Istri Simpanan Dosen

Istri Simpanan Dosen
6.


__ADS_3

Baru saja Alina menghirup aromanya, tapi rasa mula yang sangat menyiksa menyerang Alina. Spontan, Alina segera berlari ke wastafel dan memuntahkan makanan yang disantapnya tadi di kampus.


Muntahan yang keluar daru mulut Alina, membuat Alina merasakan pahit yang sangat tidak mengenakan. Setelah terasa keluar semua apa yang tadi Alina makan dari perutnya, baru Alina merasakan rasa yang sangat melegakan di perut dan tenggorokanyan.


Takut-takut, Alina mendekati semangkum mienya yang belum sempat dimakanua. Tapi, suara pintu diketuk dari luar membuat Alina membatalkan niatnya.


Pelan-pelan, Alina membukakan pintunya untuk melihat siapa yang datang.


"Makanan?"


*******


Menengok ke segala arah, Alina memastikan siapa yang mengetuk pintu kostanya. Tapi, tetap saja, nihil. Yang ada, hanya dua kantung tas belanja besar berisi makanan.


Bimbang, Alina ingin mengambil atau tidak. Tapi, mengingat dirinya tidak tau siapa yang memberi, membuat Alina membatalkan niatnya. Takut-takut, itu merupakan jebakan seseorang.


"Siapa ya?" guamam Alina bertanya pada dirinya sendiri.


"Woy! punya siapa ini?" teriak Alina seolah memanggil orang yang meninggalkan tas belanja dengan ukuran besar dan penuh makanan itu di depan pintu kostanya. Karena Alina yakin, orang yang meletakan kantung belanja itu masih ada di sekitar kostanya.


"Gue ambil ya?!" teriak Alina lagi meminta izin pada pemilik dua tas belanja besar berisi penuh makanan itu.


Ya, memang pada akhirnya Alina mengambil makanan dalam tas belanja itu karena merasa sayang juga jika tidak diambil.

__ADS_1


******


"Kalian sudah mengirimnya?" tanya seorang pria tampan dengan jas biru tua yang membalut tubuhnya.


"Sudah, Bos. Nona Alina juga tidak mengetahui siapa yang mengirim, karena dengan cepat saya bersembunyi sambil memastikan jika Nona Alina telah mengambil tas belanja berisi makanan itu," sahut salah satu seorang suruhan pria berjas biru tua itu.


Tersenyum tipis, pria berjas biru tua itu setelah mendengar jawaban orang suruhanya itu.


"Nicho," panggil seorang wanita cantik yang berjalan mengjampiri suaminya.


Memang, pria berjas biru tua itu adalah Nicho. Dan yang memanggilnya adalah istrinya, Arneta Alejandro.


"Ya sayang?" sahut Nicho lalu memberi kode agar orang suruhanya meninggalkanya berdua dengan sang istri.


"Sudah, tadi ada sedikit kerjaan. Kamu sudah makan?" Nicho menjawab sekaligus bertanya pada istrinya, agar Neta tak bertanya-tanya pekerjaan apa yang tadi dikerjakanya.


Neta mengangguk paham mendengar jawaban Nicho. Dengan manja, Neta mulai menyender manja di dada budang suaminya.


"Mau jalan-jalan." Neta menatap Nicho dengan pandangan berharap. Neta merasa, sudah lama sekali tidak keluar berdua untuk sekedar berjalan-jalan seperti saat dulu pacaran.


"Kemana?" tanya Nicho mengecup lembut tangan lentik istrinya itu.


"Kemana aja, yang penting sama kamu," sahut Neta antusias.

__ADS_1


"Hmm. Tapi, setelahnya beri aku hadiah. Oke?" Nicho tersenyum mesum menatap istrinya.


"Oke!" seru riang Neta lalu meninggalkan Nicho dari ruang kerjanya menuju kamarnya sendiri untuk bersiap.


*****


"Na, males banget gue. Dingin banget, habis gerimis lagi tadi," ucap Alina yang berjalan mengikuti sahabatnya,


"Gue gabut di rumah. Sekali-kali lah, jalan-jalan. Apa lagi, lo juga lagi nggak ngapa-ngapain," jelas Tasya.


Benar, keduanya memang tengah menghabiskan waktu berdua selagi tidak ada tugas mata kuliah. Walaupun, sebenarnya Tasya yang memaksa Alina ikut.


Keduanya juga tak terlalu jauh dari kostan Alina sekarang. Sebab, kostan Alina dekat dengan alun-alun, taman, dan berbagai tempat ramai lainya yang sering menjadi tempat para muda-mudi berkencan.


"Mau ngapain sih Na. Lo yang ngajak gue jalan, jadi juga lo yang harus jajanin gue," ucap Alina.


"Gampang itu. Yang penting, sekarang kita jalan-jalan lagi," sahut Tasya tersenyum angkuh.


Alina memalingkan mukanya, melihat Tasya tersenyum angkuh. Keduanya lalu mulai bercanda ria, hingga tak terlalu fokus pada jalan mereka. Alhasil, Alina dan Tasya menabrak orang hingga membuat ponsel orang lain jatuh.


"Aduh! Maaf-maaf, saya nggak sengaja," ucap Alina panik.


"Pak Nicho?" Tasya menatap seorang yang dikenalinya sebagai Dosenya bersama seorang wanita yang diyakininya sebagai istri Dosenya.

__ADS_1


Bersambung ...


__ADS_2