Istri Siri Sang Tentara

Istri Siri Sang Tentara
BAB 27.


__ADS_3

Mira tertegun saat melihat Bu Khadijah berdiri di depan pintu, Bu Khadijah datang bersama dengan Ridwan.


Iya Ridwan sudah memberitahukan soal kehamilan Mira kepada ibunya, Bu Khadijah sangat syok, dia tak menyangka hal itu akan terjadi pada putrinya.


Ibu Khadijah masuk ke dalam, sedangkan Mira mundur perlahan sambil menatap ibunya yg terlihat kesal.


PLAK!


Tiba-tiba sebuah tamparan mendarat di pipi Mira, Ridwan sangat terkejut sedangkan Mira hanya terdiam sambil menunduk.


"Mah, kenapa Mama menampar Mira? " tanya nya heran.


"Dia pantas mendapatkan nya karena sudah mempermalukan keluarga kita dan juga dirinya" ucap Bu Khadijah dengan nada bergetar.


Ridwan terdiam, dia bukan tak ingin membela adiknya tapi dia membiarkan Ibunya untuk menegur kesalahan adiknya.


"Katakan Mira! Apa Mama pernah menyuruh mu menjadi pelakor? Apa Mama pernah mengajarimu menjadi berbuat zina? Katakan Mira! Kenapa kamu menyakiti kami semua? Mama, kakakmu, kakak ipar mu, bagaimana bisa kamu sebegitu rendah sebagai seorang perempuan, tak bisa menjaga harga diri mu sama sekali. Mama kecewa Mira, sangat kecewa. Mama takkan membantumu mengurus bayi yg ada dalam kandungan mu itu, kamu urus hidupmu sendiri agar kamu sadar dengan akibat dari perbuatan mu itu" ucap Bu Khadijah dengan nada yg marah.


Mira langsung bersujud di kaki sang Ibu, dia menangis sambil memeluk kaki ibunya.


"Maafkan Mira mah, Mira tau Mira salah, Mira sudah berbuat dosa. Tapi anak ini tidak bersalah mah, mama boleh menghukum Mira, mama boleh pukul Mira sampai mati pun Mira ikhlas, tapi tolong akui cucu mama ini, Mira sayang padanya mah, mira dan mas Dhiwa saling mencintai, ampuni Mira mah maafkan Mira" Mira memohon sambil menangis sesegukan.


Ridwan merasa tak tega melihat Mira, dia pun memapah Mira agar berdiri, tapi Mira menolak.


"Mira bersedia di madu oleh mas Dhiwa demi memberi status untuk anak ini mah, jika Mira gugurkan Mira akan semakin berdosa, beritahu Mira mah Mira harus bagaimana? Mira juga sakit mah, hati Mira hancur berkeping-keping"


Ibu Khadijah menitikan air mata nya, hatinya terasa sakit mendengar ucapan putrinya dalam hati beliau pun tak tega, beliau dapat merasakan bagaimana menderitanya Mira saat ini.


Dia pun membungkuk, menarik bagus Mira. Mira tertegun lalu bu Khadijah memeluk Mira. Mereka pun menangis histeris.


"Maafkan Mira mah, maafkan Mira, Mira sudah durhaka sama mama" tangis Mira histeris.


Bu Khadijah tak berkata apapun, dia hanya memeluk putrinya sambil menangis.


Bel rumah berbunyi, Ridwan menoleh ke arah pintu begitupun dengan Mira dan ibunya. Ridwan berjalan ke arah pintu dan membuka kan pintunya.

__ADS_1


Ridwan tertegun melihat Dhiwa datang bersama dengan seorang wanita, dia yakin jika itu adalah istri pertama Dhiwa.


"Assalamu'alaikum abang" sapa Dhiwa.


"Wa'alaikumussalam, masuklah" titah Ridwan, Dhiwa terkejut saat melihat Mira yg tengah menangis dalam pelukan ibunya.


Dhiwa berjalan menghampiri bu Khadijah di susul Mirna di belakang nya. Dhiwa mengulurkan tangan tapi bu Khadijah hanya terdiam sambil menatap nya tajam.


"Duduklah, ada yg ingin Mama bicarakan kepada kalian semua, kebetulan hari ini kamu datang dengan membawa istrimu kan? " ucap Bu Khadijah sambil menatap Mirna.


Mirna bersikap santai, meskipun dalam hati nya merasakan bergetar dan sakit.


"Nak Dhiwa, ibu sudah mendengar semuanya dari Ridwan, jujur ibu sangat kecewa karena kamu sudah menipu anak saya, bukan hanya menipu tapi kamu juga sudah menghamili dan menghancurkan masa depan Mira. Sekarang ibu berikan kamu 2 pilihan. " ucap bu Khadijah membuat semua mata tertuju padanya.


"Mah, apa maksud mama? " tanya Ridwan.


