Istri Simpanan Dosen

Istri Simpanan Dosen
2.


__ADS_3

Kelas yang semula cukup ramai, sekarang hening. Dan dengan keadaan itu Alina menyadari bahwa sang Dosen pasti sudah masuk kelas.


Mengangkat kepalanya perlahan, Alina menatap Dosenya. Dan seketika, kedua matanya melotot saat melihat orang yang dihindarinya justru kini tengah membalas dengan mata tajamnya.


Mengalihkan tatapanya, Alina kembali mengingat apa saja jadwalnya hari ini. Meras tak salah ingat, Alina menatap sahabatnya dengan tatapan bertanya.


"Lihat grup kelas," ucap Tasya yang mengerti arti tatapan sahabatnya.


Alina dengan segera mengambil handphonya, dan membuka grup kelasnya. Karena ketiduran tadi malam, dan paginya ia gunakan untuk menangisi nasib masa depanya, membuat Alina lupa membaca pesan penting di ponselnya.


"Alina."


Deg


____________________________________________


"Ya?" sahut Alina gugup.


"Jika masih ingin bermain ponsel, saya persilahkan kamu untuk keluar dari kelas saya," ucap sang Dosen yang ternyata telah memerhatikan Alina, sejak dirinya masuk ke kelas.


"Saya tidak memaksa, jika kamu atau siapapun di sini, memang tidak ingin mengikuti kelas saya," lanjutnya, sembari menatap para mahasiswanya tanpa terkecuali.


Rasa kesal, itulah yang Alina rasakan sekarang. Memang salahnya, yang tidak membuka ponselnya dari semalam, hingga melewatkan pesan penting yang terkirim di grup kelasnya. Tapi, bukan tanpa alasan Alina melakukanya. Justru, karena manusia di hadapanya itu ia menjadi seperti sekarang.


Ingin rasanya, Alina berteriak kencang di muka Dosenya itu bahwa dialah penyebabnya. Tapi, itu sangat tidak mungkin, karena sama saja cari mati namanya.


Sekarang yang bisa Alina lakukan, adalah mengesampingkan egonya untuk meminta maaf pada Dosenya itu.


"Maaf, Pak. Lain kali saya tidak akan mengulanginya lagi," ucap Alina tegas.


"Hm. Simpan ponselmu, dan jangan ulangi lagi," sahut Dosen itu.


'S1al4n! Kalau bukan Dosen, 'udah gue lempar sepatu mukanya yang datar itu," batin Alina kesal.

__ADS_1


Suasana masih sama, hening. Hal itu karena sang Dosen belum mengeluarkan suaranya, atau meminta mahasiswanya untuk melakukan sesuatu. Hingga sekian menit kemudian, barulah sang Dosen mengeluarkan suaranya.


"Baik, saya rasa kalian semua sudah membaca pesan di grup kelas, tentang alasan saya hari ini mengisi kelas ini sekarang. Padahal, jadwal saya adalah besok. Jadi, saya tidak perlu memberitahu kalian lagi." ucap Dosen itu.


"Sekarang, kita langsung lanjutkan materi terakhir yang saya berikan kemarin," ucapnya melanjutkan.


Waktu terus berjalan, hingga tak terasa kelas yang diampu Dosen itu telah selesai. Setelah mengucapkan kalimat perpisahan, Dosen itu bergegas pergi dari kelas Alina.


"Cukup kelas saya hari ini. Materi selanjutnya kita lanjutkan dipertemuan berikutnya."


"Ada yang ingin ditanyakan?" tanya Dosen itu pada mahasiswanya.


"Tidak, Pak," sahut para mahasiswa serentak.


Setelah mendengar jawaban mahasiswanya, tatapanya kini terkunci pada salah seorang mahasiswanya yang terlihat letih, pucat, dan tidak semangat. Dan dia adalah Alina, yang sebenarnya telah diperhatikanya sejak pertama kali masuk ke kelas ini tadi. Bukan tanpa alasan ia memerhatikan Alina diam-diam, karena mahasiswanya itu terlihat berbeda dari biasanya yang ceria dan fokus pada materi yang tengah dijelaskan.


