
"Sekarang atau nanti, itu sama saja. Justru, semakin lama kamu pendam, mereka akan semakin kecewa," ucap Nicho panjang lebar.
"Jangan lari dari masalah. Kita hadapi bersama-sama, saya tidak akan lari dari tanggung jawab." Nicho menatap Alina yang kini sudah meneteskan air matanya.
Tak menjawab, justru tangisan Alina semakin jelas. Hal itu membuat hati Nicho merasa sesak. Dengan pelan, Nicho memeluk Alina, yang langsung disambut dengan hangat oleh Alina.
Mendapat pelukan dari Dosenya sendiri, Alina tak dapat mengendalikan tubuhnya sendiri, yang justru menerima pelukan Dosenya itu dengan hangat. Walaupun, hati dan akalnya menolak, tapi tidak dengan tubuhnya.
Keduanya hanyut dengan kehangatan pelukan itu, hingga tak menyadari, jika seseorang membuka pintu UKS dan melihat adegan romantis itu.
"Nicho?!"
*******
"Nicho?!"
Mendengar seruan seseorang, Nicho dan Alina sontak kaget. Refleks, keduanya langsung melepaskan pelukan itu.
Seorang itu menatap mengintimidasi Nicho dan Alina. Ekspresinya masih tak percaya, telah melihat pemandangan yang bahkan tak pernah terbayangkan dibenaknya sejak dulu.
"Gue nggak nyangka, lo ada hubungan spesial dengan mahasiswa lo sendiri," ucapnya yang masih menatap kedua anak adam yang telah tertangkap basah sedang berpelukan dengan mesra di UKS.
__ADS_1
"Ini tidak seperti yang lo pikirkan," sahut Nicho dingin.
"Lalu?" tanyanya dengan mengangkat sebelah alisnya.
Alina yang berada di ranjang pasien, sekaligus berada tepat di samping Nicho, tak mampu kengeluarkan sepatah kata pun. Yang bisa Alina lakukan, hanya menundukan wajahnya, karena merasa malu kepergok pelukan dengan Dosennya sendiri di UKS, dengan kondisi ruangan yang sepi.
"Lo nggak perlu tahu, Alan," jawab Nicho yang masih saja bisa berekspresi datar, seolah tak panik setelah kepergok pelukan dengan mahasiswanya sendiri, dan dengan statusnya yang merupakan pria beristri.
Alan Ragawijaya, termasuk salah satu Dosen muda yang tampan. Alan adalah teman paling dekat Nicho selama kuliah hingga sekarang. Bahkan, Alan rela bolak-balik perusahaan dan kampus, agar tetap bisa dekat dengan Nicho.
"Sejak kapan, diantara kita ada rahasia?" tanya Alan tak seperti biasanya yang suka bercanda.
"Maaf, Pak Alan. Kami memang tidak ada apa-apa," ucap Alina, yang akhirnya memberanikan diri untuk berbicara.
Alan masih menatap intimidasi Nicho dan Alina. Dari raut wajahnya, terlihat Nicho masih belum sepenuhnya percaya.
"Baiklah. Untuk sekarang, gue masih percaya sama lo Nick," ucap Alan yang sekarang memilih menekan perasaanya yang masih ragu.
"Dan kamu Alina, saya harap kamu bisa jaga batasan. Dosenmu, bukan lagi pria single," ucap Alan yang justru membuat Alina merasa tersentil.
Apa yang Alan katakan untuknya, membuat Alina merasa telah menggoda Dosenya sendiri. Keraguan yang sempat menguap karena dukungan dari Nicho, kini lenyap. Keraguan dan rasa bersalah kembali menguasai hatinya.
__ADS_1
Bagaimanapun juga, Alina adalah seorang wanita. Dia bisa merasakan, sakitnya dikhianati oleh pria, walaupun dirinya belum pernah merasakanya. Hal inilah, yang Alina takutkan. Mendapat pandangan buruk, atau bahkan dicap sebagai pelakor, jika sampai ada yang tahu kedekatanya dengan sang Dosen.
"Inget Nick, lo punya istri," ucap Alan sebelum meninggalkan Nicho yang masih diam tak berekspresi, juga Alina yang kini mematap Alan dengan pandangan yang sulit dimengerti.
******
"Apa yang kamu pikirkan?" tanya Nicho, saat melihat Alina yang sejak tadi diam, dan hanya mengamati pemandangan dari luar jendela mobil.
Kini, Nicho dan Alina berada di dalam satu mobil yang sama, setelah Nicho memaksa untuk mengantarkanya. Alina yang tengah malas berdebat, akhirnya terpaksa mau dan hanya mengirimkan pesan singkat pada sahabatnya, jika ia pulang bersama ayah biologis janinga, agar sahabatnya itu tak khawatir.
"Jangan kamu pikirkan, yang Alan katakan tadi. Dia tidak tahu apa-apa, dan dia tidak berhak ikut campur urusan kita," ucap Nicho panjang lebar, karena ia bisa menebak, jika Alina diam karena terpikirkan oleh kata-kata Alan yang secara tidak langsung telah menuduh Alina menggodanya.
Alina masih diam, tapi tatapanya kini mengarah pada sosok Nicho. Pria yang berstatus Dosennya. Pria yang dingin dan datar, tapi mungkin hanya berlaku untuk orang lain. Karena nyatanya sekarang, Nicho kerap berbicara panjang lebar denganya, walaupun tetap minim ekspresi.
"Yang Pak Alan katakan, itu benar. Saya harus jaga batasan dengan Bapak, kalau tidak ingin dicap sebagai pelakor," ucap Alina dengan matanya yang berkaca-kaca.
"Saya sudah bilang, jangan pikirkan apapun yang Alan katakan tadi. Kita harus mengesampingkan ego kita, agar anak ini punya status yang jelas," sahut Nicho sambil memegang sebelah tangan Alina, disaat satu tanganya masih ia gunakan untuk menyetir.
"Lalu istri Bapak?" tanya Alina.
Bersambung ...
__ADS_1
Baca juga ceritaku yang lain. Yang berjudul ~ Pengganti sang Kembaran Juga Tentara dan Perawat Cantik ~