
Terdiam sejenak, Tasya bergelut dengan pikiranya sendiri. Keheningan melanda keduanya selama beberapa menit, atau bahkan hampir tiga puluh menit.
"Saran gue, perjuangkan masa depan anak lo. Setidaknya, bertahan sampai anak lo lahir. Dan setelahnya, itu terserah lo dan Pak Nicho yang memutuskan untuk lanjut, atau berhenti sampai di situ," ucap Tasya tanpa ragu.
"Kalau lo nikah sebelim anak ini lahir, akan ada nama Pak Nicho di akta kelahiran anak lo. Jadi, anak lo nggak akan dihina atau dikucilkan," lanjut Tasya yang kini mengamati ekspresi wajah Alina.
"Tapi Pak Nicho punya istri, Nana. gue nggak mau jadi istri keduanya," tolak Alina yang tak sepenuhnya setuju dengan saran Tasya.
"Itu risiko yang harus lo tanggung. Bicara baik-baik dengan Pak Nicho dan istrinya, juga jaga hati lo, agar nggak jatuh cinta dengan Pak Nicho, sebelum ada kepastian akan rumah tangga kamu, seandainya nanti Pak Nicho mau bertanggung jawab," sahut Tasya memberi saran.
Alina terdiam dengan saran yang Tasya berikan. Menimbang-nimbang apakah harus dirinya melakukan itu, atau mencari solusi lainya yang lebih baik.
"Gue ...."
*******
"Gue ..., gue akan pertimbangkan saran lo. Untuk sementara, gue mohon lo tutup mata tentang masalah ini," jawab Alina dengan nada memohon.
"Baik. Tapi, kalau satu bulan kedepan lo nggak ada kepastian, terpaksa gue ikut campur masalah pribadi lo. Gue akan bilang langsung dengan Pak Nicho, juga orang tua lo." Tasya menatap Alina dengan serius.
"T-tapi ...." Belum sempat membalas ucapan sahabatnya itu, Tasya lebuh dulu memotongnya.
"Sorry, gue cuma mau yang terbaik buat lo. Gue nggak mungkin 'kan, diam saja melihat lo menderita sendiri dengan bayi kamu nanti," ucap Tasya tulus.
"Apa lagi sekarang, walaupun gue belum pernah hamil, tapi gue tau bagaimana susahnya wanita hamil. Lo pasti butuh laki-laki yang setia disamping lo setiap saat," lajut Tasya.
Terharu, sungguh Alina sangat terharu mendengar setiap kalimat yang Tasya ucapkan. Terasa sekali, bahwa disetiap kalimat itu, Tasya ucapkan dengan ketulusan hati.
__ADS_1
Alina merasa sangat beruntung, karena ditengah rumitnya masalah yang menghampirinya, ada seseorang yang begitu tulus dan setia menemaninya.
"Terima kasih, gue sayang banget sama lo Na. Dari sekian orang yang berteman dan bersahabat dengan gue, dari kecil hingga sekarang, lo adalah yang terbaik. Bukan berarti mereka nggak baik, tapi hanya lo yang begitu setia dan tulus." Alina mengucapkanya dengan mata yang berkaca-kaca.
"Sama-sama," sahut Tasya yang juga ikut terharu.
Keduanya lalu berpelukan dengan erat, dengan air mata yang menetes walaupun tak banyak. Keduanya seolah tengah menunjukan kesungguhanya yang berucap menyayangi sahabatnya, ssperti menyayangi saudaranya sendiri.
******
Kini, Nicho dan Neta tengah duduk dengan bersandar di headboard. Keduanya tengah kelelahan, setelah pertempuran sengitnya di atas ranjang sebelumnya, seperti yang Neta janjikan sebelum pergi jalan-jalan.
Keduanya duduk dengan posisi Neta bersandar dengan nyaman di dada bidang suaminya. Tidak ada pembicaraan yang memecah keheningan keduanya. Karena, keduanya tenggelam dengan pikiranya masing-masing.
"Nicho, kamu dekat dengan mahasiswamu?" tanya Neta tiba-tiba.
"Tadi, mahasiswa yang nabarak kita," sahut Neta memperjelas.
Seketika, detak jantung Nicho berdetak lebih cepat, seperti tengah lari maraton. Dengan hati-hati, Nicho mengontrol mimik wajahnya, agar tak membuat istrinya curiga. Menyiapkan jawaban sebaik mungkin, agar tak salah bicara nantinya.
"Biasa saja. Nggak dekat-dekat banget. Sama seperti mahasiswa lainya. Emang kenapa?" Nicho menatap istrinya dengan serius.
"Nggak kenapa-kenapa. Kepikiran aja," jawab Neta yang perasaanya kini lega.
Raut gelisah tak terlihat di wajah suaminya, membuat Neta yakin, bahwa memang tidak ada yang sedang dirahasiakan oleh suaminya.
"Nggak usan mikir macam-macam. Mending, sekarang tidur. Sudah larut malam," ajak Nicho sambil melirik jam kecil di nakas samping ranjang.
__ADS_1
"Oke. Tapi peluk," pinta Neta dengan manja.
"Ya 'udah, ayo." Nicho merubah posisinya menjadi tidur miri sambil merentangkan tanganya, agar istrinya masuk ke dalam pelukanya.
Kini, keduanya tidur sambil berpelukan dengan erat. Memejamkan mata, dan mengistirahatkan tubuhnya yang lelah karena telah beraktivitas selama sehari.
Setelah beberapa lama, Neta akhirnya tertidur dengan lelap. Sedangkan Nicho, masih belum bisa memasuki alam mimpi. Hanya mata yang terpejam, tapi pikiran masih kemana-mana.
Apa lagi, sejak tadi perasaanya sudah tidak tenang. Pikiranya tertuju dengan wanita yang kini tengah mengandung anaknya, Alina.
Hati-hati, Nicho melepas pelukan istrinya. Menghapai handphone yang sebelumnya diletakan di nakas. Nicho memutuskan memeriksa handphonenya, apakah ada informasi dari anak buahnya yang ditugaskanya untuk menjaga Alina.
Betapa terkejutnya, karena Nicho mendapati panggilan tak terangkat dari anak buahnya juga pesan yang mengatakan bahwa Alina jatuh, hingga pendarahan. Dan sekarant, Alina berada di sebuah rumah sakit.
Sungguh, Nicho merutuki dirinya sendiri yang mematikan handphonenya, agar tak ada yang mengganggunya saat melakukan ritual suami istri dengan Neta.
'Semoga kamu baik-baik saja, Alina. Juga anak kita,' batin Nicho cemas.
Nicho yang masih merasa cemas dengan Alina, memutuskan untuk menyusul Alina ke rumah sakit, walaupun anak buahnya mengatakan bahwa kandungan Alina selamat.
Melihat istrinya yang sudah tertidur lelap, Nicho dengan hati-hati turun dari ranjang, melangkahkan kakinya untuk ke kamar mandi, membilas tubuhnya untuk membersihkan sisa-sisa percintaan dirinya dengan sang istri, lalu bersiap untuk menemui Alina.
Namun, baru menutup pintu lemari, Nicho dikejutkan dengan suara istrinya yang memanggilnya.
"Sayang ...."
Bersambung ...
__ADS_1