
"Tidak ingin mengulangi malam itu 'kah?" Nicho menggoda Alina, karena Nicho paham dan peka, kalau istrinya itu sebelumnya melamun sebab memikirkan bahwa ini adalah malam pertama mereka.
Alina yang mendengar itu, meremas selimut dengan keras. Takut dan gugup Alina rasakan saat ini.
"Yakin? Mau melewatkan malam pertama kita ini?" tanya Nicho masih saja belum puas menggoda istrinya itu.
Lucu sekali, Nicho melihat istrinya itu. Kentara sekali, kalau istrinya itu tengah panik saat ini, karena ternyata, Nicho kini bisa melihat wajah alina dari kaca, setelah tanpa sengaja tadi matanya tertuju kaca berukuran cukup besar mengarah ke Alina.
"Saya sih tidak. Sayang sekali, kalau malam pertama ini dilewatkan bukan?" Nicho merangkak ke ranjang, dan mendekati tubuh Alina dengan jarak yang sangat dekat.
Nicho menyentuh pundak Alina, yang sontak langsung membuat Alina terkejut dan reflek membalikan tubuhnya menghadap Nicho.
"Jangan!"
******
Alina menahan tangan Nicho, dan menatap suaminya itu dengan tatapan horor. Sedangkan Nicho, langsung tertawa, karena melihat seberapa takut Alina padanya.
"Minggir!" Alina menyentak tangan Nicho, dan beranjak dari ranjang.
Ceritanya, Alina ngambek sama Nicho. Takutnya bukan hanya sekedar bercandaan, dan Nicho justru menertawainya. Tidak tahu saja seberapa kelam malam itu, yang benar-benar menimbulkan trauma yang cukup membuatnya takut berdekatan terlalu intim seperti ini. Dan tidak tahu saja, seberapa dirinya berusaha menutupi traumanya dari semua orang, agar semua melihatnya baik-baik saja.
"Alina hei," panggil Nicho panik, karena Alina melenggang meninggalkanya, dengan mata yang mulai berembun.
Alina menulikan telinganya, tetap melangkahkan kakinya keluar. Karena itu, Nicho dengan sigap menahan Alina, dan menatap kedua mata Alina yang kini sudah meneteskan air matanya.
__ADS_1
"Maaf," lirih Nicho, merasa bersalah.
Walau sebenarnya, Nicho tidak benar-benar tahu apa yang membuat Alina marah padanya, hanya karena candaan seperti ini.
"Hiks hiks. Pa-ak Nicho jahat hiks." Alina menolak pelukan Nicho.
Nicho tetap berusaha memeluk Alina, dan menenangkan istrinya. Tak peduli penolakan istrinya, karena ia tahu, istrinya butuh pelukan untuk menenangkanya.
Setelah tenang, Nicho membawa istrinya duduk kembali di ranjang. Menghapus jejak-jejak air matanya, dan mengecup cukup lama kening Alina. Memang, Nicho mengecup kening Alina, dirinya pun reflek melakukan itu, atas dorongan dari hatinya sendiri. Jelas Nicho tak dapat menahanya.
"Saya nggak suka, Pak Nicho bercanda kayak gitu."
"Candaan Pak Nicho, membuat saya mengingat malam kelam hari itu."
Alina mengalihkan tatapanya, kala ingatanya berputar pada kejadian yang membuatnya hingga sampau ketitik ini. Kejadian kelam, yang tak akan terlupakan sampai kapanpun.
Saat itu, adalah acara ulang tahun sahabat Alina. Iya sahabat, tapi bukan Tasya. Sebenarnya, sahabat Alina bukan cuma Tasya dulunya. Tapi, yang pertama kali menjadi sahabatnya adalah Tasya, dan barulah Alina mengenal sahabat keduanya itu setelah memasuki bangku SMA.
Alina datang dengan sangat bahagia bersama Tasya. Keduanya berdandan sangat cantik, dengan riasan make up naturalnya.
