Istri Simpanan Dosen

Istri Simpanan Dosen
12.


__ADS_3

"Tunggu," ucap Nicho menghentikan.


Mematuhi ucapan Nicho, Tasya dan Alina menghentikan langkahnya. Membalikan tubuhnya, dan menunggu apa yang ingin Dosenya itu katakan.


"Ada apa lagi?" tanya Tasya yang semakin tak ramah.


"Biar saya yang mengantar Alina. Kamu pulang saja, taksi kamu sudah sampai," jawab Nicho.


"Tapi, Pak."


******


"Tapi, Pak." Tasya hendak menolak, tapi saat melihat raut wajah Dosenya yang mengerikan, seketika membatalkan aksi protesnya.


Tasya menatap Alina, meminta pendapatnya, sekaligus mengkode Alina, apakah dia mau pulang bersama Nicho atau tidak.


"Nggak papa, Na. Gue pulang sama Pak Nicho aja," ucap Alina.


"Emm, oke. Tapi, jaga sahabat saya ya Pak," pinta Tasya.


"Tanpa kamu suruh, pasti saya menjaganya," sahut Nicho dengan suara dan ekspresi khasnya yang dingin.


Tasya menganggukan kepalanya, dan merapatkan tubuhnya pada Alina. Bukan tubuh sebenarnya, tapi wajahnya yang Tasya rapatkan dengan telinga Alina.


"Hati-hati. Gue takut, lo diterkam lagi," bisik Tasya dengan sangat pelan dan disertai nada bercanda.


Tanpa melihat raut wajah Alina, Tasya melangkah meninggalkan sahabatnya bersama Dosennya itu.


'Nana, awas lo. Bikin gue khawatir aja, gimana kalau beneran?' batin Alina.

__ADS_1


******


"Masih ada yang sakit?" tanya Nicho memecah keheningan yang melanda selama di perjalanan.


"Eng-gak," balas Alina yang kaget sekaligus gugup.


Bagaimana Alina tidak kaget dan gugup, karena sejak ia masuk ke mobil Dosenya itu, tidak ada pembicaraan sama sekali. Dan sekarang, secara tiba-tiba Dosenya bertanya tentang keadaannya.


"Yakin? Saya harap tidak ada yang sedang kamu tutupi," ucap Nicho tiba-tiba.


"Makaudnya?" tanya Alina dengan hati-hati.


"Saya pikir, kamu tidak mungkin lupa dengan kejadian malam itu," sahut Nicho dengan wajahnya yang serius.


Seketika itu, jantung Alina berdetak begitu cepat. Takut, sangat takut Donsenya itu akan mengulik tentang ketidaksengajaan itu, yang berakhir akan mengetahui kehamilanya ini.


"Alina, saya ingin bicara serius dengan kamu." Nicho menatap lekat mahasiswanya itu.


"Ya, tentang malam itu," ucap Nicho memperjelas ucapanya.


Bukanya tidak tahu, ekspresi gelisan Alina. Tapi, Nicho merasa dirinya harus segera bertanggung jawab dengan wanita yang telah dihamilinya.


Seiring bertambahnya usia, kandungan Alina akan semakin besar. Nicho khawatir, orang-orang akan tahu, dan akan membully mahasiswanya itu.


Padahal, jelas sekali kalau kejadian malam itu, adalah andil keduanya. Maka dari itu, Nicho ingin bertanggung jawab pada kehamilan Alina. Karena selain itu, Nicho ingin selalu mendampingi dan menjaga Alina selama hamil.


Apa lagi, ini adalah anak pertamanya. Walau bukan dari rahim istrinya, tapi Nicho merasa ini adalah cara tuhan mengabulkan doanya selama ini, ditengah kemustahilan istrinya untuk mengandung.


"Saya tahu, yang kamu sembunyikan belakangan ini. Saya tahu, kamu hamil anak saya," ungkap Nicho.

__ADS_1


"A-apa?" Alina bukan hanya merasa kaget, tapi jug panik.


"Saya sudah memutuskan, dalam waktu dekat ini saya akan datang dan menemui orang tua kamu. Saya akan meminta izin, untuk menikahi kamu," ucap Nicho panjang lebar.


"Nggak!" seru Alina spontan.


"Nggak? Apa alasan kamu menolak. Kandungan kamu akan bertambah besar, dan akan menjadi gunjingan orang karena kamu tidak memiliki suami." Nicho berkata dengan panjang lebar, seperti bukan dirinya.


"Saya bisa menggugurkannya, sebelum orang tua saya tahu," sahut Alina asal. Ingat, hanya asal.


Nicho mengeraskan rahangnya, guna meredam amarahnya yang akan mencuat. Walau terlihat tidak serius saat Alina mengatakanya, tapi tidak menutup kemungkinan Alina bisa melakukanya. Sebab, iniliah salah satu hal yang Nicho takutkan, jika tidak segera bertanggung jawab.


"Sebelum kamu menggugurkanya, kamu akan kehilangan semua orang yang kamu sayangi lebih dulu," ancam Nicho tak main-main.


Mencoba untuk tak terlihat takut, Alina justru kembali berkata seolah menantang ancaman Dosenya.


"Saya akan lapor Polisi, jika ucapan Bapak memang nyata," tantang Alina yang berbanding terbalik dengan jantungnya yang berdetak begitu keras, takut Dosenya akan nekad.


"Polisi? Bahkan mereka akan tunduk dengan saya, hanya dengan uang dan kekuasaan. Kamu pasti tahu, bahwa hukum bisa dibeli, sekarang." Nicho dengan santai saat mengatakan itu, karena memang faktanya.


"Jaga anak saya, lusa saya datang ke rumah kamu," ucap Nicho.


"Bapak tidak tahu alamat rumah saya," sahut Alina dengan yakin.


"Itu bukan masalah bagi saya. Persiapkan saja kamu, dan beritahu keluarga kamu juga," ucap Nicho dengan angkuh.


"Tapi, Pak?"


Bersambung ...

__ADS_1


__ADS_2