Istri Simpanan Dosen

Istri Simpanan Dosen
15.


__ADS_3

Suara muntahan Alina terdengar hingga luar kamar mandi. Tasya yang berada di depan pintu kamar mandi, menunggu Alina keluar dari kamar mandi dengan panik, karena Alina belum juga berhenti muntah.


Pintu kamar mandi yang dikunci, membuat Tasya tak bisa masuk ke dalam dan hanya bisa menemani Alina dari luar.


Setelah beberapa saat, Alina keluar dari kamar mandi dengan kondisi yang lemas dan wajah yang pucat serta merah padam. jejak-jejak air mata juga terlihat, walau tidak terlalu.


"Sudah? Ke UKS aja yah," ajak Tasya yang masih panik.


"Nggak usah, Na. Gue baik-baik saja," sahut Alina dengan lemas.


Tasya dengan sigap menuntun Alina, karena tubuh sahabatnya itu terlihat lemas. Tapi, hanya beberapa langkah, Alina sudah tak kuat dan akhirnya pingsan.


"Alina!" seru Tasya panik.


******


"Engh."


Alina mengerjapkan matanya, menyesuaikan cahaya yang masuk ke matanya. Bau obat yang menyengat langsung tercium oleh hidung Alina, membuatnya paham di mana dirinya berada sekarang, walau tanpa bertanya terlebih dahulu.


Alina mengingat-ingat potongan-potongan memorinya, sebelum dirinya berada di ruangan berbau obat ini.


"Nana," panggil Alina sembari mengedarkan padanganya kanan dan kiri yang sepi.


Tak menemukan keberadaan sang sahabat, membuat Alina segera bangun dari posisi tidurnya. Tapi, baru akan menginjakan kakinya ke lantai, suara bariton yang menegurnya terdengar.


"Mau kemana?" tanyanya dengan suara khas pria yang berat dan serak.


"Pak Nicho?" Alina dengan heran menatap Dosennya itu yang kini berdiri tepat di depanya.


"Mau kemana?" tanya Nicho lagi, dan mengabaikan raut keheranan Alina.

__ADS_1


"Bukan urusan Bapak," ucap Alina dengan berani.


Nicho tetap mempertahankan ekspresinya yang datar dan dingin, tapi mata tetap tak bisa membohongi, jika Nicho sebenarnya tersinggung dan emosi mendengar Alina yang pedas.


"Kamu mengandung benih saya, dan kamu bilang bukan urusan saya?" Nicho berjalan kearah nakas di samping ranjang pasien, dan meletakan satu kantung kresek berisi makanan.


"Hmm. Terserah Pak Nicho aja," ucap Alina pasrah.


"Dimana sahabat saya, Pak?" tanya Alina.


"Saya tidak tahu. Jangan pikirkan dia, kamu makan ini sekarang. Anak kita lapar," sahut Nicho perhatian.


Mendengar Nicho menyebut anak kita, Alina merasa ada rasa asing yang hinggap di dadanya. Bahkan, Alina sekarang merasa pipinya panas.


Nicho langsung mengeluarkan makanan itu dari kantung kresek, dan membawanya ke arah Alina.


"Bubur?" tanya Alina saat melihat makanan yang dipegang Nicho.


Bukanya langsung melahap, Alina justru memalingkan wajahnya. Melihat bubur itu, sungguh Alina sangat tak berselera. Bahkan, rasanya Alina akan muntah lagi, jika sampai bubur itu masuk ke dalam mulutnya.


"Nggak mau!" tolak Alina dengan keras.


Tak ingin memaksa, Nicho mecoba bersabar. Nicho tahu, bagaimana repotnya orang hamil, yang memang kerap pilih-pilih makanan. Dan jika sampai dipaksa, maka ibu hamil bisa memuntahkan makanannya.


Selain itu, walau belum mempunyai seorang anak, tapi Nicho pernah merasakan menjadi calon seorang ayah. Iya, hanya calon dulu.


"Kamu mau apa?" tanya Nicho dengan sabar.


"Soto," sahut Alina mengutarakan apa yang melintas tiba-tiba di pikiranya.


Entah kenapa, sekarang Alina ingin sekali makan soto. Alina membayangkan kelezatan soto, yang sebenarnya makanan itu terlintas di pikiranya tiba-tiba.

__ADS_1


"Sudah saya pesankan. Sementara, makan buah dulu," ucap Nicho.


Tanpa kata, Nicho mengupas buah yang juga tadi dirinya bawa. Nicho melakukanya dengan sabar dan telaten. Tak hanya itu, Nicho juga menyuapinya. Apa yang Nicho lakukan, membuat hati Alina tersentuh.


'Tidak, jangan baper Alina. Pak Nicho sudah punya istri. Dia hanya perhantian dengan anaknya, bukan kamu,' batin Alina yang berusaha menyadarkan dirinya sendiri, agar tak jatuh dalam pesona dan perhatian ayah biologis janinya.


Walau canggung, Alina tetap menerima suapan buah dari Dosen sekaligus ayah biologis janinya.


"Kamu sudah memberitahu keluarga kamu?" tanya Nicho tiba-tiba.


"Belum," jawab Alina seadanya.


"Saya tak berani, untuk mengatakanya. Saya tak sanggup melihat wajah kecewanya, saat tahu saya hamil diluar nikah," lanjut Alina dengan matanya yang berkaca-kaca.


Mendengar itu, rasa bersalah Nicho terasa semakin besar. Tapi, walau begitu Nicho tak menyesalinya. Karena dengan adanya kejadian malam itu, keinginan yang tak bisa istrinya wujudkan, sebentar lagi akan terwujud.


"Sekarang atau nanti, itu sama saja. Justru, semakin lama kamu pendam, mereka akan semakin kecewa," ucap Nicho panjang lebar.


"Jangan lari dari masalah. Kita hadapi bersama-sama, saya tidak akan lari dari tanggung jawab." Nicho menatap Alina yang kini sudah meneteskan air matanya.


Tak menjawab, justru tangisan Alina semakin jelas. Hal itu membuat hati Nicho merasa sesak. Dengan pelan, Nicho memeluk Alina, yang langsung disambut dengan hangat oleh Alina.


Mendapat pelukan dari Dosenya sendiri, Alina tak dapat mengendalikan tubuhnya sendiri, yang justru menerima pelukan Dosenya itu dengan hangat. Walaupun, hati dan akalnya menolak, tapi tidak dengan tubuhnya.


Keduanya hanyut dengan kehangatan pelukan itu, hingga tak menyadari, jika seseorang membuka pintu UKS dan melihat adegan romantis itu.


"Nicho?!"


Bersambung ...


Baca juga ceritaku yang lain. Yang berjudul ~ Pengganti sang Kembaran Juga Tentara dan Perawat Cantik ~

__ADS_1


__ADS_2