
"Astaga, Pak Nicho lama banget sih. Udah ngiler ini," gerutu Alina sambil mengawasi Dosenya yang tengah menderita kepanasan sambil menunggu pesananya jadi.
Merasa sudah tak tahan untuk menunggu, Alina memutuskan untuk menyusul Nicho. Dengan hati-hati, Alina melangkah keluar dari mobil.
Melihat kanan kiri, untuk memastikan adanya kendaraan atau tidak, karena penjual rujak berada di seberang jalan yang lebar itu.
Merasa sudah yakin, Alina menyeberang jalan dengan hati-hati. Tapi, sayangnya sebuah motor melaju kencang dan tampak bingung dengan posisi Alina yang sudah berada di tengah jalan. Apa lagi, dengan rem motor yang agak blong, membuat pemotor itu panik.
Nicho yang tak sengajak melihat ke arah mobilnya, seketika dibuat panik, karena melihat Alina yang menyeberang jalan dengan sebuah motor yang mengarah ke Alina.
"Alina!" teriak Nicho sambil berlari, berusaha menyelamatkan Alina.
Brak
*******
Melihat tragedi secara langsung di depanya, yang melibatkan ibu dari anaknya itu, membuat jantung Nicho seakan ingin lepas dari tempatnya.
Tubuh Nicho terpaku di tempatnya, dengan napas yang naik turun tak beraturan. Jantungnya masih berdetak begitu cepat dan keras. Setitik air mata menetes dari kedua matanya, tanpa Nicho sadari.
Bukan, bukan karena Alina telah tertabrak pengendara motor itu. Tapi, karena rasa syukur yang begitu dalam Nicho. Alinanya selamat dan anaknya selamat. Nicho sangat bersyukur untuk itu.
"Pak Nicho?" Alina langsung menangis membalas pelukan Dosenya itu, setelah Nicho berada tepat di depanya dan memeluknya.
'Tuhan, terima kasih.' batin Nicho, mengucap rasa syukur yang begitu dalam dan tulus.
__ADS_1
"Pak?" panggil Alina, setelah melepas pelukanya dari Nicho.
"Hm?" Nicho menatap Alina, dan menghapus sisa-sisa air mata yang membekas di pipi.
Alina tak menjawab, tapi menatap seorang pengendara yang tampak masih sadarkan diri, sembari dibantu oleh masyarakat yang dengan rela menolongnya.
"Ayo," ajak Nicho, guna menghampiri sang pengendara motor.
"Pak, tapi saya takut hiks." Alina yang metasa bersalah, tentu jadi takut menghampiri pengendata motor itu.
"Ada saya, kamu nggak usah khawatir," ucap Nicho menenangkan Alina.
Akhirnya, Alina mau mengikuti Nicho menghampiri sang pengendara motor itu, walau dengan perasaan ragu.
Kesalahan ada pada Alina, karena mengira motor itu masih berada masih cukup jauh, dan Alina memutuskan menyeberang jalan, dan membuat pengendara motor itu bingung sekaligus panik.
Pengendara motor itu dengan rela langsung menabrakan dirinya pada sebuah pembatas jalan, untuk menghindari Alina dan pengendara lain. Oleh karena itu, Nicho merasa sangat berterima kasih.
"Masukan ke mobil saya. Saya yang akan bertanggung jawab," titah Nicho, sambil menunjuk mobilnya.
Para warga dengan sigap menggotong pengendara itu memasuki mobil Nicho, dan meletakanya di kursi belakang kemudi.
*******
"Maafkan saya ya, Pak. Karena kesalahan saya, Bapak jadi begini," ucap Alina sambil menahan tangis.
__ADS_1
"Tidak apa-apa, Mba. Lagian, saya masih selamat," balas pengendara motor itu, yang diketahui namanya Ibrahim, setelah sadar dari pingsanya.
"Bapak tenang saja, saya akan mengganti motor Pak Ibrahim. Dan sebagai rasa terima kasih saya, apa Pak Ibrahim mau bekerja dengan saya?" Nicho menatap Pak Ibrahim dengan serius.
"Tidak usah, Pak. Dibiayai pengobatan saya ini saja sudah sangat berterima kasih," tolak Pak Ibrahim, karena merasa tak enak, sebab saat dirinya bertanya perihal biaya rumah sakit pada seorang perawat yang merawatnya, tiba-tiba Nicho dan Alina masuk, dan menjawab bahwa biaya rumah sakit sudah dibayar lunas
Nicho salut dengan ketulusan dan kebaikan Pak Ibrahim, dan ingin mempekerjakannya di rumahnya nanti bersama Alina. Memang, Nicho telah menyiapkan sebuah rumah yang akan ditempati Alina.
Nicho ingin, menjadikan Pak Ibrahim salah satu orang kepercayaanya untuk menjaga Alina sekaligus rumahnya nanti. Karena, untuk menemukan orang setulus Pak Ibrahmi itu, tak mudah.
"Pak Ibrahim, saya mohon terima ya?" Alina memohon, karena itulah salah satu caranya untuk memebus kesalahanya.
Merasa tak enak dengan Nicho dan Alina, Pak Ibrahim akhirnya menerima permintaan Nicho dan Alina, untuk bekerja dirumahnya.
******
Disisi lain, seorang gadis tengah uring-uringan sendiri, karena pesanya tak kunjung dibalas oleh sahabatnya. Siapa lagi, kalau bukan Tasya.
Berkali-kali Tasya mengecek handphonenya, setiap ada bunyi notifikasi pesan. Dan berkali-kali pula, Tasya menelan kekecewaan, karena pesan itu bukan dari orang yang dinantinya. Hingga, sebuah nomor tak dikenal mengiriminya pesan.
Tasya membalas pesan itu, menanyakan identitas sang pengirim. Tak sampai satu detik, pemilik nomor tak dikenal itu langsung membalas pesan dari Tasya.
"Ciko?!"
Bersambung ...
__ADS_1