Istri Simpanan Dosen

Istri Simpanan Dosen
27.


__ADS_3

Dewi tampak bimbang untuk mengambil keputusan, apakah tetap melarang putrinya bertemu ayahnya, atau membiarkan putrinya bertemu dengan ayahnya, agar bisa mencoba membujuknya, mau merestui hubungan Nicho dan Alina.


Dewi sudah berusaha sejak Alina meninggalkan rumahnya kemarin, membujuk suaminya agar mau memaafkan dan berdamai dengan putrinya. Alina memang salah, tapi dalam keadaan seperti ini, putrinya membutuhkan dukungan dari keluarga, terutama orang tua. Itu yang dipikirkan Dewi sejak kemarin.


Apa lagi, wanita hamil tidak boleh stress. Dan karena masalahnya dengan orang tuanya, Alina bisa stress karena memikirkan itu.


"T-tapi, Alina. Baiklah, ayo masuk." Dewi akhirnya membiarkan putrinya bertemu ayahnya.


******


"Mau apa lagi kalian?" tanya Bisma tak ramah.


"Papah." Alina menatap Bisma dengan tatapan kesedihan.


Ayah yang biasanya menyambutnya dengan suka cita saat kedatanganya, kini untuk menemuinya saja enggan. Tapi, Alina tahu itu adalah risiko yang harus dirinya tanggung.


"Alina ke sini mau menyelesaikan masalah ini. Alina mau minta maaf sama Papa sama Mama, sekaligus minta restu," ucap Alina mengatakan niatnya yang sesungguhnya.


"Restu? Papa harus merestui pernikahan kamu yang nggak benar ini. Kamu waras Alina?" Bisma menatap Alina dengan marah.

__ADS_1


Bisma sungguh tak habis pikir dengan jalan pikiran putrinya itu. Bagi para wanita pada umumnya, pasti akan menolak pria yang berstatus suami orang. Kecuali, memang wanita itu pelakor. Dan Bisma tak ingin, putrinya mendapat cap pelakor seumur hidupnya, bahkan sampai anak cucunya nanti. Maka dari itu, Bisma menolak merestui hubungan putrinya dan Dosenya itu.


"Hiks hiks. Pa, terus Alina harus apa?" tanya Alina pasrah.


"Apa harus, Alina gugurkan janin ini?" Alina mengusap perutnya sambil menangis.


Nicho tentu tak terima, saat Alina mengatakan menggugurkan janinya. Itu adalah darah dagingnya, kalau memang tak mau, Nicho lebih dari mampu untuk merawat dan menghidupi anaknya nanti.


"Alina," geram Nicho tak terima.


Alina mengabaikan Nicho. Alina tahu, Nicho pasti akan menentangnya. Dan Alina tahu, seberapa berharap dan sayangnya Nicho pada janin ini, hanya lewat tatapn dan perlakuan Nicho saja.


Tentunya, Alina tak benar-benar mengakatanya dari hati. Mana tega, dirinya membunuh janinya sendiri. Itu hanya sekedar omong kosong, agar orang tuanya iba karenanya.


Benar saja, Bisma memberikan respon yang tak biasa, saat mendengar putrinya mengatakan akan menggugurkan janinya.


"Alina," panggil Bisa dengan suara yang lebih rendah dan terdengar cukup ramah.


"Pah. Alina lakukan ini, demi cucu Papa. Hanya sampai cucu Papa lahir, dan anak Alina punya nama ayahnya di akta kelahiranya." Alina mencoba bernegoisasi pada ayahnya.

__ADS_1


"Beri Alina restu Papa. Alina janji, bakal jaga diri sendiri," ucap Alina yang semakin berani mengutarakan apa yang ada dalam hatinya, karena melihat ayahnya mulai lunak.


"Tapi Nicho punya istri Alina. Mungkin, jika Nicho masih lajang, tak akan papa menyulitkan kamu seperti ini," balas Bisma sambil menatap Nicho yang sedari tadi diam tak ikut bicara.


Bukan tanpa sebab Nicho diam. Nicho ingin memberikan kesempatan Alina menjelaskan masalah ini dengan orang tuanya, sebelum nantinya dirinyalah yang akan mengurus semuanya, termasuk pernikahan yang akan digelar secara pribadi tentunya dalam waktu dekat ini.


Namun, tentunya dengan batasan. Nicho tentu tak akan diam, seperti saat Alina mengatakan akan menggugurkan kandunganya, dan seperti sekarang. Alina mengatakan pernikahan ini akan berjalan sampai anaknya lahir.


Walaupun, sebenarnya Nicho tak tahu seperti apa pernikahan keduanya nanti, tapi hati Nicho seakan tak rela saat Alina mengatakan itu.


"Istri saya tidak perlu tahu," ucap Nicho ikut nimbrung pembicaraan Alina dan orang tuanya.


"Dan perlu saya ingatkan, pernikahan ini berjalan bukan hanya sampai anak ini lahir, tapi ...." Nicho menatap Alina dan kedua orang tua Alina.


Semua orang menunggu Nicho melanjutkan kalimatnya dengan penasaran, tak tekecuali Alina yang jantungnya berdebar tak karuan menanti kelanjutan kalimat Nicho.


"Tapi apa?" tanya Bisma mewakili rasa penasaran istri dan putrinya.


Nicho menatap dan mengamati satu persatu ekspresi kedua orang tua Alina dan juga Alina.

__ADS_1


"Selamanya," lanjut Nicho.


Bersambung ...


__ADS_2