
Tak tega melihat Alina menangis pilu, Tasya membawa Alina ke dalam pelukanya. Berusaha menenangkan sahabatnya.
"Keluarga lo pasti kecewa, tapi lo harus siap mendapat konsekuensinya setelah apa yang lo lakukan," ucap Tasya.
"Gue nggak sengaja, ini bukan keinginan gue," jawab Alina, yang masih dalam posisi di dalam pelukan sahabatnya.
Tasya tak mengerti, dengan ucapan Alina bagaimana mungkin melakukan itu tanpa keinginanya sendiri.
"Siapa ayahnya?" tanya Taaya serius.
"Dia ...."
*******
"Dia ..., Dosen kita," ungkap Alina lirih, bahkan hampir tak terdengar.
"Dosen kita?! Siapa?" Tasya dengan pendengaran yang masih tajam, tentu mendengarnya dengan jelas, dan itu membuatnya sangat kaget setelahnya.
Bagaimana mungkin dengan seorang Dosen. Berbagai pikiran buruk menghampiri Tasya. Mulai dari sahabatnya yang menjadi simpanan Dosen karena nilai, atau karena alasan lainya.
__ADS_1
"Lo nggak mungkin jadi simpanan Dosen 'kan Alina?" tanya Tasya berharap kalau sahabatnya mengatakan tidak.
"Nggak," lirih Alina.
"Terus?" tanya Tasya semakin penasaran.
Alina menghembuskan napasnya pelan. "Pak Nicho, dia ayahnya."
"What?!" teriak Tasya dengan mata yang melotot seakan mau keluar.
"Ini bukan kesengajaan Na. Janin ini, hadir bukan karena kesengajaan," jelas Alina dengan wajah frustasinya.
Apa lagi, kini ada janin di perut sahabatnya, membuat otak Tasya seakan buntu, untuk ikut mencari solusi dari masalah sahabatnya itu. Bahkan, jikalau dirinya yang berada dalam posisi itu, pasti akan merasa bingung juga putus asa, sama halnya dengan Alina. Masalah sahabatnya itu, semakin sulit untuk mencari solusinya, karena tidak adanya hubungan spesial antara sahabat dan Dosenya.
Jadi, jelas itu bukan keinginan keduanya. Dan yang menjadi korban, adalah janin itu juga sahabatnya.
"Jujur, gue juga bingung dengan masalah lo yang rumit ini. Masalahnya, akan ada hati yang tersakiti, kalau tau lo tengah mengandung anak Pak Nicho. Apa lagi, kalau sampai meminta tanggung jawabnya," ucap Tasya.
"Tapi, kalau lo ngalah. Ada hati dan masa depan anak lo nanti yang akan menjadi korban. Bukan hanya itu, masa depan lo juga ikut menjadi korbanya," lanjut Tasya, sembari menatap perut rata Alina.
__ADS_1
Alina menatap dalam mata Tasya. " Terus gue harus apa Nana. Gue juga nggak mau, jadi istri keduanya, seandainya dia bertanggung jawab."
"Secara tidak langsung, gue menjadi pelakor di rumah tangga Pak Nicho dan istrinya." Alina mengalihkan tatapanya, pada langit-langit rumah sakit. Menghalau air matanya, agar tak kembali mengalir membasahi pipinya.
Terdiam sejenak, Tasya bergelut dengan pikiranya sendiri. Keheningan melanda keduanya selama beberapa menit, atau bahkan hampir tiga puluh menit.
"Saran gue, perjuangkan masa depan anak lo. Setidaknya, bertahan sampai anak lo lahir. Dan setelahnya, itu terserah lo dan Pak Nicho yang memutuskan untuk lanjut, atau berhenti sampai di situ," ucap Tasya tanpa ragu.
"Kalau lo nikah sebelum anak ini lahir, akan ada nama Pak Nicho di akta kelahiran anak lo. Jadi, anak lo nggak akan dihina atau dikucilkan," lanjut Tasya yang kini mengamati ekspresi wajah Alina.
"Tapi Pak Nicho punya istri Nana. Gue nggak mau jadi istri keduanya," tolak Alina yang tak sepenuhnya setuju dengan saran Tasya.
"Itu risiko yang harus lo tanggung. Bicara baik-baik dengan Pak Nicho dan istrinya, dan jaga hati lo agar nggak jatuh cinta dengan Pak Nicho, sebelum ada kepastian akan rumah tangga kamu, seandainya nanti Pak Nicho mau bertanggung jawab, dan istrinya mau menerima jika dirinya akan dimadu," sahut Tasya memberi saran.
Alina terdiam dengan saran yang Tasya berikan. Menimbang-nimbang apakah harus dirinya melakukan itu, atau mencari solusi lainya yang lebih baik.
"Gue ...."
Bersambung ..
__ADS_1