Istri Simpanan Dosen

Istri Simpanan Dosen
22.


__ADS_3

Aleta, nama wanita berbaju seksi berwarna merah itu, yang kini tengah mengamati suami sahabatnya yang dilihatnya di sebuah restoran tanpa disengaja.


Masalahnya, wanita itu tak diketahui Aleta dan temanya. Dan dilihat dari interaksi dan penampilannya, wanita itu bukan rekan kerja suami sahabatnya.


Hal itulah yang membuat Keduanya curiga, kalau suami sahabatnya yang bernama Neta, selingkuh.


"Yakin, kita tanya sama Neta?" tanyanya pada Ajeng.


"Iya Let" jawab Ajeng mantap, karena hanya itu caranya untuk mengatasi rasa penasaranya.


"Kalau bukan gimana? Yang ada kita diamuk Neta," ucapnya lagi.


"Gimana kalau benar Nicho selingkuh? Mending kita tanya Aleta." Ajeng kekeh, karena rasa penasaranya sangat besar.


Walaupun ragu kalau Nicho selingkuh, mengingat betapa cintanya Nicho sama sahabatnya, tapi semuanya tidak ada yang tidak mungkin di dunia, iitu yang Ajeng pikirkan.


"Sudah kamu kirim?" tanya Ajeng pada Aleta, sahabatnya.


"Sudah Jeng," balas Aleta setelah mengirim foto itu pada sahabatnya, Neta.


Keduanya menunggu balasan Neta, sembari melanjutkan kegiatanya tertunda karena melihat suami sahabatnya bersama wanita lain.


"Ajeng! Neta telpon." Aleta dengan heboh menunjukan handphonenya yang berdering karena ada panggilan dari Neta.

__ADS_1


"Angkat-angkat!" seru Ajeng tak kalah heboh.


******


Setelah menempuh perjalanan beberapa menit, Alina kini telah sampai di kost-anya dan sudah membersihkan diri agar lebih nyaman. Karena sejak hamil, Alina kerap merasa risih, walaupun habis mandi.


Bukan hanya itu, kebiasaannya yang dulu pemalas, kini Alina merasa menjadi sangat rajin. Selain rajin, Alina juga merasa cenderung suka kebersihan, tidak seperti dulu yang malas sekali, untuk berberes kost-annya.


"Huh, capeknya," gumam Alina sambil merebahkan dirinya di ranjangnya yang tidak besar, tapi juga tidak kecil.


"Nana tadi chat apa ya, kayaknya tadi Nana ngirim chat," monolog Alina, lalu segera mengambil handphonenya.


Alina membuka handphonenya, dan membalas pesan dari Tasya, dan berakhir dirinya berbalas pesan dengan sahabatnya itu, dengan pembahasan yang tak jauh-jauh dari Nicho, Dosenya yang tampan, tapi dingin dan datar.


Sambil menunggu adzan magrib, Alina berbalas pesan dengan Tasya. Untung saja, Alina sudah menyempatkan untuk sholat ashar sebelumnya, jadi Alina bisa santai-santai.


Alina bercerita apa saja yang dialaminya pada sahabatnya, hingga masalahnya dengan orang tuanya pun Alina ceritakan. Bahkan, Alina menceritakanya sambil terisak, karena kembali teringat dengan masalahnya dengan kedua orang tuanya yang belum selesai.


'Benar kata Nana, gue nggak boleh terlalu berpikir berat. Kandunganku masih rentan keguguran,' monolog Alina dalam hati, membenarkan pesan Tasya, yang mengatakanya untuk tidak berpikir berat, karena ibu hamil tidak boleh stres.


******


Sampai di rumahnya, Nicho langsung memparkirkan mobilnya di garasi. Tapi, matanya langsung tertuju pada sebuah mobil berwarna hitam milik istrinya yang terparkir di sampinh mobilnya.

__ADS_1


Tak biasanya, istrinya itu berada di rumah saat masih sore. Itu yang ada dalam benak Nicho. Biasanya, istrinya itu pulang sampai larut malam, melebihi dirinya dulu saat masih bekerja di kantor ayahnya.


Nicho langsung masuk ke dalam rumahnya, untuk memastikan keberadaan istrinya itu, apakah benar-benar di rumah atau tidak.


'Tidak biasanya, Neta di rumah jam segini,' gumam Nicho dalam hati.


******


"Dari mana?" tanya Neta dengan wajahnya yang terlihat tak seperti biasanya.


"Siapa?" tanya balik Nicho heran.


"Aku tanya, kamu dari mana?" tanya Neta kembali yang kini mengatakanya dengan nada dingin.


Nicho heran, dengan pertanyaan istrinya itu. Karena sebelum pergi, Nicho sudah mengatakan jika dirinya ada urusan di luar kampus hati ini.


"Aku sudah bilang tadi pagi, aku sda urusan di luar kampus," jawab Nicho.


"Ouhh. Bukan ketemu selingkuhan?" Neta mengatakanya dengan wajah yang sudah menahan amarah.


"Apa?!" Nicho kaget mendengarnya.


Bersambung ...

__ADS_1


__ADS_2