
Neta yang sedari tadi mendengar penjelasan suaminya, seketika emosinya redam. Hatinya lega, karena segala prasangka buruknya pada suaminya ternyata salah.
"Beneran?" tanya Neta meyakinkan.
"Pernah, aku bohong sama kamu?" tanya Nicho.
"Untuk sekarang aku percaya. Tapi, kalau sampai aku tahu kamu selingkuh, aku nggak akan segan buat bunuh wanita itu," ancam Neta dengan serius.
'Itu tidak akan terjadi, Neta. Maafin aku, tapi janin itu darah dagingku sendiri. Dan wanita itu, ibu dari anaku. Kewajibanku untuk melindunginya.' Nicho bertekad dalam hati, untuk selalu melindungi Alina dan anaknya.
'Aku memang salah. Tapi, aku tak bisa mengelak kalau aku sayang denganya,' ucap Nicho dalam hatinya, sambil memeluk istrinya itu sebagai tanda perdamaianya.
*******
"Lo yakin, mau ke rumah orang tua Lo lagi?" tanya Tasya, setelah keduanya menyelesaikan mata kuliahnya yang terakhir.
"Yakin nggak yakin sih," sahut Alina ragu dan dengan jawaban yang tak sesuai harapan Tasya.
Tasya berdecak mendengar sahabatnya yang menjawab pertanyaanya seperti itu. Keduanya berjalan menuju parkiran, untuk mengambil kendaraanya.
__ADS_1
Sebenarnya, karena hari ini hanya ada dua mata kuliah, Tasya hendak mengajak Alina untuk nongkrong di kafe dekat kampus, yang merupakan kafe langganan para mahasiswa, khususnya mahasiswa dimana Alina dan Tasya kuliah.
Namun, Alina menolak dengan alasan akan pergi ke rumah orang tuanya lagi setelah ini, sesuai ucapanya kemarin sebelum pergi dari rumahnya.
"Ck. Lo gimana sh, kok yakin nggak yakin," decak Tasya yang kini berdiri di sebelah mobilnya.
"Iya gimana. Gue takut, doain aja ya Na," ucap Alina seadanya.
"Pasti gue doain, Alina," jawab Tasya.
"Makasih. Eh eh, itu 'kan Ciko." Alina menunjuk seorang laki-laki bertubuh gagah, tinggi dan tampan yang berjalan dengan seorang gadis cantik di sampingnya.
Apapun berita tentang Ciko, Tasya pasti mengetahuinya. Hanya saja, Ciko laki-laki populer, tidak seperti dirinya yang biasa-biasa saja, maka dari itu Tasya hanya bisa mengagumi dan menyukainya dari jauh. Tasya cukup merasa sadar diri dan sadar posisi.
Apa lagi, Ciko pun merupakan salah satu anak konglomerat jakarta, membuatnya semakin insecure. Bukan berarti Tasya orang miskin, tapi untuk laki-laki sekelas Ciko, itu masih berada diatasnya.
Menurut Tasya, melihatnya dari jauh saja sudah membuatnya bahagia. Walaupun, ada rasa tidak suka ketika dirinya mendengar Ciko berdekatan dengan perempuan lain, tapi Tasya hanya bisa diam. Tidak mungkin 'kan, dirinya melarang, memang siapa dirinya, itu yang ada dalam benak Tasya.
"Eh iya, itu Ciko," sahut Tasya antusias.
__ADS_1
"Tapi sayang, lagi sama 'tu cewek ganjen," lanjut Tasya, seolah tak berkaca pada dirinya, yang juga tak beda jauh, karena matanya langsung tak bisa dikondisikan saat melihat Ciko.
"Nggak masalah kali, kan dia jomblo," ucap Alina yang membuat Tasya semakin jengkel.
"Iya tapi jangan sama si Yuna juga. Dia 'kan sasimo," balas Tasya dengan ekspresi wajahnya yang cemberut.
"Ya biarin lah. Mau sama Yuna kek, atau siapapun, itu hak dia. Kamu 'kan bukan siapa-siapanya Ciko." Alina masih saja mengatakan yang membuat Tasya semakin sadar saja, jika kekesalanya itu tidak berarti apa-apa, karena dirinya bukan siapa-siapa untuk Ciko. Bahkan, tahu dirinya hidup pun, mungkin tidak.
"Makanya, deketin. Diambil orang nanti nangis," ledek Alina dengan puas, karena berhasil mengompori sahabatnya, untuk mendekati idola mahasiswa itu.
"Bodo. Kesel gue sama lo," ketus Tasya.
Alina langsung tertawa keras, sedangkan Tasya semakin cemberut karenanya.
"Eh Na. Ciko ke sini, Nana." Alina dengan heboh menepuk-nepuk pundak sahabatnya dengan keras.
"Apa?!"
Bersambung ...
__ADS_1