Istri Simpanan Dosen

Istri Simpanan Dosen
25.


__ADS_3

"Eh iya, itu Ciko," sahut Tasya antusias.


"Tapi sayang, lagi sama 'tu cewek ganjen," lanjut Tasya, seolah tak berkaca pada dirinya, yang juga tak beda jauh, karena matanya langsung tak bisa dikondisikan saat melihat Ciko.


"Nggak masalah kali, kan dia jomblo," ucap Alina yang membuat Tasya semakin jengkel.


"Iya tapi jangan sama si Yuna juga. Dia 'kan sasimo," balas Tasya dengan ekspresi wajahnya yang cemberut.


"Ya biarin lah. Mau sama Yuna kek, atau siapapun, itu hak dia. Kamu 'kan bukan siapa-siapanya Ciko." Alina masih saja mengatakan yang membuat Tasya semakin sadar saja, jika kekesalanya itu tidak berarti apa-apa, karena dirinya bukan siapa-siapa untuk Ciko. Bahkan, tahu dirinya hidup pun, mungkin tidak.


"Makanya, deketin. Diambil orang nanti nangis," ledek Alina dengan puas, karena berhasil mengompori sahabatnya, untuk mendekati idola mahasiswa itu.


"Bodo. Kesel gue sama lo," ketus Tasya.


Alina langsung tertawa keras, sedangkan Tasya semakin cemberut karenanya.


"Eh Na. Ciko ke sini, Nana." Alina dengan heboh menepuk-nepuk pundak sahabatnya dengan keras.


"Apa?!"


*******


"Hai," sapa Ciko.


Ciko Alzendaro, pria tampan idola para mahasiswa. Selain populer karena ketampananya, Ciko juga mahaiswa yang pintar dan meeupakan salah satu anak konglomerat. Jadi, tak heran jika banyak sekali yang menyukainya, tak terkecuali Tasya.


Akhir-akhir ini, Ciko selalu memerhatikan salah satu mahasiswa perempuan yang satu angkatan dengannya. Yang dirinya dengar, perempuan itu bernama Tasya. Atau lebih tepatnya, namanya adalah Natasya Eleanor.

__ADS_1


Gadis yang mampu menarik perhatianya saat pertama kali melihatnya di kantin. Menurutnya, Tasya adalah gadis yang galak, pemberani dan baik.


Iya, Galak. Karena pertama kali Tasya membuatnya tertarik, bukan karena kecantikanya. Tapi, karena tingkah Tasya yang galak dan pemberani. Baginya, cantik adalah hal biasa ditemuinya setiap hari. Namun, yang paket komplit seperti Tasya itu jarang.


Selain itu, kecantikan Tasya juga menjadi poin plus untuk Ciko tambah menyukainya. Selama ini, Ciko tak pernah punya keberanian untuk mendekatinya.


Bagaimana mau berani, karena ini adalah pengalaman pertamanya menyukai lawan jenis. Biasanya, para gadis yang mengejarnya duluan, jadi untuk dirinya yang memulai, rasanya agak lain.


Walaupun begitu, Ciko kerap curi-curi pandang pada Tasya. Dan Ciko pun menyadari, jika Tasya pun bersikap demikian denganya.


"Iya, H-hai, Ciko," sahut Tasya terbata.


Alina yang berada di sebelahnya, berusaha sekuat tenaga untuk menahan agar dirinya tak tertawa. Tasya, biasanya galak sama laki-laki, kini terlihat kalem dan anggun. Bahkan, Alina merasa kalau sahabatnya itu grogi, hanya karena ditatap dengan cukup intens oleh pujaan hatinya itu.


"Ciko, kamu apaan sih," rengek Yuna, gadis yang sedari tadi membuntuti Ciko sejak keluar kelas. Yuna tak terima, karena Ciko menghampiri dan menyapa gadis lainnya.


Ciko mendengar, tapi mengabaikan gadis ganjen yang sangat agresif denganya. Dan karena keagresifanya, Ciko merasa risih. Itulah yang membuat Ciko berani mengambil keputusan, untuk menghampiri Tasya, saat ini.


Ingat ya, jelas. Bukan karena Tasya yang kepedean ataupun halu seperti biasanya, tapi memang kenyataanya sekarang, bahwa Ciko sendiri yang menghampirinya, dan tersenyum sangat manis padanya.


"Boleh, gue nebeng lo?" tanya Ciko agak ragu, karena harga dirinya diprrtaruhkan sebagai cowok.


"Ehm sorry. Kalau nggak bisa juga nggak papa." Ciko dengan cepat melanjutkan ucapanya, karena takut ditolak duluan.


'Astaga, Ciko mau nebeng gue. Hah, mimpi apa gue semalam ya Tuhan,' sorak Tasya dalam hati.


"Boleh, Kok," jawab Tasya malu-malu.

__ADS_1


'Jantung gue, ya ampun!. Kok kayak lagi konser gini sih,' teriak Tasya dalam hatinya.


Sebenarnya, Ciko membawa mobil. Tapi, Ciko malas karena ada Yuna yang pasti minta nebeng denganya. Dan dapat dipastikan, Yuna akan memaksa jika tidak diperbolehkan.


Bukan itu, yang menjadi faktor utama Ciko malas. Tapi karena Yuna, adalah gadis tukang ngadu. Bukan ngadu dengan orang tuanya sendiri, tapi orang tua Ciko, yang berakhir Ciko mendapat siraman rohani dari orang tuanya, terutama ibunya.


Orang tua Yuna adalah teman dekat orang tua Ciko, dan hal itu dimanfaatkan Yuna untuk mendekati putra mereka.


"Ciko! Aku aduin Tante Rindi ya," ancam Yuna sambil mengangkat handphonenya.


"Terserah lo. Gue nggak takut," ketus Ciko.


Yuna semakin tak terima, karena ancaman yang biasanya membuat Ciko takut, kini sudah tak mempan, hanya karena seorang gadis di depanya ini.


"Heh lo. Nggak usah genit deh, Ciko punya gue," ketus Yuna dengan menatap tajam Tasya.


"Gue atau lo yang genit?" tanya Tasya dengan nada meremehkan.


"Mending ngaca dulu deh, sebelum bilang gue genit. Atau, lo nggak punya kaca? Gue ada kaca nih." Tasya dengan berani mengatakanya.


Ciko yang sedari tadi diam, memang sengaja. Karena ingin melihat seberapa galak Tasya, saat menghadapi Yuna. Dan semoga, Yuna tak lagi mengganggunya.


"Kurang ajar lo yah!" bentak Yuna tak terima.


Yuna tak mau mengalah, dan Alina berusaha menenangkan sahabatnya agar tak terpancing emosi, dan memancing perhatian mahasiswa lainya. Tapi, itu sia-sia. Karena seseorang berjalan mendekati sumber kekeributan itu dengan wajahnya yang datar dan dingin.


"Ekhem!"

__ADS_1


"Pak Nicho?!"


Bersambung ...


__ADS_2