
"Maafkan saya, Pak. Saya akan berusaha mengingat dan menuruti ucapan Bapak. Tapi, saya mohon jangan paksa Aira untuk menjauh, karena saya takut kesehatanya akan memburuk jika terlalu ditekan," balas Neta dengan tulus.
Fokus dengan lawan bicaranya, keduanya sampai tak menyadari adanya seseorang yang tengah mengintai keduanya, dan juga memotret serta merekamnya untuk dijadikan laporan yang akan diberikan pada atasanya.
"Ini sudah cukup, untuk laporan sama Tuan Nicho. Kasihan sekali, Nyonya. Pasti nanti mendapat amarah dari Tuan Nicho," gumamnya sambil menatap gambar istri majikanya bersama pria lain di layar handponenya.
******
Mobil milik Nicho berhenti di sebuah rumah berukuran cukup besar, untuk jumlah penghuninya nanti yang jelas tak seimbang dengan ukuran rumah itu.
Rumah yang terletak di komplek perumahan elit, akan menjadi tempat tinggal Alina yang baru. Melewati gerbang dengan tinggi melebihi ketinggian manusia, membuat Alina kagum sekaligus bingung.
'Gede banget rumahnya. Gue kira cuma di sinetron, rumah kayak gini. Perasaan, Pak Nicho cuma Dosen. Kok bisa punya rumah sebesar ini,' batin Alina yang tak berhenti untuk menatap sekeliling rumah itu
'Jangan-jangan, Pak Nicho korupsi lagi. Enggak-enggak, nggak mungkin Pak Nicho korupsi. Ogah gue, kalau sampai ini semua hasil korupsi.' Alina menggeleng-gelengkan kepalanya, mengusir pikiran-pikiran negatif yang terlintas di pikiranya.
Alina tak habis pikir, untuk apa Dosenya itu memilih rumah sebesar itu untuknya. Padahal, Alina hanya berharap rumah yang sederhana, dan memiliki tetangga, sekaligus bisa bergaul dengan tetangganya nanti. Jika rumah seperti ini, tentu dirinya akan kesepian. Itu yang Alina pikirkan.
__ADS_1
Pagar yang mengelilingi rumah, gerbang yang tinggi, juga bertetangga dengan rumah yang tak kalah besarnya dengan rumahnya. Bagaimana dirirnya bisa berinteraksi dengan orang lain, jika kondisi rumahnya saja seperti ini. Itulah yang membuat Alina bingung.
"Pak, kita nggak salah rumah? Besar banget loh ini. Saya 'kan cuma sendiri nanti, yang ada malah jadi rumah hantu nanti." Alina mengalihkan atensinya yang semula terpusat pada kemegahan rumah barunya itu.
"Tidak. Ayo masuk," balas Nicho yang langsung menggandeng Alina untuk memasuki rumah barunya itu.
Bukan tanpa alasan Nicho memilih rumah ini. Justru, dengan keadaan rumahnya yang besar, juga bertetangga dengan rumah yang sama besarnya pula, itu meminimalisir interaksi Alina dengan orang lain. Juga, para pemilik rumah di sekitarnya, jelas orang sibuk dan tak ada waktu untuk sekedar berkenalan dengan tetangganya.
Nicho hanya ingin, tak ada yang menggosipi rumah tangganya nanti, mengingat dirinya tak bisa setiap hari berada di samping Alina. Dan Nicho tak ingin, ada yang menggunjing Alina karena dalam keadaan hamil dan dengan keadaan suami yang jarang bersamanya.
Bahkan, Nicho melarang para pekerjanya untuk ikut campur, atau menyebarkan apapun yang terjadi di rumah ini nanti, walaupun itu pada keluarganya atau temanya sendiri. Selain itu, para pekerjanya nanti tidak diperbolehkan menggunjing atau terlalu kepo dengan masalah majikanya. Nicho telah mempersiapkan dengan matang, semua yang berhubungan dengan Alina.
*******
"Saya rasa, ini berlebihan. Apa nggak sebaiknya cari rumah yang sederhana saja, yang setara dengan penghuninya?" Alina menatap Nicho yang tengah duduk di sofa ruang tamu rumah itu.
Sebenarnya, rumah itu bukan rumah yang sebesar rumah di negeri dongeng. Bahkan, rumah ini belum seberapa dengan rumah utama keluarganya, dan juga rumah yang diringgalinya dengan Neta.
__ADS_1
Nicho sudah memprediksi, kalau Alina akan menolak jika ditempatkan di rumah yang mewah. Maka dari itu, Nicho memilih rumah yang menurutnya lebih kecil. Tapi, entah kenapa Alina masih saja menganggapnya besar dan terlalu mewah.
"Ada yang sudah bisa ditempati, kenapa harus cari lagi?" Nicho seperti biasa, menjawab pertanyaan dengan pertanyaan juga.
"Tapi ...." Alina merasa ini berlebihan, mengingat statusnya yang hanya simpanan.
Alina masih berusaha untuk sadar diri, untuk membentengi dirinya agar tak terlena dengan kebahagiaan yang Dosenya berikan. Kebahagiaan yang bisa saja kebahagiaan sesaat saja.
"Alina, saya sudah mempersiapkan ini semua demi kamu. Jadi, bisakah kamu menghargainya?" tanya Nicho yang membuat Alina merasa bersalah.
"Maaf," cicit Alina.
Nicho menarik Alina yang masih berdiri sambil kini menundukan kepalanya, hingga terduduk di pangkuanya.
"Pak Nicho?"
Bersambung ...
__ADS_1