Istri Simpanan Dosen

Istri Simpanan Dosen
33.


__ADS_3

Disisi lain, seorang gadis tengah uring-uringan sendiri, karena pesanya tak kunjung dibalas oleh sahabatnya. Siapa lagi, kalau bukan Tasya.


Berkali-kali Tasya mengecek handphonenya, setiap ada bunyi notifikasi pesan. Dan berkali-kali pula, Tasya menelan kekecewaan, karena pesan itu bukan dari orang yang dinantinya. Hingga, sebuah nomor tak dikenal mengiriminya pesan.


Tasya membalas pesan itu, menanyakan identitas sang pengirim. Tak sampai satu detik, pemilik nomor tak dikenal itu langsung membalas pesan dari Tasya.


"Ciko?!"


******


"Mimpi apa gue, Ciko minta gue save nomernya," girang Tasya, sambil menggigit bantalnya karena saking gemashnya.


Cepat-cepat, Tasya membalas pesan dari Ciko. Tapi, bukanya segera membalas pesan Ciko, Tasya justru selalu menghapus ketikanya, karena bingung ingin membalas iya.


Cukup lama Tasya bingung, ingin membalas pesan dari Ciko, yang justru hanya berakhir dengan ketikan singkat, yaitu satu kata iya.


Tasya beralih menggigit kuku-kuku jarinya yang lentik, tak sabar menunggu balasan dari Ciko. Dua menit berlalu, balasan dari Ciko tak kunjung Tasya dapatkan. Tapi, didetik terakhir, sebuah panggilan suara dari Ciko, langsung membuat Tasya ketar-ketir.


"Ekhem ekhem," dehem Tasya, menetralkan suaranya agar tak terdengar begitu senang, hingga bisa saja itu membuatnya gugup.


"Halo?" Tasya mengangkat panggilan suara dari Ciko.


Dag dig dug ser jantung Tasya, karena sebentar lagi suara berat khas pria akan terdengar di gendang telinganya, melalui handphonenya.


"Halo?" Tasya kembali berusara, karena setelah beberapa saat suara Ciko tak juga terdengar.


"Tasya," balas Ciko, dari seberang sana, yang ternyata pun sama groginya dengan Tasya.

__ADS_1


Tasya langsung menjauhkan handphonenya dari telinganya, tapi dengan masih menggenggamnya, lalu menggulingkan tubuhnya di ranjangnya, saking girangnya, mendengar namanya dipanggil oleh sang pujaan hati lewat sambungan telepon.


Jangan heran, karena memang ini pertama kalinya Tasya melakukan sambungan telepon dengan lawan jenis, selain bukan kerabat dekatnya. Jadi, maklum saja Tasya grogi karena itu.


Bahkan, karena itu, Tasya sampai tak sengaja memencet tombol merah di handphonenya, dan hal itu membuatnya mengakhiri sambungan telepon itu.


"Aaaa Tasya gimana sih lo. Kenapa lo matiin sih," maki Tasya pada dirinya sendiri, sambil meratapi layar handphonenya, yang menunjukan bahwa sambungan telepon sudah terputus.


"Hilang deh, kesempatan ngobrol sama pujaan hati." Tasya masih merutuki dirinya sendiri, karena terlalu alay hanya karena sebuah panggilan dari Ciko, dan berakhir dirinya kehilangan kesempatan itu.


"Huh. Oke, nggak masalah. Yang penting, sudah ada kemajuan." Tasya menghibur dirinya sendiri.


********


"Dimatiin?" tanya Ciko pada dirinya sendiri, karena heran mengapa Tasya tiba-tiba mematikan sambungan teleponya.


Ciko meletakan handphonenya, dengan pikiran masih bertanya-tanya, mengapa dan ada apa Tasya seperti itu.


******


"Saya pulang dulu," ucap Nicho setelah berada di depan kostan Alina.


"Pak Nicho, nggak mau mampir dulu?" tawar Alina, yang ternyata hanya basa-basi saja.


Sebenarnya, dalam hati Alina berdoa agar Dosenya menolak tawaranya, karena itu hanya sekedar tawaran saja.


"Boleh," jawab Nicho, yang tak sesuai dengan harapan Alina.

__ADS_1


Alina melongo memdengarnya, tapi segera mempersilahkan masuk Dosenya itu. Karena baru kali ini, Dosenya mampir ke kostanya. Sebelumnya, Nicho tak pernah sampai masuk ke kost Alina, hanya menunggunya di mobil.


Untung saja, dijalan tadi sempat mampir membeli martabak roti spesial di tempat langganan Alina. Jadi, Alina tak perlu repot-repot mencari apa yang bisa disuguhkan.


"Makan Pak," ucap Alina, setelah meletakan martabak roti spesialnya di piring.


"Hmm," balas Nicho tanpa melihat Alina.


"Alina, saya sudah menyiapkan rumah untuk kita nanti setelah menikah," ucap Nicho menyampaikan hal yang belum sempat disampaikanya pada Alina.


Alina tentu saja terkejut mendengarnya, karena Alina tak terpikir sampai di situ. Alina kira, setelah menikah dirinya tetap berada di kostnya.


"Tap-pi, Pak, saya lebih baik di sini saja," tolak Alina.


"Tidak. Di sini tidak aman. Saya ingin memberikan yang terbaik untuk anak saya," ucap Nicho.


"Juga, kamu," lanjut Nicho dengan tulus.


Rasanya, Alina terharu saat melihat ketulusan Nicho saat mengatakan itu. Tapi, Alina tetap berusaha menolak, karena merasa bahwa dirinya lebih nyaman di kostan, padahal itu hanya bualan. Yang namanya rumah pribadi, tentu saja lebih nyaman kektimbang kostnya yang sempit ini.


"Saya tidak meminta, tapi ini perintah. Ingat, saya Dosen kamu, dan bisa saja saya memberikan nilai C khusus mapel saya," ancam Nicho.


"Ah Pak Nicho jahat. Dasar Dosen pemaksa," sungut Alina.


"Alina," panggil Nicho dengan lembut dan memohon.


Melihat itu, untuk sesaat Alina terpana. "Iya-iya."

__ADS_1


Bersambung ...


__ADS_2