neta pun berhak atas Nicho.
"Alina, lo nggak boleh ngelunjak. Ingat, posisi lo, yang hanya istri simpanan Dosen sendiri," monolog Alina yang berusaha mengingatkan dirinya tentang statusnya dalam hidup Nicho.
*****
Nicho mengijinkan, tapi bukan Nicho namanya kalau tak benar-benar menyelidiki istrinya, apa benar karena urusan kerjaan atau, karena lainya.
Bukanya tak percaya, tapi telah lama Nicho menyimpan kecurigaan terhadap istri pertamanya itu, yang beberapa kali tak sengaja kepergok video call dengan seorang anak perempuan berusia kurang lebih lima tahun. Dan ketika ditanya, Neta selalu menjawabnya dengan gugup, serta mengatakan bahwa itu anak temanya.
Nicho memang percaya-percaya saja saat itu, tapi setelah lebih dari dua kali dan jawaban Neta selalu mencurigakan, Nicho memutuskan mulai mengawasi istrinya itu.
"Terua awasi istrinya, dan laporkan siapapun orang yang bersamanya juga yang ditemuinya," ucap Nicho dengan nada dingin, melalui sambungan teleponya.
__ADS_1
Melihat Alina keluar dari kamar mandi, Nicho segera memutus sambungan teleponya dengan anak buahnya. Nicho tak ingin, Alina tahu masalah rumah tangganya dengan Neta, dan ikut terset kedalamnya.
Alina tengah hamil, dan Nicho sangat menjaga kesehatan serta keselamatan Alina. Karena itu, Nicho berusaha melakukan apapun agar Alina tak berpikir berat, dan menjauhkan Alina dari hal yang bisa saja membahayakan, termasuk Neta.
"Saya sudah pesan makanan, sebentar lagi diantar ke sini," ucap Nicho setelah Alina berada di hadapanya.
"Hmm," balas Alina singkat, karena masih badmood.
"Tunggu saya selesai, kita makan bersama," ucap Nicho sebelum Alina berlalu dari hadapnya.
"Iyaaa." Alina dengan kesal menatap Nicho.
Hal itu membuat Nicho gemash, hingga mencubit pipi Alina dengan pelan, lalu meninggalkan Alina yang shok dibuatnya.
"Pak Nicho!" Alina dengan kesal meneriaki nama Dosenya, yang kini tertawa dengan puas setelah membuat perasaan istrinya acak-acakan sambil berlalu ke kamar mandi.
Bersambung ...
__ADS_1