Istri Simpanan Dosen

Istri Simpanan Dosen
28.


__ADS_3

Walaupun, sebenarnya Nicho tak tahu seperti apa pernikahan keduanya nanti, tapi hati Nicho seakan tak rela saat Alina mengatakan itu.


"Istri saya tidak perlu tahu," ucap Nicho ikut nimbrung pembicaraan Alina dan orang tuanya.


"Dan perlu saya ingatkan, pernikahan ini berjalan bukan hanya sampai anak ini lahir, tapi ...." Nicho menatap Alina dan kedua orang tua Alina.


Semua orang menunggu Nicho melanjutkan kalimatnya dengan penasaran, tak tekecuali Alina yang jantungnya berdebar tak karuan menanti kelanjutan kalimat Nicho.


"Tapi apa?" tanya Bisma mewakili rasa penasaran istri dan putrinya.


Nicho menatap dan mengamati satu persatu ekspresi kedua orang tua Alina dan juga Alina.


"Selamanya," lanjut Nicho.


*******


"Ekhem," dehem Ciko memecahkan keheningan yang melanda dirinya dengan Tasya.


Sepuluh menit berlalu, sejak keduanya memasuki kafe. Minuman dan makanan yang mereka pesan telah berada di depan mereka, tapi keduanya justru saling diam, karena tak tahu apa yang akan dibicarakan.


"Kenapa" Tasya menatap heran Ciko, sekaligus gugup, karena pertama kalinya dirinya jalan berdua saja bersama seorang laki-laki.


Biasanya, yang menemaninya keluar itu cuma Alina. Hanya Alina, karena Tasya cukup sulit untuk bersosialisasi, apa lagi dengan laki-laki. Karakternya yang cuek dan galak dengan laki-laki, membuatnya tak pernah berpacaran selama ini.


Rasanya, jantung Tasya seperti akan melompat keluar, karena detakanya yang terlalu cepat. Bagaimana tidak, jika dirinya belum pernah jalan dengan seorang pria, sekalinya jalan bersama pria yang disukainya diam-diam.

__ADS_1


"Nggak papa. Canggung aja, jadi diam-diaman gini," balas Ciko jujur dengan apa yang dirasakanya.


"Hmm, emang sih. Ah iya, ini nggak ada yang marah, kita berduaan gini di kafe?" tanya Tasya memulai obrolan, sekaligus mengorek status pria tampan pujaan hatinya ini.


"Nanti, salah paham lagi," lanjut Tasya sambil tertawa pelan.


"Nggak ada," jawab Ciko jujur.


Tasya bersorak senang dalam hatinya, karena akhirnya mendengar status Ciko, dari orangnya langsung. Bukan seperti biasanya yang hanya gosip, dan tidak terjamin kebenaranya. Dan itu artinya, masih ada kesempatan untuk dirinya menjadikan Ciko kekasihnya, walaupun itu kecil kemungkinan.


'Huh tenang, masih ada kesempatan. Nggak papa 'kan, berharap. Siapa tahu rezeki,' batin Tasya girang.


Saking senangnya, sampai Tasya tak sadar dirinya tanpa sengaja senyum-senyum sendiri. Hal itu membuat Ciko heran, karena tingkah Tasya yang aneh.


"Ada yang lucu?" tanya Ciko lagi, takut apa yang ada didirinya membuat gadis di depanya itu ilfil.


'Astaga malunya, lo sih ngapain senyum-senyum sendiri. Jangan sampai, Ciko ilfil sama gue, karena nyangka kalau gue gila,' gerutu Tasya kesal dengan dirinya sendiri.


"Nggak kok," jawab Tasya dengan canggung, karena kepergok senyum-senyum sendiri tanpa sebab.


"Bukanya, kamu sama Yuna?" tanya Tasya lagi, untuk menutupi rasa malunya, sekaligus mengalihkan pembicaraan.


Ciko maklum, kalau Tasya bertanya hubunganya dengan Yuna. Karena bukan hanya Tasya, tapi hampir semua mahasiswa bertanya-tanya ada hubungan apa, dirinya dengan Yuna.


Bukan tanpa sebab, para mahasiswa menggosipi Ciko dengan Yuna, dan bertanya-tanya mengenai kejelasan hubungannya itu dengan Yuna. Wanita itu selalu mengikutinya kemanapun pergi, bahkan ketika memilih kampus dulu.

__ADS_1


Bukan cuma itu, Yuna pun ikut mendekati orang tua Ciko, dan selalu bersikap manis di depan orang tua Ciko. Dan yang paling gilanya, Yuna akan melabrak para wanita yang secara terang-terangan menyatakan cinta pada Ciko, bahkan sampai membulynya.


"Kenapa?" tanya Ciko.


"Kenapa tanya itu? Kalau gue nggak ada apa-apa sama Yuna, lo mau sama gue?" Ciko malah menggoda Tasya, hingga pipi gadis itu merah dan salting.


"Apaan sih." Tasya membuang mukanya, menghindari tatapan Ciko, dan untuk menutupi malunya.


Ciko langsung tertawa, karena menyadari jika Tasya salting dan pipinya merah bak kepiting rebus karenanya. Ternyata, gadis galak seperti Tasya bisa salting, itu yang membuat Ciko tertawa dengan puas.


'Ciko! Hati gue meleleh. Please tanggung jawab!" Tasya berteriak dalam hatinya, tak kuat dengan godaan Ciko.


*******


"Pak Nicho!" sentak Alina, tak terima dengan apa yang Nicho katakan, walau sebenarnya dalam hati, ada rasa bahagia yang menyelinap


Memang serakah, itu yang Alina rasakan saat ini. Semakin dekat hubunganya dengan Dosenya itu, Alina merasa semakin tak ingin melepaskannya. Bahkan, Alina merasa sangat berdosa dengan istri Nicho, yang pasti sangat sakit hati jika sampai mengetahuinya. Tapi, lagi-lagi Alina hanyalah manusia biasa, yang kerap sekali khilaf dan punya rasa egois, layaknya manusia lain.


Apa lagi, semakin kesini Nicho bersiap sangag manis denganya, dan membuatnya semakin jatuh dalam pesona laki-laki itu.


"Cukup!" Bisma menatap tajam Nicho.


"Kamu ...."


Bersambung ...

__ADS_1


__ADS_2