Istri Simpanan Dosen

Istri Simpanan Dosen
43.


__ADS_3

Nicho sudah memprediksi, kalau Alina akan menolak jika ditempatkan di rumah yang mewah. Maka dari itu, Nicho memilih rumah yang menurutnya lebih kecil. Tapi, entah kenapa Alina masih saja menganggapnya besar dan terlalu mewah.


"Ada yang sudah bisa ditempati, kenapa harus cari lagi?" Nicho seperti biasa, menjawab pertanyaan dengan pertanyaan juga.


"Tapi ...." Alina merasa ini berlebihan, mengingat statusnya yang hanya simpanan.


Alina masih berusaha untuk sadar diri, untuk membentengi dirinya agar tak terlena dengan kebahagiaan yang Dosenya berikan. Kebahagiaan yang bisa saja kebahagiaan sesaat saja.


"Alina, saya sudah mempersiapkan ini semua demi kamu. Jadi, bisakah kamu menghargainya?" tanya Nicho yang membuat Alina merasa bersalah.


"Maaf," cicit Alina.


Nicho menarik Alina yang masih berdiri sambil kini menundukan kepalanya, hingga terduduk di pangkuanya.


"Pak Nicho?"


******


"Ini kamar kita. Kamu suka?" Nicho menatap Alina yang sedari tadi tak pernah berhenti kagum dengan keindahan dan kemegawah rumah barunya itu.


"Alina?" Nicho memanggil Alina, karena pemilik nama itu bahkan sampai tak sadar karena kekagumanya yang berlebihan, dan tak menyadari jika suaminya itu bertanya padanya.


"Ah ya?" Alina kaget dan tersadar dari kekagumanya.


"Ini kamar kita. Kamu suka?" tanya Nicho mengulang pertanyaanya yang belum sempat Alina jawab.


"Kamar k-kita?" beo Alina gugup.


"Ya, kamar kita. Lalu kamar siapa, kalau bukan kamar kita," ucap Nicho.


Alina mengedarkan ke setiap sudut kamar dengan ukuran yang begitu luas dan mewah itu. Dapat Alina tebak, jika kamar ini adalah kamar utama, karena terletak lebih strategis daripada ruangan lain, juga ukurannya yang paling besar dan mewah.

__ADS_1


"Emm, kita nggak pisah ranjang?" tanya Alina dengan hati-hati.


Mendengar pertanyaan Alina, Nicho mengeraskan rahangnya. Nicho sangat tidak suka, ketika Alina menjaga jarak denganya. Selama ini, bukanya tak tahu jika Alina terkadang seakan menjaga jarak denganya. Tapi, Nicho membiarkannya karena belum terikat hubungan apapun. Berbeda dengan sekarang, dengan Alina berstatus istrinya, Nicho tak akan membiarkan Alina menjaga jarak denganya lagi.


"Kamu terinspirasi dari novel yang kamu baca? Atau sinteron yang kamu tonton hm?" tanya Nicho menatap Alina dingin.


Alina menggaruk-garuk tengkuknya yang tak gatal. "Em, enggak-enggak."


"Lalu?" Nicho menatap Alina dengan menahan tawanya, karena merasa lucu dan gemash dengan tingkah Alina saat takut denganya.


*******


Menjalani hari tanpa sahabatnya, Tasya sangat merasa kesepian. Bahkan, Tasya kini terlihat seperti anak ayam yang kehilangan induknya. Bagaimana tidak, kalau sekarang Tasya tengah celingak-celinguk mencari bangku di kantin, dengan tangan memegang nampan berisi makanan dan minuman pesananya sendirian. Ingat, sendirian.


Kondisi kantin yang sangat ramai, bahkan memenuhi seluruh bangku kantin, membuat Tasya frustasi. Tangan dan kakinya sudah pegal, tapi matanya belum juga menangkap bangku yang belum ada pemiliknya.


'Astaga, perasaan tadi pas lagi pesan masih ada bangku kosong. Kenapa giliran udah pesan makanan nggak ada bangkunya. Ya kali 'kan, gue lesehan di sini,' gerutu Tasya sebal.


"Hei." Seseorang mengagetkan Tasya yang tengah berdiri dengan mata melihat sekeliling. Beruntung, nampan ditanganya tidak tumpah. Bayangkan saja kalau sampai tumpah, udah malu, mubazir lagi makananya.


"Astaga, Ciko." Tasya menatap seseorang yang mengagetkanya tadi.


Ciko, dialah orangnya. Saat tengah menikmati makananya, matanya tak sengaja melihat seseorang yang sangat dikenalinya terlihat tengah bingung mencari tempat duduk. Jelas saja, Ciko dengan rela menghentikan acara makanya dan menghampiri Tasya, untuk mengajaknya duduk bersama. Bahkan, Ciko rela mengusir temanya yang kebetulan sudah selesai makan, hanya tinggal menunggu dirinya yang belum selesai.


"Belum ada tempat duduk 'kan? Duduk bareng gue aja." Ciko yang dengan percaya dirinya langsung mengajak Tasya duduk denganya.


Tasya jelas saja tidak menolak, apa lagi ini adalah kesempatan. Selain mendapat tempat duduk, Tasya juga bisa sekalian modus sama Ciko.


"Iya," balas Tasya yang langsung mengikuti langkah Ciko.


******

__ADS_1


"Tumben lo sendiri?" tanya Ciko heran, karena biasanya Tasya kemana-mana selalu dengan sahabatnya yang satu itu, Alina.


"Alina? Dia nggak masuk," jawab Tasya seadanya.


"Sakit?" tanya Ciko yang masih penasaran.


"Nggak tahu," jawab Tasya, yang jelas saja nggak mungkin jujur, kalau Alina habis menikah kemarin.


Pernikahan Alina sangat rahasia, walaupun Tasya datang, tapi Tasya dilarang memberitahu siapapun termasuk keluarga sendiri.


"Nggak tahu? Lo 'kan sahabatnya," ucap Ciko tak habis pikir dengan Tasya.


"Iya gue sahabatnya. Tapi, gue bukan orang tuanya. Nggak semua urusan Alina gue tahu, dia juga butuh privasi," sahut Tasya.


Keduanya kembali fokus menghabiskan makananya, dengan sesekali saling melempar pertanyaan hingga candaan. Dan itu, menyulut amarah seorang gadis yang selalu mengejar-ngejar Ciko. Siapa lagi kalau bukan Yuna


Yuna baru saja memasuki kantin bersama kedua temanya, tapi matanya langsung disuguhi pemandangan yang menyulut emosinya.


Kedua teman Yuna, langsung paham saat melihat temanya itu wajahnya merah karena menahan emosi. Cowok pujaanya tengah makan bersama dengan cewek lain, itulah penyebabnya.


"Yun, nggak usah aneh-aneh," ucap Siska salah satu teman Yuna, yang tak ingin temanya itu berbuat hal yang bisa membuatnya malu, karena ini berada di muka umum.


"Jangan cari ribut deh. Malu," ucap temanya yang lain, ikut mendukung Siska.


"Kalian nggak usah ikut campur," ketus Yuna yang langsung menghampiri meja Ciko dan Tasya.


Brak


"Lo?!"


Bersambung ...

__ADS_1


__ADS_2