
Hari yg sibuk dimana sejak pagi buta Mira dan juga ke 4 karyawanku sibuk menyiapkan pesanan para pelanggannya, hari ini rencananya Mira dan juga Team akan mengirim beberapa pot bunga ke beberapa tempat, Mira di temani Sintia karyawan nya yg paling lama kerja di tempat Mira sibuk bolak balik mengecek barang agar tidak tertukar.
"Pak Wawan, yg ini untuk Hotel Maerot ya, yg ini yg ada motif bunga untuk Resto Cahaya dan yg besar besar ini untuk Marko Brimob ya Pak, awas ketuker! " Ucap Sintia sambil menunjuk nunjuk beberapa pot yg ada di atas mobil pick up.
"Siap Neng, Insya Allah ngga bakal ketuker Neng" Seru Pak Wawan sambil mengikat bagian pot agar tidak jatuh saat di perjalanan. Mira menghampiri Pak Wawan yg baru selesai mengikat, "Pak ini nota nya yg di Marko Brimob tolong kasih ke Pak Dhiwa ya, uangnya Cash di sana" titah nya sambil menyerahkan sebuah nota, Pak Wawan melongo lalu dia menatap ke arah Mira.
"Aduh punten Teh Mira, saya ngga berani kalau nerima uang langsung, mending di TF aja atuh Teh" Ucap Pak Wawan dengan sopan.
"Yah orangnya maunya Cash, Pak. Gimana ya? " tanyanya sambil menggaruk kerudung.
"Teteh ikut aja atuh ke Marko Brimob, biar sekalian cuci mata kan disana banyak cowok cowok keren Teh " ucap Sintia sambil terkekeh menghampiri Mira, Mira kemudian membenarkan ucapan Sintia lalu kemudian mengambil kembali nota yg ada di Pak Wawan.
"Ya sudah Pak Wawan antar yg 2 tempat itu dulu nanti kalau sudah mau ke Marko kabarin Saya ya, nanti Saya nyusul " titah Mira di balas anggukan Pak Wawan dan keneknya. Akhirnya 2 mobil pick up itu pun berangkat sedangkan Mira kembali ke dalam dan mengambil ponselnya lalu mengirimkan pesan kepada para pelanggan bahwa barang pesanan mereka sedang di antar ke alamat.
"Alhamdulillah ya Teh, toko rame terus semenjak Teteh yg pegang, kemarin mah pas di pegang sama A Ridwan mah kurang rame " ucap Sintia sambil duduk di kursi depan meja kerja Mira.
"Iya Neng, alhamdulillah. Kemarin si Aa mah kurang pintar belanja pot nya jadi nya kurang menarik buat di pajang, coba lihat sendiri Saya yg belanja mah rame terus kan " seru Mira sambil melihat nota nota yg ada di atas meja.
"Iya Teh Mira mah paling The Best, udah gitu kalau Teteh mah ramah, karyawan ngga canggung dan tegang, kalau sama Aa ridwan kemarin sering di marahin Teh, kasihan " ucap Sintia kembali.
__ADS_1
"Kamu tenang aja, sekarang toko ini Saya yg handle, Insya Allah kedepannya bakal rame terus, kalian kerja juga lebih nyaman. Biar pada betah ya kerja disini" ucapnya sambil memegang tangan Sintia.
"Iya Teh Aamiin, saya senang banget ada Teteh disini, anak anak yg lain juga ikut senang" ucap Sintia antusias, Mira tersenyum simpul mendengar penuturan Sintia.
Toko ini adalah Warisan dari Almarhum Papanya Mira, beliau memberikan Toko pot dan tanaman ini untuk nya, hanya saja saat itu Mira masih kuliah jadi belum bisa mengurusnya. Akhirnya Mira minta tolong kepada Kakaknya Ridwan untuk membantu mengurusnya. Akan tetapi semenjak di pegang olehnya toko Mira jadi sepi karena Aa Ridwan kurang suka berdagang.
Setelah lulus kuliah akhirnya Mira memutuskan untuk mengambil alih toko, semenjak Mira ambil alih sekarang tokoku jadi ramai pembeli, bahkan ada yg memesan untuk Hotel, Rumah Sakit, Sekolah dan beberapa Restoran.