Setelah menempuh perjalanan dengan waktu beberapa menit, Alina dan Tasya telah sampai di kediaman sahabat keduanya, yaitu Kalula.
Kalula Wiratama, gadis manis dan cantik yang merupakan salah satu sahabat Alina dan Tasya, yang kini telah menetap di Amerika bersama ibunya, setelah rumah tangga orang tuanya hancur.
Oleh karena itu, Kalula harus berpisah dengan sahabat-sahabatnya, dan berpisah dengan ayah serta kakak laki-lakinya. Dan hari itu, Kalula kembali ke negara kelahiranya, untuk merayakan hari ulang tahunya, bersama orang tuanya, atas permintaan Kalula, sebagai hadiah ulang tahunya.
__ADS_1
Namun, siapa sangka, ternyata Kalula memiliki niat terselubung dengan diadakanya acara ulang tahunya itu.
Kalula berniat balas dendam dengan ibu serta kakak tirinya, yang dianggap penyebab hancurnya rumah tangga orang tuanya, dengan cara menjebak kakak tirinya agar melakukan ONS bersama salah satu wanita yang telah Kalula pesan, lalu merekamnya agar dijadikan alat untuk menjatuhkan ibu serta kakak tirinya itu di depan ayahnya.
Tapi, yang Kalula sesali adalah, jebakan itu meleset semua dan justru berimbas pada sahabatnya sendiri, dan sahabat kakak tirinya, Alan Ragawijaya, yang kebetulan diundang oleh kakak tirinya itu.
Kalula merasa bersalah atas kejadian itu, dan memaki semua orang yang telah diperintahkanya untuk melancarkan aksi jebakannya itu.
Kalula menangis siang malam, dan memutuskan untuk jujur dengan sahabatnya, yaitu Alina.
Mendengar pengakuan sahabatnya itu, tentu Alina shok. Setelah kejadian naas itu, Alina hanya bisa memendamnya sendiri, dan tak bisa tidur karena terbayang akan kejadian yang membuat kegadisanya terenggut. Alina marah, dan mengusir Kalula, tapi Alina tak mengatakan memutuskan tali persahabatnya. Hanya saja, terlalu sakit mendengar kejujuran dari sahabatnya itu.
Kalula yang merasa malu dan merasa sangat berdosa, memilih kembali ke Amerika bersama ibunya, tanpa pesan apapun untuk Alina dan Tasya. Kalula sadar, bahwa permintaan maafnya tak akan diterima Alina, karena kesalahanya terlalu fatal, dan dengan kata maafnya itu tak akan bisa mengembalikan kesucian sahabatnya.
Tasya yang tak tahu apapun, hanya berpikir bahwa mungkin saja sahabatnya itu ada urusan mendadak, walaupun setelahnya keduanya lost kontak dengan Kalula. Dan Alina akan marah jika mengungkit Kalula, hingga saat ini.
Flashback selesai* ...
Bahkan, setelah Tasya tahu kehamilan Alina, Tasya belum tahu detail kejadian yang membuat Alina seperti itu.
Nicho pun sama, tak tahu penyebabnya. Yang Nicho tahu, dirinya meminum minuman yang telah dicampur obat perangsang, saat acara ulang tahun adik tiri Alan, sahabatnya.
Nicho sudah mencari pelakunya, tapi Kalula bermain bersih, hingga tak meninggalkan jejak, karena Kalula telah merencanakan dengan matang rencana itu, tapi ternyata Tuhan tetap tak berkehendak melancarkan rencananya. Oleh karena itu, Nicho belum mengetahuinya hingga saat ini.
Hanya Alina dan Kalula yang tahu, dan keduanya masih menyimpan rapat rahasia itu, entah dengan alasan apa. Yang jelas, hubungan sahabat keduanya telah renggang, dan mungkin putus, mungkin.
__ADS_1
"Maaf," liirh Nicho dengan rasa bersalah.
Bersambung ...