Istri Simpanan Dosen

Istri Simpanan Dosen
20.


__ADS_3

"Boleh saya pegang dan usap perut kamu?" Nicho meminta ijin untuk memegang dan mengusap perut Alina, karena entah kenapa Nicho merasa ingin sekali.


Grogi, itu yang Alina rasakan sekarang. Apa lagi, Dosenya itu masih menatap matanya begitu dalam. Alina bahkan sampai mengagumi betapa tampanya makhluk ciptaan Tuhan dihadapanya itu


"I-iya," jawab Alina, yang justru kini sudah tak lagi fokus dengan layar bioskop.


"Terima kasih," ucap Nicho sangat tulus.


Perlahan, tangan Nicho mendarat di perut Alina. Mengusapnya pelan, dan meresapi rasa hangat yang tiba-tiba menyusup di hati keduanya.


Alina berusaha fokus melanjutkan menonton filmnya. Tapi, usapan di perutnya yang sangat lembut itu, sangat mengganggu karena mampu membuat jantung Alina berdetak sangat cepat dan keras.


"I love you," bisik Nicho.


*******


Bukan, bukan untuknya 'kan ungkapan itu. Alina menggeleng-gelengkan kepalanya, mencoba berpikir positif. Mana mungkin, Dosenya itu suka, apa lagi cinta denganya.


"A-apa?" Alina dengan gugup memastikan bahwa pendengaranya tidak salah, kalau Dosennya itu mengatakan cinta.


"Apa?" tanya balik Nicho dengan ekspresi seolah tanpa dosa, telah membuat jantung Alina hampir copot.


"Itu, tadi Pak Nicho ngomong apa?" tanya Alina memperjelas, karena masih penasaran.


"Yang mana?" Nicho masih saja seolah tak tahu apa-apa.

__ADS_1


"Ah sudahlah," ketus Alina yang kesal.


******


"Kamu mau makan apa?" tanya Nicho setelah keduanya keluar dari bioskop, dan memutuskan untuk makan di restoran dulu, untuk mengisi perutnya yang mulai keroncongan.


"Terserah." Alina mengeluarkan jawaban andalan wanita, jika ditanya sesuatu.


Nicho menghela napasnya pelan. Kesal sekali, jika ada menjawab dengan kata terserah, karena pada akhirnya pilihanya pasti tidak disetujui.


"Saya bilang, kamu mau makan apa. Terserah termasuk makanan?" Nicho dengan kesal mengatakanya.


"Iya-iya. Tapi Bapak yang traktir 'kan?" tanya Alina berharap.


"Iya Alina," balas Nicho.


******


"Yakin? Kamu mau makan ini semua?" tanya Nicho dengan ragu.


Bagaimana tidak ragu, kalau di depanya bukan hanya dua piring makanan, tapi empat piring yang berisi aneka seafood. Mulai dari kepiting saus padang, kerang saus tauco, ikan bakar dan udang krispi.


"Yups. Sangat yakin," jawab Alina sambil tanganya sudah memotong kepitingnya.


"Makan, pak." Alina menatap heran Dosenya itu, karena bukanya menghabiskan makananya, Dosenya itu justru memperhatikannya yang sedang sibuk menghabiskan pesananya.

__ADS_1


"Saya kenyang, liat kamu makan," sahut Nicho, dengan mata yang mengamati mahasiswanya yang makan dengan sangat lahap dan agak berantakan.


"Bapak jijik, liat cara makan saya ya?" tebak Alina khawatir.


Nicho mengernyitkan keningnya, heran dengan Alina yang berkata seperti itu. Padahal, Nicho sama sekali tidak merasa jijik dengan cara makan mahasiswanya itu.


Walaupun terlihat tidak anggun cara makanya, tapi Nicho tak masalah, karena Alina mau menunjukan dirinya apa adanya. Lagian, ini bukan di acara penting, jadi tak masalah menurutnya Alina makan dengan cara seperti itu.


"Nggak," jawab Nicho, dengan gaya dan ekspresi seperti biasanya, dingin dan datar.


"Kalau begitu, Pak Nicho harus coba. Ini makanan favorit saya loh," ucap Alina yang langsung menyodorkan makanan favoritnya di depan mulut Dosenya.


Seolah lupa dengan siapa pria itu, Alina menyuapi Dosenya sendiri. Dan lebih parahnya lagi, Nicho tak menolak suapan dari mahasiswanya itu.


"Enak 'kan?" tanya Alina antusias.


"Enak," jawab Nicho apa adanya.


"Tuh 'kan, enak." Alina dengan bangga mengatakanya.


"Enak, karena kamu yang suapi," lanjut Nicho dengan serius.


Blush


Wajah Alina langsung merona mendengarnya, dan seketika tubuhnya pun langsung kaku karena itu.

__ADS_1


Bersambung ...


__ADS_2