
Sebenarnya, Nicho pun merasa bersalah karena menikahi seorang perempuan tapi tak dapat mengaukinya pada dunia. Alina, hanya akan menjadi simpanan, dan Nicho tahu itu sangat menyakitkan. Namun, bukan hanya Alina yang akan sakit, Neta sang istri pun akan merasakan sakit yang sama besarnya jika tahu.
"Maafkan saya, Om, Tante. Saya benar-benar minta maaf atas masalah ini. Tapi, saya berjanji, akan melindungi dan menyayangi Alina selayaknya seorang istri dan ibu dari anak saya. Saya akan membuktikanya. Om dan Tante, saya ikhlas nantinya, jika suatu saat saya tidak menepati janji saya ini, Om dan Tante berhak mengambil Alina dan anak kami." Nicho menatap calon mertuanya, dengan tatapan yang dalam dan meyakinkan.
Alina meneteskan air matanya mendengar itu. Entah tangisan apa, yang jelas hanya Alina yang tahu.
*******
"Aaaaa! Gue seneng!" teriak Tasya setelah berada di kamarnya, dan kembali mengenang moment tadi saat bersama Ciko.
"Huh huh, gue nggak kuat." Tasya seperti orang gila berbicara sendiri dan tertawa-tawa sendiri.
Tasya merebahkan dirinya di ranjangnya, dan menatap langit-langit kamarnya, masih sambil senyum-senyum sendiri, tidak teriak-teriak dan tertawa sendiri seperti tadi.
"Ciko, ganteng banget sih kamu," monolog Tasya, sambil membayangkan ketampanan sang pujaan hati.
"Gimana ya, kalau gue jadi pacarnya," gumam Tasya yang mulai berhalu bisa bersanding dengan Ciko.
Saking bahagianya,Tasya sampai melupakan untuk menghubungi sahabatnya. Terlalu asik berduaan dengan Ciko, membuatnya lupa waktu.
"Astaga, gue lupa chat Alina." Tasya menepuk jidatnya sendiri.
Segera, Tasya menghubungi Alina. Tidak melalui via telepon, tapi hanya chat. Tasya takut mengganggu Alina, yang mungkin keadaanya tidak baik-baik saja, sekarang.
__ADS_1
"Alina, Alina. Semoga lo baik-baik saja," gumam Tasya, setelah menanyakan keadaan Alina sekarang, apakah baik-baik saja atau tidak.
"Kalau sampai Pak Nicho menyakiti Alina, tak bejek-bejek nanti," ucap Tasya, pada dirinya sendiri.
"Eh, nggak deh. Sebelum gue bejek-bejek Pak Nicho, yang ada gue dulu yang dibejek." Tasya lagi-lagi ngomong sendiri.
Tasya memutuskan membersihkan dirinya, sambil menunggu balasan chat dari Alina.
********
"Kami pamit pulang dulu, Pah, Mah." Alina dengan digandeng Nicho, berpamitan pada orang tuanya.
"Iya," sahut Bisma dan Dewi singkat.
"Malang sekali nasib putri kita ya, Pah?" Dewi menatap mobil Nicho yang sudah menjauhi rumahnya.
"Doain aja yang terbaik, Mah. Kita tidak tahu kebahagiaan apa yang menanti putri kita, hingga dia diuji sedemikian sakit seperti ini," balas Bisma sambil tersenyum menenangkan.
"Kita percayakan pada Allah. Dan putri kita, pasti bisa melewatinya. Ya sudah, masuk yuk." Bisma memeluk istrinya, dan membimbing istrinya memasuki rumah.
******
"Lega?" tanya Nicho pada Alina.
__ADS_1
"Hmm, nggak juga," balas Alina ragu-ragu.
"Kenapa? Masalah selesai, dan lusa kita nikah. Lantas, apa lagi?" Nicho menatap Alina heran.
Alina menghembuskan napasnya pelan. "Ini, belum selesai. Tapi, ini akan menjadi awal untuk saya memulai lembaran baru, sebagai istri kedua."
Saat mengatakan istri kedua, Alina memelankan suaranya. Rasa, setiap mengingat dan mengatakan itu, hatinya selaku sesak dan sakit. Tapi, Alina tak mampu berbuat apapun, karena justru dirinya yang menjadi orang ketiga.
Mendapat persetujuan orang tuanya, tak lantas membuat Alina tenang. Karena, itu justru merupakan awal dirinya untuk berjuang dalam pernikahanya nanti. Mendapat persetujuan orang tuanya, merupakan satu masalah yang telah selesai, dari sekian masalah Alina yang belum selesai.
Perjalananya masih panjang, dan Alina tahu, jalan itu tak selalu lurus dan banyak lubang, yang dapat menjatuhkanya. Butuh kekuatan mental dan kesabaran untuk melewatinya. Dan itu semua tak semudah mengatakanya untuk melewatinya. Tapi, inilah hidup, penuh cobaan. Kalau hanya satu masalah, itu bukan cobaan, tapi cobain.
"Alina, pegang janji saya. Saya, berjanji dengan segenap jiwa raga, akan mencintai dan melindungi kamu, sebesar saya mencintai diri saya sendiri." Nicho menatap Alina, setelah sebelumnya Nicho menghentikan mobilnya di pinggie jalan.
"Bapak janji?" tanya Alina meyakinkan.
Nicho menganggukan kepalanya. "Iya."
Alina langsung reflek memeluk Nicho, dan menumpahkan tangisanya di pelukan hangat Dosenya itu.
Tapi, ditengah keromantisan itu, Alina tiba-tiba melepaskan tubunya dari pelukan Nicho.
"Pak, saya ingin," ucap Alina ambigu.
__ADS_1
Bersambung ...