" Alina, ke ruangan saya setelah ini."


Alina yang hendak protes, seketika tidak jadi karena Dosenya itu sudah pergi dahulu dari kelasnya dan seolah tidak menerima penolakan.


"Terima kasih," ucapnya mengakhiri pertemuanya di kelas Alina hari ini.


******


"Loe ada masalah sama Pak Nicho?" tanya Tasya pada Alina.


"Nggak ada kok," balas Alina.


"Yakin?" tanya Tasya meyakinkan.


Alina hanya menganggukan kepalanya, lalu melangkah keluar kelas menuju ruangan Dosenya, Nicho.


Nicholas Alejandro, Dosen tampan berusia 31 Tahun. Tidak hanya tampan, tapi Nicho adalah Dosen yang kaya raya. Karena sebenarnya, menjadi Dosen hanyalah pelarianya dari yang semula pewaris perusahaan besar dan ternama, memilih menjadi seorang Dosen demi mempertahankan pernikahanya yang tidak direstui orang tuanya.

__ADS_1


Demi cinta, Nicho mampu mengorbankan segalanya, termasuk merelakan jabatanya yang merupakan calon pemimpin di perusahaan besar keluarganya. Dan menjadi orang biasa. Bahkan, Nicho pun sampai menghapus marga keluarganya.


Ya, Nicho memang telah menikah sejak tiga tahun lalu. Tapi, hingga sekarang belum dikaruniani anak. Menurut rumor yang beredar, istri Nicho menglamai kecelakaan tunggal yang menyebabkanya kehilangan rahim dan bayinya, sebab saat itu ia tengah mengandung 4 bulan. Walau begitu, Nicho tetap mencintai istrinya tanpa memandang kekuranganya.


Hingga selama ini, Nicho tetap merasa bahagia, dan menikmati profesinya sebagai seorang Dosen. Tapi, tidak sejak malam itu. Malam dimana Nicho merenggut kegadisan mahasiswanya sendiri dalam keadaan tidak sadar.


Walau begitu, Nicho bukanlah pria bajingan yang tega tidak bertanggung jawab dengan apa yang sudah diperbuatnya. Hanya saja, mahasiswanya itu menolaknya, apa lagi dengan status telah menikah, membuat mahasiswanya itu jelas-jelas sangat tidak sudi menjadi yang kedua.


Membayar orang suruhan untuk mengawasi mahasiswanya itu tanpa diketahui, adalah jalan yang Nicho ambil setelah malam itu. Nicho hanya takut, jika mahasiswanya itu bunuh diri atau melakukan hal nekad lainya.


Tasya yang melihat sahabatnya keluar, segera menyusulnya dan menyamai langkahnya hingga sampai di depan ruangan Nicho. Tapi, karena tidak ada kepentingan, Tasya hanya menunggu di luar dan membiarkan Alina masuk ke dalam sendirian.


******


"Permisi, Pak," ucap Alina sopan setelah mengetuk pintu.


"Masuk," sahut Nicho mempersilahkan Alina memasuki ruanganaya.


Perlahan, Alina melangkah mendekati Nicho yang terlihat tengah mengotak-atik laptopnya dengan fokus.


Setelah merasa Alina telah berada di depan mejanya, Nicho mempersilahkannya duduk. Hanya duduk, tanpa mengucapkan kata-kata lagi.


"Pak?" panggil Alina yang telah merasa bosan, karena diabaikan selama kurang lebih 15 menit.


"Hm," sahut Nicho tanpa menghentikan kegiatanya.


"Ada apa Bapak memanggil saya?" tanya Alina memberanikan diri untuk bertanya.


Mendengar pertanyaan Alina, dengan segera Nicho menghentikan kegiatanya yang memang telah selesai sekian detik tadi, lalu menutup laptopnya.


"Kamu ...."


Bersambung ...

__ADS_1


__ADS_2