Istri Simpanan Dosen

Istri Simpanan Dosen
13.


__ADS_3

Nicho mengeraskan rahangnya, guna meredam amarahnya yang akan mencuat. Walau terlihat tidak serius saat Alina mengatakanya, tapi tidak menutup kemungkinan Alina bisa melakukanya. Sebab? inilah salah satu hal yang Nicho takutkan, jika tidak segera bertanggung jawab.


"Sebelum kamu menggugurkanua, kamu akan kehilangan semua orang yang kamu sayangi lebih dulu," ancam Nicho tak main-main.


Mencoba untuk tak terlihat takut, Alina justru kembali berkata seolah menantang ancaman Dosennya.


"Saya akan lapor polisi, jika ucapan Bapak memang nyata," tantang Alina berbanding terbalik dengan jantungnya yang bdrdetak begitu keras, takut Dosennya nekad.


"Polisi? Bahkan mereka akan tunduk dengan saya, hanya dengan uang dan kekuasaan. Kamu pasti tahu, bahwa hukum bisan dibeli sekarang." Nicho dengan santai saat menhatakan itu, karena memang faktanya. .


"Jaga anak saya, lusa saya akan datang ke rumah kamu," ucap Nicho.


"Bapak tidak tahu alamat rumah saya," sahut Alina dengan yakin.


"Itu bukan masalah bagi saya. Persiapkan saja kamu, dan beritahu keluarga kamu juga," ucap Nicho dengan angkuh.


"Tapi, Pak?"


*******


Waktu telah menunjukan pukul 02.00 dini hari. Tapi Alina masih belum bisa memejamkan matanya. Bukan tanpa sebab, Alina belum bisa untuk tidur. Karena setelah percakapan yang terjadi di mobil Dosenya itu, membuat diliputi rasa takut.


Alina dihantui rasa bersalah pada orang tuanya, karena telah mengecewakannya. Alina takut, sangat takut saat melihat reaksi orang tuanya mendengar kabar kehamilanya nanti.

__ADS_1


Namun, entah sekarang atau nanti menurutnya sama saja. Dirinya sama-sama mengecewakan orang tuanya, dan entah kata maaf akan terucap atau tidak oleh orang tuanya nanti, sungguh Alina tidak bisa membayangkanya.


Sekarang, Alina merasa perasaanya campur aduk. Antara rasa takut dan lega bercampur jadi satu. Ya, memang lega. Karena, Alina tak menyembunyikan kehamilanya dari sahabatnya, dan ayah biologis janinya lagi. Alina bisa berbagi keluh kesahnya tentang kehamilanya pada sahabatnya, dan tak memendamnya seperti biasa.


Saat dirinya menginginkan sesuatu yang tak masuk akal, atau deritanya orang hamil, Alina bisa menceritakan dan meminta bantuan sahabatnya. Itulah yang Alina pikirkan.


Merasa malam sudah sangat larut, akhirnya, dengan keras Alina berusaha memejamkan matanya. Karena kalau tidak, ia akan telat untuk kuliah besok. Apa lagi, besok ada mata kuliah pagi.


'Ya Tuhan, aku pasrahkan semuanya padamu,' batin Alina.


*****


"Alina ..., yuhu!" teriak Tasya pagi-pagi di depan kostan Alina.


Oleh karena itu, Tasya memutuskan untuk menjemput dan mengantar sahabatnya mulai hari ini.


"Tasya? Ngapain lo masih pagi gini ke sini." Alina dengan heran menatap sahabatnya yang tak seperti biasanya.


"Ekhem. Gini, sebagai sahabat yang baik, mulai sekarang gue bakal antar jemput lo," jawab Tasya dengan wajahnya yang ceria.


Semakin bingung, Alina mendengar jawaban Tasya. Karena tak biasanya Tasya seperti itu. Perlu diketahui, kalau Tasya memang sahabat yang baik. Tapi, Tasya juga orang yang malas menjemput atau mengantar orang kalau memang tidak dalam keadaan genting atau mood yang bagus. Ingat, hanya malas bukan tidak mau.


"Tumben. Dalam rangka apa lo kayak gini, ada maunya pasti lo," tuduh Alina dengan ekspresi wajah yang mendukung.

__ADS_1


"Astaga ..., orang mau niat baik kok malah kamu tuduh. Dosa tahu," sahut Tasya dramatis.


"Halah," cibir Alina.


"Iya-iya. Lo lagi hamil, dan gue mau jaga lo sekaligus anak lo. Gimana? Baik 'kan gue?" Tasya tersenyum bangga menatap Alina.


Alina hanya memutar matanya malas mendengar ucapan sahabatnya yang susah untuk serius itu.


"Hemm. Terserah lo. Yasudah, berangkat sekarang," ucap Alina setelah melihat jam tangan yang melingkar di pergelangan tanganya.


"Siap!" seru Tasya dengan ceria.


*****


Menggunakan mobil kesayanganya, Tasya menjemput sahabatnya. Hari yang masih pagi, membuat jalan belum terlalu padat.


Ditengah kesunyianya suasana di dalam mobil, tiba-tiba Tasya memanggil nama sahabatnya dengan keras sambil menunjuk arah luar, lebih tepatnya di sebuah toko bunga.


"Alina!"


"Apa Nana, pelan bisa nggak sih. Gue di samping lo, tapi maninggil gue kayak jarak lima meter," omel Alina yang kesal karena kaget dengan sahabatnya yang tiba-tiba memanggilnya dengan keras.


"Itu Alina, lihat," ucap Tasya sambil menunjuk arah luar, dan mengabaikan omelan sahabatnya.

__ADS_1


Bersambung ...


__ADS_2