
"Apa?!"
"Awasi terus, jangan sampai lengah. Karena nyawa kalian taruhanya," ucapnya dengan nada dingin khasnya.
"Hamil?" monolognya dengan perasaan campur aduk.
____________________________________________
Ponsel dengan harga puluhan juta itu tergenggam dengan erat oleh Nicho. Lima menit Alina keluar dari ruanganya, Nicho langsung menghubungi orang suruhanya untuk melaporkan segala aktivitas yang Alina lakukan. Tidak ada yang mencurigakan, dengan segala laporan yang diberikan orang suruhanya. Tapi, ketika Nicho meminta rekaman CCTV kamar Alina, dengan sekejap Nicho merasa tubuhnya lemas seketika, dan juga jantungnya berdebar begitu hebat.
Apa lagi, setelah meminta orang suruhanya untuk menerobos masuk ke kamar Alina, untuk melihat dengan jelas apa yang disembunyikan Alina.
Tespek dengan garis dua, yang berarti menandakan bahwa Alina hamil anaknya. Tanpa bukti apapun, sudah jelas jika janin itu adalah anaknya, karena dia adalah yang pertama, dan tidak ada pria lainya yang menggauli Alina selain dirinya setelah itu.
Bahagia, takut, terkejut, dan bingung adalah perasaan yang kini hinggap di relung hati Nicho. Anak yang sangat dinantikanya telah tumbuh, walau bukan dari rahim istrinya. Tapi, disisi lain, ia tidak mungkin bisa bertanggung jawab sepenuhnya pada Alina, karena ada istri yang dicintainya dari dulu hingga sekarang. Tapi juga tak mungkin, ia mengabaikan anak yang sudah dinantikanya sejak dulu, dan lari dari tanggung jawab hanya karena tidak mencintai ibu dari anaknya sendiri.
"Papa? Sebentar lagi akan ada yang manggilku papa?" gumam Nicho bertanya pada dirinya sendiri. Sungguh, sejak rahim istrinya diangkat, keinginanya untuk mempunyai seorang anak pupus sudah, dan belajar menerima kenyataan jika selamanya ia tak akan mempunyai anak, kecuali jika menikah lagi. Tapi, hal itu sama sekali tak terlintas sedikitpun dalam benaknya, karena cintanya yang besar pada istrinya.
Hingga sekarang, tanpa sengaja takdir membuatnya menjadi calon ayah. Dan ia bahagia, walau ada rasa bersalah yang menyergap hatinya. Secara tidak langsung, ia telah selingkuh dari istrinya walau tidak disengaja.
*******
"Tumben lo makan banyak sayuran kayak gini, ?" tanya Tasya merasa heran dengan selera makan Alina.
"Minum juga jus tomat, nggak biasanya," lanjut Tasya.
__ADS_1
Lama mengenal Alina, Tasya sangat hapal dengan kebiasaan dan selera makan Alina. Termasuk Alina yang tidak suka sayur, bukan nggak bisa makan sayur, tapi tidak suka. Jadi, saat melihat Alina makan dengan banyak sayur di piringnya, tentu Tasya heran.
Apa lagi, dengan minuman jus tomat. Sungguh, itu bukan Alina banget. Melihat bentuk jus tomat saja, Alina biasanya akan jijik. Tapi sekarang, justru Alina memesanya.
"Pengen aja," balas Alina singkat lalu melanjutkan acara makanya lagi.
"Aneh lo hari ini Al," ucap lirih Tasya yang masih dapat terdengar cukup jelas oleh Alina.
Alina terdiam mendengar kata aneh dari Tasya. Karena sebenarnya, bukan hanya Tasya yang merasa aneh, bahkan dirinya sendiri merasa aneh.
Beberapa hari terakhir, Alina merasa sulit untuk makan. Gampang tidur dan lelah, juga terkadang merasa kram di perutnya. Tapi, semua itu terjawab pagi tadi, kalau dirinya tengah hamil muda.
"Aneh? Perasaan lo aja kali," elak Alina seraya melanjutkan makanya.
Tasya terlihat tampak berpikir, tapi lalu menghabiskan minumanya sendiri tanpa sisa tanpa obrolan yang berlanjut.
********
"Nggak usah, Na. Nanti gue naik ojek atau taksi aja," tolak Alina dengan halus, karena merasa tidak enak jika menumpang dengan Tasya, walaupun dia sahabatnya.
Sungguh, sejak awal Tasya sudah menebak, jika Alina pasti menolak untuk diantarkanya. Alina kira, itu akan merepotkan. Tapi, sejujurnya Tasya tak sedikitpun merasa direpotkan. Apa lagi, sama sahabat yang sangat disayanginya, tidak pernah Tasya merasa direpotkan olehnya.
"Yakin? Udah mendung loh ini, Al." Tasya menatap lekat Alina, dan mencoba membujuk Alina agar mau diantarkanya pulang, sebab memang cuaca sudah sore dan mendung. Bahkan, terkadang suara geluduk terdengar, walau tidak begitu keras.
"Iya, Na. Lagian, belum terlalu mendung kok. Jadi, nggak bakal kehujanan," balas Alina kekeh menolak bantuan Tasya.
__ADS_1
"Lagian, 'kan jarak kost dari sini nggak begitu jauh. Masih keburu lah," ucap Alina yang masih mencari berbagai alasan untuk menolak bantuan sahabatnya.
"Oke fine. Kalau gitu, lo pulang sendiri. Tapi, gue tunggu lo sampai datang itu tukang ojek," ucap Tasya yang sudah pasrah dengan penolakan Alina.
Alina hendak kembali berbicara, tapi suara notifikasi ponsel milik Tasya berbunyi cukup keras. Bunyi notifikasi berbeda dari pesan yang lain, yang berarti sang pengirim adalah orang spesial.
Tasya langsung mengambil ponselnya, dan membaca pesan yang baru saja masuk. Seketika, raut wajahnya terlihat berbeda dari sebelumnya.
"Sorry Al, Mami gue minta dijemput di mall. Harus sekarang lagi," ucap Tasya merasa bersalah, sebab berarti dengan terpaksa harus meninggalkan Alina sendiri.
"Nggak perlu minta maaf lah. Sudah sana, lo jemput Tante Tiara dulu. Jangan kelamaan, telat 'abis uang jajan lo," sahut Alina malah meledek Tasya.
"Beneran? Gue takut lo ada apa-apa." Tasya masih saja enggan meninggalkan sahabatnya sendiri.
"Iya, udah sana. Nggak akan ada apa-apa. Kalau sudah sampai, nanti gue kabarin lo deh." Alina masih membujuk Tasya, agar yak khawatir denganya.
"Oke. Tapi, janji harus sampai dengan selamat ya," ucap Tasya setengah tak ikhlas.
Hanya anggukan serta senyuman manis dari Alina untuk menanggapi ucapan Tasya.
*********
Alina melambaikan tanganya pada sahabatnya, yang dibalas lambaian tangan juga dari Tasya. Mobil Tasya telah melaju meninggalkan Alina sendiri di kampus, yang kini tengah menunggu ojek online untuk menjemputnya.
Fokus mengotak-atik ponsel, tiba-tiba suara geluduk mengagetkan Alina hingga tanpa sengaja menubruk tong sampah di belakangnya. Alina seketika terjengkang ke belakang, tapi sebelum itu sepasang tangan kekar menahan bobot Alina dengan erat, yang menyebabkan Alina selamat dari jatuhnya.
__ADS_1
"Argh!" teriak Alina reflek.
Bersambung ...