Tiba-tiba ponsel Mira berdering, ada pesan masuk dari Pak Wawan. Mira pun mengambil tas nya dan juga kunci mobilnya lalu segera menyusul Pak Wawan ke Marko Brimob. Setelah kurang lebih 20 menit Mira pun sampai, Mira menyetir mobilnya pelan menuju portal masuk ke dalam Markas.
"Selamat siang Bu, ada yg bisa Saya bantu? " sapa seorang petugas berseragam Tentara dengan ramah.
"Oh silahkan masuk Bu, nanti Ibu parkir disana saja" titahnya sambil menunjukan sebuah halaman yg lumayan luas dan terdapat beberapa mobil dan juga motor yg sedang terparkir.
"Oh iya, Terima kasih Pak " ucapnya sambil menundukkan kepala lalu Mira masuk ke dalam mengikuti arahan nya tadi, ternyata disana sudah ada Pak Wawan dan juga keneknya sedang menurunkan barang dari mobil. Mira parkir di sebelah nya lalu Mira turun dari mobil dan ada 3 orang Tentara yg membantu, salah seorang nya hanya berdiri sambil menghitung jumlah pot yg di turunkan.
"Assalamu'alaikum, maaf yg mana yg namanya Pak Dhiwa ya? " sapa nya kepada Tentara yg sedang menghitung tadi, dia pun menoleh ke arah Mira dan menatapnya tanpa berkedip.
"Wa'alaikumussalam, Saya Dhiwa. Maaf Teteh siapa? " jawabnya.
__ADS_1
"Saya Mira, Pak. Yg semalam whatsapp an sama Bapak, ini Saya mau menyerahkan nota pesanan milik Bapak " ucapnya sambil menyerahkan selembar kertas, Pak Dhiwa mengambil kertas tersebut lalu mengeceknya.
"Ohh Teteh pemilik Toko Mira Pot House ya, maafkan Saya tidak engeh, Saya pikir yg punya nya sudah berumur, ngga taunya masih muda dan cantik ya, hehe... " ucap Pak Dhiwa sambil bercanda dan terkekeh, Mira merasa malu di bilang cantik olehnya, Mira pun tidak menyangka kalau dia pun ternyata masih sangat muda, perkiraan nya hanya lebih tua sedikit darinya.
"Bapak bisa saja, jangan ngomong begitu Pak nanti Saya terbang gimana, hehe" ucapnya sambil terkekeh.
"Jangan panggil Bapak,panggil Mas saja. Saya ngga jauh beda dari Kamu " titahnya sambil menatapnya, jujur tatapannya membuat Mira deg deg an, wajahnya yg tampan dan tegas, kulit hitam manis, badan yg tegap dan tinggi membuat wanita manapun jatuh cinta padanya.
"Iya Mas, maaf hehe " ucap Mira sambil menggaruk kerudung nya lalu dia mengeluarkan sebuah amplop yg terdapat uang di dalamnya lalu menyerahkan kepada Mira.
"Tolong di hitung dulu " titahnya, Mira mengangguk lalu mulai menghitung, "Alhamdulillah pas Mas uangnya" serunya lalu memasukkan kembali uang tersebut ke dalam amplop. Pak Wawan sudah selesai menurunkan semua barang lalu pamit kepada Mira dan juga Mas Dhiwa untuk pulang duluan. Mira pun bersiap untuk pulang juga karena transaksi sudah beres.
"Terima kasih banyak ya Mas, semoga pot nya awet dan Mas puas dengan barang dari toko Saya" ucapnya sebelum masuk ke dalam mobil.
"Sama sama, nanti kalau Saya ada proyek lagi Saya akan menghubungi Teteh kembali " jawabnya sambil tersenyum, "kalau begitu Saya permisi ya Mas, Assalamu'alaikum" ucapku lalu masuk ke dalam mobil.
"Wa'alaikumussalam" jawabnya lalu melambaikan tangan saat mobil Mira melaju meninggalkan Markas. Matanya terus menatap kepergian Mira hingga tak telihat lagi di matanya.
'Sangat cantik dan juga sopan, semoga kita bisa bertemu kembali' ucap Mas Dhiwa dalam hatinya, dia tersenyum tipis lalu berjalan masuk ke dalam Markas.
__ADS_1