Istri Simpanan Dosen

Istri Simpanan Dosen
17.


__ADS_3

"Jangan kamu pikirkan, yang Alan katakan tadi. Dia tidak tahu apa-apa, dan dia tidak berhak ikut campur urusan kita," ucap Nicho panjang lebar, karena ia bisa menebak, jika Alina diam karena terpikirkan oleh kata-kata Alan yang secara tudak langsunh telah menuduh Alina menggodanya.


Alina masih diam, tapi tatapanya kini mengarah pada sosok Nicho. Pria yang dingin san datar, tapi mungkin hanya berlaku untuk orang lain. Karena nyatanya sekarang, Nicho kerap berbicara panjang lebar denganya, walaupun tetap minim ekspresi.


"Yang Pak Alan katakan, itu benar. Saya harus jaga batasan dengan Bapak, kalau tidaj ingin dicap sebagai pelakor," ucap Alina dengan matanya yang berkaca-kaca.


"Saya sudah bilang, jangan pikirkan apapun yang Alan katakan tadi. Kita harus mengesampingkan ego kita, agar anak ini punya atatus yang jelas," sahut Nicho sambil memegang tangan Alina, disaat satu tanganya masih ia gunakan untuk menyetir.


"Lalu istri Bapak?" tanya Alina.


******


Hari ini, adalah hari dimana Alina dan Nicho mendatangi tempat kelahiran Alina. Masalah perizinan kampus Alina, Nicho yang mengurusnya, sehingga Alina hanya perlu mempersiapkan diri saja. Selain itu, Alina pun telah mempersiapkan mentalnya juga, untuk menemui orang tuanya.


Walaupun sempat takut dan ragu, karena kediaman Nicho semalam yang tak menjawab pertanyanya tentang istrinya itu, Alina akhirnya memantapkan diri, akan menjadi orang yang egois, demi janinya. Meskipun, rasa bersalah hinggap dalam dirinya, tapi Alina merasa janinya lebih membutuhkan ayahnya, sebab itulah Alina memilih egois, untuk kali ini saja.


Di depan kaca, Alina mengamati penampilanya dari atas hingga bawah. Hingga, tanpa sadar Alina menatap perutnya, lalu mengusapnya pelan.


'Sehat-sehat, Sayang dalam perut mama. Mama sayang kamu, i love you,' batin Alina.


Saat fokus mengajak bicara janinya, suara ketukan pintu terdengar. Alina langsung mengambil tasnya dan bersiap keluar, karena Alina tebak jika itu pasti Dosenya.


*****


"Bapak yakin, mau ketemu orang tua saya?" tanya Alina pada Nicho.

__ADS_1


"Ya. Memang, apa yang harus saya tidak yakin untuk bertemu orang tua kamu." Nicho menjawabnya dengan santai, dan hanya sesekali menatap Alina yang berada di sampingnya.


"Bapak nggak takut, kalau nanti orang tua saya marah. Dan mungkin saja, Ayah saya bisa menghajar Bapak," ucap Alina dengan sangat serius.


Bukan hanya karena takut kecewanya orang tuanya, Alina pun takut jikalau jujur dan ayahnya akan menghajar Dosenya itu sampai babak belur. Alina sangat tahu, kalau ayahnya adalah tipe ayah yang protektif. Maka dari itu, Alina selalu ragu dan takut jika ingin mengakui kehamilanya.


"Itu memang risiko saya. Berani berbuat, maka berani bertanggung jawab," jawab Nicho tanpa ragu.


Melihat kemantapan Dosenya itu untuk bertanggung jawab, Alina sangat kagum dibuatnya. Sangat jarang, ada pria seberani Dosenya itu, apa lagi Dosenya itu adalah pria beristri. Pria yang tak lagi lajang, dan banyak sekali pertimbangan dan risiko yang dialami olehnya.


Lagi-lagi, Alina dibuat jatuh oleh sosok Nicho yang bukan hanya tampan dan mapan, tapi juga dewasa serta pemberani.


'Andaikan wanita yang dicintai Pak Nicho gue. Pasti ..., ah nggak-nggak. Gue nggak boleh berharap.' Alina menggeleng-gelengkan kepalanya, berusaha menyadarkan dirinya yamg kini mulai serakah, ingin memiliki Dosennya itu.


*****


Setelah menempuh perjalanan yang cukup juh, akhirnya Alina dan Nicho telah sampai di kediaman orang tua Alina.


Sebelumnya, Alina telah memberi kabar jika dirinya akan pulang membawa temanya. Sehingga, orang tuanya tidak akan terkejut karena kedatanganya. Tapi, orang tuanya pasti akan terkejut dengan apa yang akan diberitahukanya.


Alina mengetuk pintu rumahnya dengan harap-harap cemas. Setelah beberapa saat, seorang wanita paruh baya keluar. Wanita yang masih cantik, diumurnya yang sudah tak lagi muda.


"Alina." Wanita paruh baya itu langsung memeluk putrinya itu, menumpahkan rasa rindunya yang dirinya pendam selama putrinya menempuh pendidikan. Karena mengingat, jika putrinya itu jarang pulang, dan berusaha menjadi wanita mandiri.


Alina yang mendapat pelukan dari ibunya, langsung membalas pelukan itu tak kalah eratnya. Bahkan, air mata bahagia tak bisa Alina tahan, agar tak keluar.

__ADS_1


Setelah puas menumpahkan rasa rindunya, keduanya melepaskan pelukan itu. Dewi, ibu Alina langsung menatap pria yang berada di samping putrinya itu.


"Astaga tampanya kamu, Nak. Alina memang pinter milihnya," puji Dewi dengan ceria.


Mendengar ibunya yang memuji seperti itu, wajah Alina langsung memerah karena malu. Padahal, Alina mengaku jika yang dirinya bawa adalah temanya, bukan kekasihnya.


"Terima kasih, Tante," ucap Nicho lalu mengambil tangan ibu dari Alina, dan menciumnya.


Melihat wajah ceria ibunya, membuat rasa bersalah Alina semakin tak terkira. Andaikan ibunya tahu, kalau dirinya pulang mmebawa kabar buruk, pasti ibunya tak akan bisa seceria ini.


******


Alina dan Nicho kini duduk di ruang tamu kediaman Alina, dengan ayah dan ibu Alina berada di hadapnya saat ini, setelah beberapa saat tadi keduanya makan bersama dengan kedua orang tua Alina. Sedangkan kakak dan adik Alina, tidak berada di rumah karena kakak Alina yang bekerja, juga adik Alina yang belum pulang sekolah.


"Mah, Pah," panggil Alina dengan gugup.


Nicho yang menyadarinya, langsung menatap Alina dan meyakinkan Alina, melalui tatapanya.


"Kenapa Alina? Ada masalah?" tanya Bisma, ayah Alina.


Alina menghembuskan napasnya pelan. "Alina hamil."


Bersambung ...


Baca juga ceritaku yang lain. Yang berjudul ~ Pengganti sang Kembaran Juga Tentara dan Perawat Cantik ~

__ADS_1


__ADS_2