
Menggunakan mobil kesayanganya, Tasya menjemput sahabatnya. Hari yang masih pagi, membuat jalan belum terlalu padat.
Ditengah kesunyianya suasana di dalam mobil, tiba-tiba Tasya memanggil nama sahabatnya dengan keras sambil menunjuk arah luar, lebih tepatnya di sebuah toko bunga.
"Alina!"
"Apa Nana, pelan bisa nggak sih. Gue di samping lo, tapi maninggil gue kayak jarak lima meter," omel Alina yang kesal karena kaget dengan sahabatnya yang tiba-tiba memanggilnya dengan keras.
"Itu Alina, lihat," ucap Tasya sambil menunjuk arah luar, dan mengabaikan omelan sahabatnya.
******
"Itu Pak Nicho 'kan?" tanya Tasya pada Alina, untuk memastikan penglihatanya tidak salah.
"Iya itu Pak Nicho. Terus kenapa?" tanya Alina heran.
Seketika, Tasya lemas mendengar pertanyaan sahabatnya yang tak sejalan dengan pemikiranya.
"Haish," decak Tasya sebal.
"Ya terus gue harus apa Nana?" tanya Alina dengan ekspresi wajah yang menyebalkan bagi Tasya.
"Itu bukan urusan gue Na. Apapun yang Pak Nicho lakukan, bukan ranah gue untuk ikut campur," jelas Alina yang sebenarnya tahu maksud sahabatnya.
"Beneran? Nggak penasaran lo? Gue aja, penarasan." Tasya berbicara pada Alina, tapi dengan tatapan yang masih mengarah dimana Dosenya berada.
__ADS_1
Sedangkan Nicho sendiri, tak tahu jika ada sebuah mobil yang kini tengah berhenti tak begitu jauh darinya, dan sedang memerhatikanya.
"Pak Nicho pergi Lin, bawa bunga lagi. Buat istrinya mungkin ya Lin," ucap Tasya dengan heboh.
"Nggak tahu Nana. Mending kita segera ke kampus, udah tinggal lima belas menit lagi mulai kelas kita. Hari ini kelasnya Bu Santi loh," sahut Alina yang masih tetap tak ingin terlihat kepo dengan urusan Dosenya itu.
"Ck. Iya-iya." Tasya dengan segera melanjukan mobilnya, yang tadi ia hentikan di pinggir jalan untuk melihat aktivitas Dosenya tadi.
Keduanya melanjutkan perjalanan ke kampus dengan hening. Keduanya sibuk dengan pikiranya masing-masing, seperti Alina yang sebenarnya memendam rasa keingintahuanya perihal buket bunga yang Nicho beli.
Gengsinya yang besar, membuat Alina memih tidak memikirkan apapun yang berhubungan dengan Dosenya itu, Pak Nicho. Alina takut, jika terlalu memikirkan ayah biologis janinya, ia akan jatuh cinta suatu saat nanti.
Oleh karena itu, Alina membentengi hatinya dan perasaanya untuk tak terlalu peduli dengan ayah biologis janinya.
******
"Sabar, Nana. Orang sabar disayang ayang," canda Alina dengan senyum meledeknya.
"Ah Lo Lin," ketus Tasya kesal dengan Alina yang malah meledeknya.
Mengabaikan kekesalan sahabatnya, Alina berjalan mendahului Tasya untuk pergi ke kantin. Tapi, saat segerombolan mahasiswa melewatinya, Alina langsung merasa mual yang sangat terasa di perut, karena salah satu dari mereka menggunakan parfum yang cukup menyengat di hidung Alina.
Namun, Alina berusaha menahanya sekuat tenaga. Sedangkan Tasya yang berada di belakang Alina, tak tahu dengan keadaan Alina yang merasa mual, karena mencium aroma parfum yang cukup menyengat dari salah satu mahasiswa.
Cukup lama Alina menahan rasa mual itu selama berjalan menuju kantin. Tasya yang tadinya di belakang, kini menyamai langkah sahabatnya, langsung panik setelah tanpa sengaja melihat wajah yang pucat.
__ADS_1
"Astaga Alina!" seru Tasya tiba-tiba dengan panik.
"Muka lo pucet. Lo sakit?" tanya Tasya sangat khawatir.
Alina yang tengah menahan mual, tentu tak dapat berbicara. Merasa sudah tak kuat dengan rasa mualnya, Alina langsung berlari menuju kamar mandi yang hanya berjarak dua meter kurang lebih.
"Alina!" seru Tasya bertambah panik, karena sahabatnya itu dengan tiba-tiba lari sambil membekap mulutnya menuju kamar mandi.
Beberapa mahasiswa yang berada di sekitar lokasi Tasya dan Alina berdiri, langsung menatapnya bingung dan penasaran.
Tasya tak menghiraukan mahasiswa yang berada di sekitarnya, yang ikut bingung juga penasaran denganya dan Alina, langsung menyusul sahabatnya yang sudah berlari ke kamar mandi.
******
Suara muntahan Alina terdengar hingga luar kamar mandi. Tasya yang berada di depan pintu kamar mandi, menunggu Alina keluar dari kamar mandi dengan panik, karena Alina belum juga berhenti muntah.
Pintu kamar mandi yang dikunci, membuat Tasya tak bisa masuk ke dalam dan hanya bisa menemani Alina dari luar.
Setelah beberapa saat, Alina keluar dari kamar mandi dengan kondisi yang lemas dan wajah yang pucat serta merah padam. jejak-jejak air mata juga terlihat, walau tidak terlalu.
"Sudah? Ke UKS aja yah," ajak Tasya yang masih panik.
"Nggak usah, Na. Gue baik-baik saja," sahut Alina dengan lemas.
Tasya dengan sigap menuntun Alina, karena tubuh sahabatnya itu terlihat lemas. Tapi, hanya beberapa langkah, Alina sudah tak kuat dan akhirnya pingsan.
__ADS_1
"Alina!" seru Tasya panik.
Bersambung ...