Istri Simpanan Dosen

Istri Simpanan Dosen
7.


__ADS_3

Alina memalingkan mukanya, melihat Tasya tersenyum angkuh. Keduanya lalu mulai bercanda ria, hingga tak terlalu fokis pada jalan mereka. Alhasil, Alina dan tasya menabrak orang.


"Aduh! Maaf-maaf, saya nggak sengaja," ucap Alina panik.


"Pak Nicho?" Tasya menatap seorang yang dikenalinya sebagai Dosennya bersama seorang wanita yang diyakininya sebagai istri Dosennya.


*******


"Alina?" Perhatian Nicho justru langsung terfokus pada Alina, ketimbang Tasya yang justru berada tepat di hadapanya.


"Kamu ngapain di sini. Angin malam tidak bagus untukmu." Nicho spontan mengeluarkan kalimat seperti itu, pada Alina.


Bahkan, Nicho tak sadar, jika wanita yang berstatus istrinya itu juga heran dengan sikap Nicho.


Sedangkan Nicho sendiri, dia reflek berkata seperti itu, karena teringat jika Alina tengah hamil anaknya. Maka dari itu, rasa khawatir tiba-tiba hinggap di hatinya, tanpa bisa Nicho kendalikan.


"Sayang, kamu perhatian banget sama dia," tegur Neta, merasa cemburu dengan perhatian suaminya, yang menurutnya tak wajar diberikan pada orang yang bukan siapa-siapa.


Alina sendiri, hanya mampu diam, karena tak ingin salah bicara. Juga, rasanya Alina semakin merasa bersalah dan minder, saat melihat istri dari ayah biologis janinnya.


Cantik, modis, dan mungkin baik. Tentu Alina minder, karena merasa dirinya kalah jauh dengan istri Dosennya itu.


"Apa? Nggak kok, Sayang. Mereka mahasiswaku. Jadi, wajar saja," elak Nicho menetralkan rasa gugupnya, agar tidak terlalu kentara.


"Iya, Bu. Kami, mahasiswa Pak Nicho yang paling teladan. Makanya, Pak Nicho perhatian." Bukan Alina, tapi Tasya yang langsung membenarkan jawaban Dosenya.

__ADS_1


"Ya tapi ...." Neta tak jadi mengutarakan kecurigaannya terhadap suaminya, dan mencoba berpikir positif.


Neta kini menatap Alina dari ujung rambut hingga ujung kaki, seolah tengah menilai penampilan Alina.


Nicho yang melihatnya, merasa takut jika istrinya semakin penasaran atau berpikir sesuatu yang dapat membuatnya semakin curiga. Karena itu, Nicho dengan segera mengajaknya pergi dari hadapan Alina dan Tasya.


"Ya sudah, kami pergi dulu," ucap Nicho seraya menggandeng istrinya untuk pergi.


"Iya, Pak," sahut Alina dan Tasya kompak.


*****


"Istrinya Pak Nicho cantik ya," ucap Tasya memuji kecantikan Neta, istri Nicho.


Sekarang, Tasya dengan kelakuan sahabatnya. Sebab, setelah bertemu dosenya tadi, kelakuan Alina terasa aneh. Cuek, pendiam, dan sering melamun. Kalaupun menjawab, hanya singkat dan seperlunya saja.


"Lo kenapa sih Lin?" tanya Tasya dengan wajah seriusnya.


"Lin?" tanya Tasya sekali lagi, karena pertanyaanya diabaikan Alina.


"Alina!" panggil Tasya dengan cukup keras.


Mendengar namanya dipanggil dengan keras oleh sahabatnya, membuat Alina kaget. Apa lagi, sejak tadi pikiranya tak fokus.


"Nggak usah teriak-teriak Nana, gue nggak budek ya," sewot Alina yang memang sekarang gampang terpancing emosinya.

__ADS_1


"Ck! Lo ya. Lagi mikirin apa sih, segitunya banget. Kalau ada masalah itu cerita, jangan cuma dipendam sendiri. Kelakuan lo itu seperti tak menanggap gue sahabat lo tau," bentak Tasya yang ternyata telah habis kesabaran.


Tak bisa berkata-kata, Alina mendengar setiap kalimat ungkapan kekesalan sahabatnya pada dirinya.


Kebiasaan Alina dalam memendam setiap masalah apapun, memang sangat sulit dihilangkan. Karena, tidak hanya pada Tasya, tapi dengan keluarganya pun dia sering memendam perasaan ataupun masalahnya.


"G-gue, nggak bisa cerita Na. Ini masalah gue, dan gue nggak mau melibatkan orang lain," jawab Alina pelan.


"Orang lain?" tanya Tasya dengan raut tak percaya.


"Lo anggap gue orang lain?. Jadi, selama ini cuma gue yang menganggap lo sahabat?" tanya Tasya dengan mata berkaca-kaca.


Tak ingin semakin membuat Tasya salah paham dengan kata-katanya, Alina berusaha menjelaskan maksud dadi kalimatnya tadi.


"Bukan gitu maksud gue Na, plis jangan marah." Alina memohon pada Tasya.


Tasya yang sudah terlanjur kesal meninggalkan Alina sendiri. Sedangkan Alina, tentu tak membiarkan Tasya pergi dengan kekesalan padanya.


Kurang hati-hati dalam langkahnya, juga dalam keadaan terburu-buru, Alina tersandung kakinya sendiri dan membuatnya terjatuh.


"Awhs!" jerit Alina.


"Alina!"


Bersambung ...

__ADS_1


__ADS_2