
"Permisi, Pak," ucap Alina sopan setelah mengetuk pintu.
"Masuk," sahut Nicho mempersilahkan Alina masuk.
Perlahan, Alina melangkah mendekati Nicho yang terlihat tengah mengotak-atik laptopnya dengan fokus.
Setelah merasa Alina telah berada di depan mejanya, Nicho mempersilahkannya untuk duduk. Hanya duduk, tanpa mengucapkan kata-kata lagi.
"Pak?" panggil Alina yang telah merasa bosan, kadena dabaikan selama kurang lebih 15 menit.
"Hmm," sahut Nicho tanpa menghentikan kegiatanya.
"Ada apa Bapak memanggil saya?" tanya Alina memberanikan diri untuk bertanya.
Mendengar pertanyaan Alina, dengan segera Nicho menghentikan kegiatamua yang memang telah selesai sekian detik tadi, lalu menutup laptopnya.
"Kamu ...."
____________________________________________
"Kamu, ada masalah?" tanya Nicho memasang wajah serius.
Spontan, Alina menggelengkan kepalanya mendengar pertanyaan Nicho. Walau sebenarnya, percuma jika Alina berbohong. Sebab, melihat dari gelagat Alina, Nicho tahu ada yang disembunyikan oleh Alina. Dan Nicho akan meminta seseorang untuk mencari apa yang Alina sembunyikan itu.
__ADS_1
"Tidak, Pak," sahut Alina memperjelas arti gelengan kepalanya.
"Yakin?" tanya Nicho sambil menatap Alina tajam.
"Ya. Lagian, kalau memang saya ada masalah, iti tidak ada hubunganya dengan Bapak," balas Alina tanpa memperlihatkan mimik wajahnya yang tengah khawatir jika Dosenya itu tau apa yang sebenarnya terjadi.
Walaupun masih tidak percaya dengan jawahan Alina, tapi Nicho tetap tidak bisa memaksa Alina untuk jujur padanya. Apa lagi, posisinya yang hanya sebagai Dosen. Jadi, untuk memenuhi rasa penasaranya, Nicho akan meminta laporan pada orang bayaranya yang ditugaskanya untuk mengawasi Alina dari kejauhan, sejak kejadian itu, tanpa terlewati.
"Saya tahu, kamu berbohong. Jadi, lebih baik saya cari tahu sendiri. Bagaimana?" Nicho tersenyum menyingrai pada Alina.
"Apa? T-terserah Bapak. Lagian saya tidak berbohong," ucap Alina sembari menahan kegugupanya.
Nicho bukanlah orang yang bodoh akan ekspresi setiap orang yang herdapan denganya, apa lagi Nicho sebelum menjadi Dosen adalah seorang pebinisnis handal dari perusahaan besar dan ternama, tentu menilai ekspresi orang adalah makananya setiap hari. Kegugupan yang berusaha ditutupi Alina jelas membuat kecurigaanya semakin besar, jika Alina tengah ada masalah. Tapi, Nicho bersikap seolah tidak tahu tentang kegugupan yang mati-matian Alina tutupi.
Semakin panik, itulah yang Alina rasakan. Apa lagi, balasan dari Nicho yang seolah tahu apa yang tengah disembunyikanya.
"Kalau sudah selesai, saya permisi," ucap Alina sambil cepat-cepat beranjak pergi.
Tanpa menunggu balasan Nicho, Alina langsung melenggang pergi meninggalkan ruangan Dosenya itu, walau sebenarnya itu tidak sopan. Tapi, mau bagaimana lagi, jika tidak segera pergi, maka akan semakin terpojok akan sikapnya yang mengundang kecurigaan Nicho, Dosenya.
*******
"Huh huh huh, astaga. Dasar Pak Nicho nyebelin," gerutu Alina sembari mengatur napasnya yang terasa ingin lepas, padahal hanya dengan berjalan setengah berlari.
__ADS_1
"Woy!" seru Tasya mengagetkan Alina.
"Astaga! Ah kampret lo, buat jantungan gue aja." Alina menggeplak pelan Luna yang mengagetkanya.
"Aish, kasarnya. Lagian lo kaya 'abis dikejar setan. Ngos-ngosan gitu," ucap Tasya yang ternyata mengawasi tingkah Alina setelah keluar ruangan Dosenya.
Alina seketika terdiam, setelah mendengar ucapan Tasya. Teringat lagi akan nasibnya yang kini tengah berbadan dua, dan teringat akan kecurigaan Nicho padanya.
"Hey! Bengong lagi. Ada apaan sih?" tanya Tasya lagi-lagi membuat Alina tersentak kaget.
"Nggak ada aap-apa kok. Ke kantin yuk, laper gue," sahut Alina sambil menepuk perutnya yang berisi janin.
Tasya hanya langsung menyutujuinya, walau sebenarnya Luna tau, kalau sahabatnya itu sedang ada masalah.
********
"Apa?!"
"Awasi terus, jangan sampai lengah. Karena nyawa kalian taruhanya," ucapnya dengan nada dingin khasnya.
"Hamil?" monolognya dengan perasaan campur aduk.
Bersambung ...
__ADS_1