Istri Simpanan Dosen

Istri Simpanan Dosen
5.


__ADS_3

Alina melabaikan tanganya pada sahabatnya, yang dibalas lambaian tangan juga dari Tasya. Mobil Tasya telah melaju meninggalkan Alina sendiri di kampus, yang kini tengah menunggu ojek online untuk menjemputnya.


Fokus mengotak-atik ponsel, tiba-tiba suara geluduk mengagetkan Alina hingga tanpa sengaja menubruk tong sampah di belakangnya. Alina seketika terjengkang ke belakang, tapi sebelum itu sepasang tangan kekar menahan bobot Alina dengan erat, yang menyebabkan Alina selamat dari jatuhnya.


"Argh!" teriak Alina reflek.


********


Seketika, Alina langsung menatap sepasang tangan kekar khas seorang pria yang mendekapnya erat. Apa lagi, tangan yang memeluk perutnya dengan erat, ada rasa aneh yang menggelanyar di hatinya. Seperti nyaman, mungkin.


Setelahnya, tatapan Alina kini beralih pada wajah sang pemilik tangan kekar itu. Tangan yang mampu menggetarkan rasa yang entah cukup sulit Alina jelaskan.


Lagi dan lagi, pria yang amat dihindarinya malah kembali muncul di hadapanya. Entahlah, Alina merasa aneh saja, mengapa sejak hari itu, Dosen yang selalu dihindarinya justru semakin sering bertemu denganya.


"Pak?" cicit Alina memanggil Nicho.


Mendengar namanya dipanggil Alina, seketika Nicho tersadar akan posisinya yang mungkin mampu membuat orang yang melihatnya akan salah paham. Dengan segera, Nicho melepaskan belitan tanganya pada tubuh Alina, dan berdehem menormalkan detak jantungnya yang tiba-tiba berdetak tidak seperti biasanya.

__ADS_1


******


"Sudah gerimis, kamu tidak ingin pulang?" tanya Nicho setelah mendongakkan wajahnya, melihat langit telah mendung dan meneteskan airnya, walau sedikit.


"Nanti, Pak. Ojek saya sebentar lagi sampai,"


sahut Alin tanpa menatap Nicho.


'Pak Nicho ngapain sih masih di sini. Dia 'kan bawa mobil sendiri, nunggu temen mungkin ya,' monolog Alina dalam hati tak ingin terlalu pede jika Nicho sebenarnya tengah menemaninya.


Sekitar lima menit, akirnya ojek yang Alina tunggu tiba. Dengan segera, Alina langsung menaiki jok belakang motor. Tapi, sebelum itu jelas Alina pamit terlebih dahulu pada Nicho, karena itu merupakan bentuk sebuah kesopanan, walau sebenci apapun perasaan Alina pada Nicho.


Nicho sendiri hanya membalasnya dengan anggukan kepala, dan ucapan hati-hati yang diberikan pada Alina.


******


Beberapa menit berlalu, akhirnya Alina sampai di rumah. Dengan segera, Alina membuka pintu kostanya dan langsung menuju kamar mandi untuk membersihkan diri.

__ADS_1


Menghabiskan waktu yang cukup lama di kamar mandi, Alina merasa perutnya lapar kembali. Padahal, di kampus sudah makan cukup banyak, tapi hanya dalam jangka waktu beberapa jam sudah lapar kembali.


"Rakus banget sih gue. Makan tadi, 'udah lapar lagi," monolog Alina sambil membuja isi persediaan makanan di kulkas.


Mie instan, itulah makanan kesukaanya. Maka dari itu, Alina selalu sedia banyak di kostanya, dengan berbagai varian rasa. Dan sore ini, itu adalah menu makan Alina, apa lagi dengan cuaca dingin dan hujan yang sudah mulai turun, itu adalah perpaduan komplit dengan mie instan.


"Rasa soto kayaknya cocok nih." Alina menjatuhkan pilihanya pada mie instan kuah rasa soto.


*****


Baru saja Alina menghirup aromanya, tapi rasa mual yang sangat menyiksa menyerang Alina. Spontan, Alina segera berlari ke wastafel dan memuntahkan makanan yang disantapnya tadi di kampus.


Muntahan yang keluar dari mulut Alina, membuat Alina merasakan pahit yang sangat tidak mengenakan. Setelah terasa keluar semua apa yang tadi Alina makan dari perutnya, baru Alina merasakan rasa yang melegakan di perut dan tenggorokanya.


Takut-takut, Alina mendekati semangkok mienya yang belum sempat dimakanya. Tapi, suara pintu diketuk dari luar membuat Alina membatalkan niatnya.


Pelan-pelan, Alina membukakan pintunya untuk melihat siapa yang datang.

__ADS_1


"Makanan?"


bersambung ...


__ADS_2