"Kamu diam dan dengarkan saja, ini biar mama yg urus" ucap bu Khadijah.


"Pilihan pertama, kamu nikahi Mira, temani dia sampai dia melahirkan, setelah itu kalian berpisah. Pilihan kedua jauhi Mira, saya akan menikahkan Mira dengan orang lain, membawa Mira pergi jauh dari hidup mu, biar anak ini kami yg membesarkan nya".


" Tapi saya mencintai Mira bu? Ini tidak adil bagi saya dan juga Mira? "Tolak Dhiwa.


"Lalu menurutmu apakah ini adil untuk istrimu? Dia pun pasti merasa ini tak adil nak Dhiwa, dia takkan pernah rela di madu begitupun dengan putri saya, tapi melihat pekerjaan mu kau takkan bisa memiliki istri lebih dari satu sesuai dengan peraturan pertentaraan. Kalian hanya bisa menikah siri setelah bayi ini lahir ceraikan Mira, ini keputusan yg saya buat semoga kalian bisa mengerti" ucap bu Khadijah membuat Dhiwa terdiam, dia tahu perasaan Mirna saat ini seperti apa.


"Saya ikhlas jika mas Dhiwa harus menikahi Mira" ucap Mirna tiba-tiba, Mira menatap ke arah Mirna,


"Saya mengijinkan suami saya untuk menikahimu karena anak yg ada dalam kandungan mu, saya bicara seperti ini bukan berarti saya tak sakit, bahkan hati saya sangat hancur. Tapi mau bagaimana saya tak mungkin mengelak. Saya tak bisa egois hanya demi kepentingan diri saya sendiri, saya merasa kasihan dengan anak itu karena bagaimana pun mas Dhiwa adalah ayah kandungnya" jelas Mirna.


"Apa kau yakin mengijinkan suamimu untuk menikahi putriku" tanya bu Khadijah.


"Bismillah, insya Allah saya mengijinkan dan mengikhlaskan" jawab Mirna mencoba untuk tersenyum.


"Alhamdulilah" bu Khadijah menghampiri Mirna dan memeluknya. "Kau sungguh wanita yg luar biasa, jika itu perempuan lain pasti takkan sekuat dirimu nak, semoga Allah melimpahkan pahala syurga untuk mu kelak wahai istri sholehah" ucap bu Khadijah sambil mengelus punggung Mirna.


Mirna meneteskan air mata, merasakan tersentuh dengan ucapan bu Khadijah, dia mencoba mengikhlaskan Dhiwa meskipun hatinya hancur.

__ADS_1


Mirna bangkit menghampiri Mira, dia memeluk tubuh Mira lalu mereka berdua menangis.


"Menikahlah dengan mas Dhiwa, aku ikhlas" ucapnya.


"Maafkan aku mbak, aku sudah menjadi benalu di rumah tangga kalian" ucap Mira sambil sesegukan.


"Jangan berkata begitu, kita hanya lah korban dari keegoisan laki-laki" sindir Mirna.


Dhiwa menundukkan kepala nya merasa tersindir, Ridwan menahan tawanya melihat ekspresi Dhiwa.


Ibu Khadijah merasa lega karena istri Dhiwa sudah memberikan restu, dia mendekati Mira dan Mirna lalu memeluk mereka.


"Semoga kita semua selalu dalam lindungan Allah SWT, dan semoga Allah mengampuni dosa-dosa kita" ucap bu Khadijah.


Dhiwa dan Mirna pamit pulang, Ridwan mengantarkan ibunya pulang ke rumah karena bu Khadijah akan mengurus pernikahan siri putrinya.


Mirna terdiam sambil melihat keluar jendela, Dhiwa mengenggam tangan Mirna, Mirna merasa sakit dalam hati nya semakin dalam.


'Ku pikir kau takkan pernah menghianati ku mas, ternyata aku salah' batin Mirna


"Bun, maafkan ayah ya" ucap Dhiwa.


"Sudahlah Yah, waktu takkan bisa berputar mundur, jalani tanggung jawab mu demi anak yg di kandung Mira" ucap Mirna tanpa menoleh ke arah Dhiwa.


Dhiwa yg melihat perubahan sikap Mirna hanya bisa menghela nafas nya, semua adalah kesalahan nya dan dia menerima apapun perlakuan Mirna padanya.


.


.


Bu Khadijah sampai di rumah, Ridwan langsung pulang ke rumah karena dia akan mengantarkan Mutia pergi menghadiri seminar di kampus lamanya.


Bu Khadijah meraih ponselnya dan menelpon seseorang.


"Assalamu'alaikum, Nak bisa ke rumah ibu sekarang ada yg ingin ibu bicarakan dengan mu" ucap bu Khadijah lalu dia memutuskan telponnya setelah orang yg di seberang telpon mengiyakan permintaan nya.

__ADS_1


__ADS_2